Selasa, 26 November 2013

VIETNAM: ANTARA SCAM, BADAI DAN KENANGAN INDAH (2)

Hari berikutnya, kami harus bangun pukul 3 pagi karena pesawat Jetstar yang akan membawa kami ke Hanoi berangkat pukul 6 pagi. Dengan diantar airport shuttle dari hotel kami menuju Tan Son Nhat Domestic Airport. Proses check in agak tersendat gara-gara kami tidak paham dengan bahasa Inggris petugas Jetstar yang orang Vietnam. ‘Carry on bag’ diucapkan berkali-kali oleh petugas tapi saya menangkapnya sebagai ‘keylock bag’. Nah looo siapa yang salah ya, kuping saya atau dialek petugas tersebut J

            Penerbangan menuju Hanoi memakan waktu 2 jam 10 menit, pukul 8.15 pagi kami sudah mendarat di Noi Bai Airport Hanoi. Jemputan dari hotel sudah menunggu, dan kami langsung menuju hotel. Hotel Goldenland adalah hotel kecil yang terletak ditengah-tengah kawasan pusat turis Old Quarter.  Dengan ukuran sebesar ruko, agak surprise juga saya melihatnya. Lobby, pantry dan ruang makan berdesakan di lantai dasar. Hotel ini hanya memilik 10 kamar (seperti kos-kosan saja J). Manager hotel Danny Nguyen sangat ramah menyambut kami, dan mengajak ngobrol dalam bahasa Melayu patah-patah. Walaupun masih belum waktunya check in, rupanya salah satu kamar sudah siap dan kami diijinkan naik untuk menyimpan barang. Diluar dugaan, meskipun hotelnya kecil, ternyata kamarnya luas, bersih dan nyaman.

hotel seukuran ruko
tapi kamarnya luas dan cozy
Karena belum sarapan, kami keluar dan berjalan-jalan sembari mencari tempat untuk sarapan. Menurut informasi Agus,teman saya, di dekat hotel ada restoran cepat saji KFC, maka kamipun mencari tempat itu. Kawasan Old Quarter sangat ramai, dengan banyak jalan-jalan kecil dan sepeda motor yang hilir mudik. Di jalan-jalan kecil ini berjejer berbagai macam toko, mulai dari toko suvenir, toko pakaian, sepatu dan lain-lain. Han Gai, jalan yang terkenal dengan sebutan silk road karena dikanan-kirinya berjejer toko-toko yang menjual produk sutra Vietnam, terletak tak jauh dari hotel. Kawasan ini mengingatkan saya pada daerah Legian di Bali, hanya dalam versi yang lebih kuno dan sedikit kumuh.

Old Quarter
Old Quarter
Ternyata KFC berada di dekat Hoan Kiem Lake, danau kecil yang merupakan pusat turis yang berdampingan dengan Old Quarter.  Lagi-lagi saya mengagumi apa yang saya lihat di tepi danau ini, taman-taman yang asri, dengan pedestrian yang nyaman untuk berjalan-jalan dan kursi-kursi taman yang berjejer menghadap ke danau. So romantic! Danaunya pun dalam kondisi bersih, padahal banyaaak sekali orang yang lalu lalang di tempat ini. Hebat!

Saat sarapan, masuk sms dari Nungki, teman Duma yang mengatakan bahwa suaminya Michael sudah menuju hotel kami. Michael akan mengantarkan kami jalan-jalan keliling kota hari ini. Buru-buru kami menyelesaikan sarapan dan segera berjalan kembali ke hotel. Agak sungkan kalau kami sampai terlambat, soalnya bule kan terkenal on time.

Michael sudah menunggu ketika kami sampai di hotel. Mulanya kami mengira Michael membawa mobil untuk mengangkut kami, ternyata.. Michael datang dengan naik sepeda J Saking seriusnya dia mau jadi guide, dia sampai membaca buku Lonely Planet Vietnam sementara menunggu kami siap.

Temple of Literature

Tujuan pertama kami adalah Temple of Literature. Dari hotel, kami naik taksi kesana. Kuil yang merupakan universitas/tempat pendidikan tertua di Vietnam ini sudah sangat ramai dikunjungi turis, Selain itu, rupanya sedang ada acara wisuda sebuah sekolah di tempat ini, Mungkin karena kuil ini dulunya adalah universitas, maka acara wisuda diadakan disini. Yang laki-laki rapi dengan kemeja dan dasi, sementara yang perempuan tampak cantik dengan mengenakan aodai, pakaian tradisional Vietnam yang mirip cheongsam dengan belahan tinggi dan celana palazzo. Kami sempat ikutan berfoto dengan mereka. Bukan saja kami yang ingin difoto dengan mereka, tapi mereka juga ingin difoto dengan kami! Mungkin karena dress code kami hari ini kuning, kami jadi tampak mencolok, ditambah lagi kami semua berkerudung jadi kelihatan ‘unik’ dimata mereka. Kelak kami beberapa kali ditarik sana-sini untuk diajak foto bareng dengan warga lokal. Hohoho...serasa jadi artis :D

bareng cewek2 cantik
Cukup lama kami menghabiskan waktu disini, karena kami diajak Michael menelusuri setiap bangunan. Dia sendiri tampak antusias mengambil gambar disana-sini, ternyata ini kunjungan pertamanya juga ke Temple of Literature. Nampaknya Michael ingin menjelaskan berbagai hal (hasil belajarnya dari Lonely Planet J) tapi ibu-ibu rempong malah lebih asyik foto-foto daripada ingin mengetahui berbagai hal tentang tempat ini. Makanya saya akhirnya bertanya ini itu dan dijawab dengan cukup antusias olehnya.

Dari sini kami menuju kawasan Ba Dinh Square, disana terdapat Mausoleum Ho Chi Minh, museum dan One Pillar Pagoda. Michael mengajak kami berjalan kaki karena menurutnya tempat itu ‘dekat’ (sambil senyum-senyum). Ternyata oh ternyata, dekat definisi bule berbeda jauh dengan definisi ibu rempong. Menurut Michael jaraknya kurang lebih 5 km (entah benar entah tidak). Hampir satu jam kami berjalan karena berkali-kali istirahat, setiap kami berhenti, Michael dengan senyum jahilnya bertanya “Ada masalah ibu-ibuuu???”J.  Panas yang terik, ditambah capek sisa jalan kaki kemarin yang masih terasa membuat Mak Atun dan Mami ngambek. Akhirnya, hanya kurang dari 500 meter lagi dari tempat tujuan, Mak Atun dan Mami benar-benar mogok tidak mau melanjutkan perjalanan. Kamipun meninggalkan mereka duduk di bangku pinggir jalan dan terus berjalan menuju Mausoleum Ho Chi Minh.

Mausoleum Ho Chi Minh, bersama Michael
panas-panas pake kuning :)
Kami tidak masuk ke dalam, karena buat saya tidak terlalu istimewa. Saya pernah masuk mausoleum Mao Zedong di Beijing, antriannya panjang, pemeriksaannya ketat, tetapi didalam tidak sampai 2 menit karena hanya berjalan melewati jenazah sang pemimpin yang sudah dibalsem dan disimpan didalam ruangan kaca. Kalau berhenti untuk melihat lebih jelaspun hanya bisa beberapa detik saja karena antrian yang panjang. Jadi, kami hanya berfoto didepan gedungnya saja.

Ho Chi Minh Museum
One Pillar Pagoda
Kami lalu beranjak menuju Museum Ho Chi Minh. Sayang sekali hari sudah lewat pukul satu siang, sedangkan hari itu adalah hari Sabtu, museum hanya buka setengah hari. Jadi museum sudah tutup. Dari museum kami berjalan ke arah One Pillar Pagoda yang letaknya tak jauh. Hanya sebentar saja kami disini, setelah puas mengambil gambar, kami kembali ke tepi jalan tempat kami meninggalkan Mak Atun dan Mami.

gaya hompimpa Michael
Karena capek dan kelaparan, kami minta Michael mengantar kami ke restoran (kalau bisa halal) untuk makan siang. Menurut Michael, dia dan Nungki akan mentraktir kami makan siang di tempat yang istimewa, dan kami akan bertemu Nungki disana. Semula dia akan mengajak kami berjalan kaki lagi, tapi melihat wajah ibu-ibu rempong yang sudah berlelehan keringat rupanya dia ngga tega juga untuk lanjut mengerjai kami. Akhirnya dia menyetop taksi.

            Taksi membawa kami kesebuah apartemen di kawasan yang teduh dan asri. Agak heran, kami mengikuti Michael turun, Tidak ada tanda-tanda bahwa disitu ada restoran. Tapi kata Michael, ini adalah restoran istimewa dan dijamin 100 persen halal. Kami disuruh masuk lift duluan dan diinstruksikan untuk keluar di lantai 9. Ketika kami tiba di lantai 9, ternyata itu adalah apartemen seseorang dan suasananya tampak ramai. Nungki keluar dan menyambut kami. Surprise!!! Ternyata,  ini adalah apartemen salah seorang Indonesia yang bekerja di Hanoi, dan di dalam sudah ramai berkumpul beberapa keluarga Indonesia yang tinggal di Hanoi. Mereka khusus memasak untuk menyambut kedatangan kami. Waah, senang dan terharu rasanya kami disambut sedemikian rupa seperti tamu agung. Berbagai makanan mereka sediakan, mulai sejenis beef pho (namanya lupa) yang luar biasa segar dan lezat, sampai berbagai kudapan seperti gemblong, cheese cake, pumpkin pie, dan es lilin khas Hanoi. Alhamdulillah, makan siang kami terasa sangat nikmat dengan keramahan teman-teman baru ini. Menurut mereka, kedatangan orang-orang dari Indonesia membuat mereka sangat gembira seperti kedatangan saudara, karena di tanah rantau mereka jarang berinteraksi dengan teman sebangsa.

keramahan saudara2 sebangsa
            Tanpa terasa, hari sudah beranjak sore, karena kami keasyikan mengobrol dan bercerita. Kami harus permisi pulang karena sore ini saya masih punya janji ketemu dengan Agus. Dari apartemen, kami berjalan kaki menuju Hoan Kiem Lake. Kali ini tidak terlalu terasa lelah, karena selain matahari sudah tidak terik lagi, perutpun sudah mantap terisi makanan lezat. Betapa mudahnya mengembalikan semangat ibu-ibu rempong ini J

Le Thay To, Hoan Kiem Lake
together
            Di Hoan Kiem Lake, selain sempat foto-foto, kami mencoba naik eco car, mobil golf berkapasitas 7 orang yang berkeliling kawasan Old Quarter. Tarifnya 150.000 VND permobil untuk berkeliling selama 35 menit. Karena hotel kami juga di kawasan yang sama, setelah berkeliling kami minta diturunkan di jalan dekat hotel.

            Setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami kembali bersiap-siap. Saya sudah bbm an dengan Agus sebelumnya, dan kami janjian untuk bertemu di depan KFC dekat danau. Senang dan sedikit deg-degan (hahaha) karena akan bertemu teman lama. Seperti apa dia sekarang ya? 24 tahun sudah berlalu dari saat saya terakhir bertemu Agus. Walaupun kami sudah ketemu lagi lewat facebook sejak 4 tahun yang lalu, tapi kami jarang berinteraksi. Kalau dari foto-foto sih, secara fisik tidak terlalu banyak berubah, hanya bertambah tua saja J Apalagi waktu SMP-SMA pun kami tidak terlalu sering main bareng, karena dia adalah adik kelas saya. Hanya waktu saya kelas 3 SMP (Agus kelas 2) kami cukup sering berinteraksi, paling tidak kami selalu pulang sekolah bareng bersama 4 teman lain karena rumah kami berdekatan
.
saya dan Agus
           
raja minyak salah pilih dayang2 :D
 Agus sudah menunggu ketika kami sampai di depan KFC. Dia langsung mengenali kami, segerombolan ibu-ibu gendut berkerudung. Saya pun tak pangling karena memang dia tak banyak berubah. Kami ditraktir makan malam di Thai Express yang letaknya tak jauh dari KFC. Alhamdulillaaah, murah sekali rejeki kami hari ini, banyak yang mentraktir J Meskipun awalnya agak tersendat, obrolan pun mengalir lancar, mengenang masa lalu dan menceritakan kondisi saat ini. Ternyata, reputasi Agus dulu sebagai cowok idola (sudah pintar, cakep, baik hati pula) masih berlanjut sampai sekarang. Ibu-ibu rempong langsung jatuh hati, terutama Teh Elin, hehehe... Wah tak pernah saya kira bisa bertemu Agus lagi, di negara orang pula, setelah selama 24 tahun berpisah, tinggal di negara berbeda dan menjalani kehidupan yang berbeda pula. Kuasa Allah SWT lah yang membuat jalan kami bersimpang kali ini dan bisa bertemu. Kegembiraan hari ini, bertemu teman baru dan juga teman lama, melunturkan perasaan bete gara-gara scam tukang becak J

            Sesuai itinerary yang kami susun, hari berikutnya kami akan pergi ke Halong Bay untuk melihat salah satu UNESCO world heritage tersebut. One day tour telah dipesankan oleh Nungki dengan harga USD 20 perorang. Tengah malam, saya dibangunkan oleh bbm masuk, ternyata adik saya yang berkirim kabar bahwa topan Haiyan yang sebelumnya telah memporakporandakan Philipina tengah berjalan menuju Vietnam dan kawasan Vietnam tengah telah bersiap menghadapi badai dan sebagian penduduk telah dievakuasi . Meskipun masih berharap kawasan utara baik-baik saja (Halong Bay berada di kawasan utara Vietnam) tapi mulai terbersit rasa khawatir. Subuh, masuk lagi bbm adari Agus. Dia mendapat warning dari UN Officer Security untuk tidak bepergian selama 3 hari kedepan karena diperkirakan badai akan melewati Hanoi. Dia menyarankan agar rencana ke Halong Bay dibatalkan, karena hari itu diramalkan akan terjadi hujan deras. SMS dari Nungki tentang peringatan datangnya badai pun menambah kecemasan kami.

            Pagi itu memang hujan turun cukup deras. Dengan bantuan pihak hotel kami berusaha menghubungi tour agent yang akan membawa kami ke Halong Bay. Setelah berkali-kali mencoba barulah diperoleh kepastian bahwa tur dibatalkan. Ketika kami mencari alternatif tur lain seperti ke Tam Coc atau Perfume Pagoda, ternyata semua tur tidak ada yang diberangkatkan sampai hari selasa atau 3 hari kedepan. Wah apa boleh buat. Ternyata kami memang belum diijinkan untuk mengunjungi Halong Bay. Kecewa tentu, tapi daripada kena badai di tengah laut, lebih baik dibatalkan sebelum berangkat. Uang yang telah dibayarkan bisa dikembalikan 100 persen. Belakangan saya baru tahu kalau sering terjadi badai di Halong Bay, dan beberapa teman juga mengalami kejadian seperti saya, tidak dapat pergi kesana.

            Bingung juga mau kemana hari itu. Hujan turun cukup deras, hari itu pun hari minggu sehingga museum-museum yang belum sempat kami kunjungi seperti Museum Ho Chi Minh dan Hoa Lo Prison tutup. Agus dan Nungki yang dimintai pendapatpun bingung pergi kemana saat hujan seperti itu. Bosan mendekam di kamar hotel akhirnya kami berjalan-jalan di sekeliling Old Quarter sambil membawa payung tentunya. Teman-teman baru kami kemarin menunjukkan toko yang menjual tas merk Kipling (katanya sih original) murah, dan kesanalah kami menuju. Ternyata asyik juga disana, tidak hanya merk Kipling tapi juga merk lain seperti North Face dengan kualitas yang cukup bagus dan harga super miring. Berkisar 150.000 – 300.000 VND, tergantung model dan ukuran tas. Ibu-ibu rempong pun memborong gila-gilaan.

            Selain itu saya juga sempat keluar masuk toko souvenir dan silk di Han Gai. Beberapa barang berkualitas baik seperti lukisan benang, baju smock untuk anak-anak, dan benda-benda kerajinan lain seperti patung. Tapi untuk t shirt, meskipun murah semuanya berkualitas rendah. Bahannya kasar, tipis dan tidak elastis. Magnetpun tidak banyak macamnya. Jadi, untuk t shirt, magnet, topi lebih baik belanja di HCMC, jika ingin kualitas baik belilah di Central Post Office, kalau yang kualitas menengah di Ben Thanh Market. Sedangkan Hanoi adalah tempat untuk membeli silk, kain bordir dan benda-benda seni lain.

            Kami juga pergi ke mall megah yang baru dibuka di Hanoi, Vincom Mega Mall di Royal City. Berada di komplek apartemen dan mall mewah ini membuat kita tidak seperti sedang berada di negara komunis. Hanya sebentar saja kami disini, isinya toh sama saja dengan mall di Jakarta, malah mungkin lebih lengkap di Jakarta. Mau makanpun bingung memilih tempat. Akhirnya kami makan siang di tempat andalan kami, KFC di pinggir danau Hoan Kiem.

Vincom Megamall at Royal City
Royal City
            Setelah makan siang, kebetulan hujan mulai reda. Kami berjalan-jalan di sekitar Hoan Kiem Lake yang mulai ramai. Di tengah danau ada dua bangunan yang terletak di dua pulau kecil. Bangunan pertama adalah Turtle Tower. Saya kurang paham mengenai fungsi bangunan ini, tetapi mengkin merujuk kepada legenda Golden Turtle God yang berdiam di danau ini. Sedangkan bangunan kedua adalah Ngoc Son Temple, yang dihubungkan dengan daratan oleh sebuah jembatan berwarna merah. Karena bosan dengan kuil, kami hanya foto-foto di pintu masuk dan di jembatan saja.

Turtle Tower di Hoan Kiem Lake
Hoan Kiem Lake yang asri
Ngoc Son Temple dan the red bridge
           Di sore yang mendung ini, ternyata banyak juga turis dan warga lokal Vietnam yang bersantai di tepi danau. Bahkan masih ada yang melakukan pemotretan pre-wedding. Seperti halnya Notre Dame di HCMC, taman-taman di Hoan Kiem Lake juga menjadi tempat favorit untuk melakukan pemotretan pre wedding.

            Malam harinya, semula kami berencana ke rumah Nungki di kawasan West Lake, karena Nungki mengundang kami untuk memasak hot pot. Tapi rencana tersebut batal karena ternyata bahan makanan di supermarket sudah habis diborong warga lokal yang bersiap akan datangnya badai. Nungki dan Michael akhirnya mengajak kami makan bersama di Namaste, restoran India yang berada di kawasan Old Quarter juga.

            Tapi sebelumnya saya sudah sempat bbm an dengan Agus, dan dia bilang ternyata ada restoran halal di sekitar danau, namanya Little India. Selain makanan India, ada juga makanan melayu disana. Sebagai perantau, Agus tentu rindu pada makanan Indonesia, makanya setelah tahu kami batal ke rumah Nungki saya ajak Agus makan bareng di Little India. Jadi, Nungki dan Michaelpun membelokkan tujuan ikut kami ke Little India.

            Tanpa diduga, kami bertemu lagi dengan teman-teman baru keluarga Indonesia yang mentraktir kami makan kemarin siang di restoran ini. What a sweet surprise! Di malam terakhir kami di Vietnam, semua orang-orang baik yang kami temui disini berkumpul tanpa sengaja.  Suasana jadi meriah dan ramai dengan berbagai obrolan dan gelak tawa. Benar-benar kenangan indah. Sayang saya malah lupa tidak bawa kamera malam itu :(

            Satu insiden yang lucu dan sedikit memalukan terjadi di akhir acara. Siangnya saya berjanji  ibu-ibu rempong akan mentraktir Agus sebagai balasan atas kebaikannya mentraktir kami sebelumnya. Ketika akan membayar, Agus bersikeras ingin membayar sendiri pesanannya tetapi saya tolak. Tapi ternyata, ketika saya akan membayar dengan menggunakan credit card, pihak restoran menolak karena mereka hanya menerima pembayaran cash. Ooo... ternyata uang cash saya tidak cukup, akhirnya dengan sedikit menahan malu saya ‘menarik’ iuran dari teman-teman, termasuk dari Nungki dan Agus, hehehe... Kalau ingat insiden itu, sampai sekarang saya masih merasa geli...

Noi Bai Airport, saatnya pulang
Noi Bai Airport
            Tiba waktunya untuk pulang. Nungki dan Agus mengingatkan saya untuk menelepon Airasia mengenai kepastian skedul keberangkatan pesawat, mengingat badai yang masih melanda. Untunglah pesawat kami tidak dibatalkan, hanya mengalami keterlambatan selama 2 jam. Meskipun demikian cukup membuat waswas karena waktu transit di Kuala Lumpur jadi pas-pasan. Meskipun sempat bermasalah dengan bagasi yang tidak dilabeli security checked oleh petugas, tapi kami tidak sampai ketinggalan pesawat. Waktunya untuk saya juga berpisah dengan ibu-ibu rempong, karena saya melanjutkan penerbangan ke Surabaya, sedangkan yang lain menuju Jakarta.

            Banyak peristiwa yang terjadi selama 5 hari jalan-jalan dengan ibu rempong, tidak semuanya menyenangkan, tapi tetap terasa seru untuk dikenang. Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan, rejeki dan kesehatan untuk jalan-jalan bareng lagi ya ibu-ibuuuu J

1 komentar:

  1. Iyaaa insya Allah ada rejeki dan kesehatan kita jalan jalan lagi yaaaa....hehehe nice strory ... Dikau mengemasnya dengan lengkap ������

    BalasHapus