Selasa, 26 November 2013

SUMMER IN SEOUL: SHOP TILL YOU DROP (3)

Hari keempat di Seoul, pukul 7 pagi kami sudah siap di lobby hotel, bersama salah seorang teman suami saya. Hari ini kami akan mengikuti tur ke DMZ atau Demiliterized Zone, kawasan perbatasan Korea Selatan dengan Korea Utara. Harga tiket half day tour ke DMZ adalah 55.000 KRW/orang termasuk makan siang. Ada dua macam tur ke perbatasan negara ini, yaitu DMZ tour dan DMZ+Pamunjeon tour. DMZ hanya mengunjungi tempat-tempat umum di kawasan perbatasan, sedangkan tur kedua juga termasuk kunjungan ke Pamunjeon atau JSA (Joint Security Area), markas militer yang dipraksarsai UN, satu-satunya tempat dimana Korea Selatan dan Utara bisa berhubungan. Harga tur lebih mahal, sekitar 76.000 KRW/orang dan persyaratanpun lebih ketat, selain harus membawa paspor juga ada persyaratan dress code yang harus dipatuhi. Bahkan warga negara sipil Korea Selatan dilarang masuk ke tempat ini. Sebenarnya kami ingin juga ke Pamunjeon tetapi sayang sekali minggu itu tur ke Pamunjeon sudah fully booked.

pos penjagaan dan pagar berduri sepanjang sungai
            DMZ berjarak kurang lebih 50 km di utara kota Seoul, dan ditempuh selama kurang lebih 1 jam.  Disisi jalan mengalir sungai Imjin yang merupakan batas wilayah Korea Selatan dan Utara. Sungai ini dipagari kawat berduri dan setiap beberapa meter terdapat pos penjagaan. Sungai ini nampak sepi tanpa ada aktivitas, ternyata menurut tour guide kami, memang tidak boleh ada warga yang mendekat ke sungai tersebut. Jika ada yang nekat masuk sungai, akan langsung ditembak tanpa peringatan terlebih dulu. Seminggu setelah kami pulang dari Seoul saya membaca berita tentang seseorang yang berusaha menyeberangi sungai Imjin untuk masuk ke wilayah Korea Utara. Akhirnya orang tersebut mati ditembak oleh militer Korea Selatan yang menjaga kawasan tersebut.

Imjingak Park
            Perhentian pertama adalah Imjingak Park, tempat berkumpulnya orang-orang dari kedua Korea yang ingin saling bertemu. Karena perang, banyak keluarga yang terpisah tercerai berai. Selain sebuah taman dengan banyak monumen perang Korea, disini juga terdapat Bridge of Freedom yang melintasi sungai Imjin. Disini kami berganti bus khusus yang melayani tur ke DMZ.

Dorasan Station
jalur kenangan menuju  Pyongyang
            Selanjutnya kami berhenti di Dorasan Station, stasiun kereta yang terletak paling utara di Korea Selatan. Pada periode tahun 2007-2008 ada kereta dari Dorasan station menuju Pyong Yang di Korea Utara untuk membawa material industri. Saat ini, stasiun Dorasan hanya disinggahi kereta yang membawa turis dari Seoul. Di dalam stasiun yang sangat bersih ini ada toko souvenir yang menjual merchandise DMZ seperti t shirt, topi dan magnet.

Dorasan Observatory
            Dorasan Observatory adalah tempat perhentian selanjutnya dari tur ini. Dari tempat ini, jika cuaca sedang cerah, kita dapat mengamati (melalui teropong) kehidupan masyarakat Korea Utara yang tinggal di perbatasan. Kita juga dapat melihat patung-patung pemimpin Korea Utara Kim Il Sung yang merupakan bagian dari alat propaganda Korea Utara. Sayang sekali hari itu hujan sedang turun dan cuaca sedikit berkabut sehingga kami tidak dapat melihat dengan jelas.

DMZ
            Perhentian terakhir adalah highlight dari tur ini yaitu The 3rd Tunnel yang letaknya tak jauh dari Dorasan Observatory. The 3rd tunnel adalah sebuah terowongan yang digali oleh pihak Korea Utara yang maksudnya akan digunakan untuk infiltrasi saat perang. Terowongan ini ditemukan pada tahun 1978, merupakan terowongan ketiga dari empat terowongan yang berhasil ditemukan oleh pihak Korea Selatan. Namun demikian diyakini bahwa ada lebih dari 20 terowongan yang dibangun oleh Korea Utara. Panjang asli dari terowongan ini kurang lebih 1,7 km dengan tinggi dan lebar 2 meter. Untuk keperluan turisme, terowongan hanya dibuka sejauh hampir 400 meter, dan dipasangi tembok barikade. Di dalam terowongan yang menurun ke arah perut bumi ini kita tidak boleh mengambil foto. Lumayan melelahkan untuk menyusuri terowongan ini. Saat masuk saya harus mengontrol lutut karena jalan yang menurun curam, sedangkan saat keluar saya tersengal-sengal hampir kehabisan nafas karena harus jalan menanjak sejauh 400 meter.

The 3rd tunnel
pintu masuk the 3rd tunnel
            Hari sudah lewat tengah hari ketika minivan membawa kami kembali ke kota Seoul. Sebelum makan siang, kami dimampirkan dulu di sebuah tempat pengolahan ginseng. Seperti biasalah, kalau ikut tur pasti mampir di tempat-tempat seperti ini. Ketika di Thailand saya pernah dimampirkan di tempat pembuatan jewellery dan pengolahan madu. Makan siang menjadi penutup acara tur hari itu. Karena kami meminta tempat makan yang tidak menyajikan daging babi (selain kami bertiga ada dua orang Indonesia lain dan dua orang bule), kami dibawa ke sebuah depot makanan Korea dengan gambar sapi yang sangat besar dipintunya. Makanannya cukup lezat, berupa mie dengan kuah kaldu, daging sapi yang diiris tipis-tipis dengan sayuran dan jamur enoki. Namanya saya lupa, tapi ada unsur ‘tukul’ nya J Seperti biasa makanan ini dilengkapi kimchi.
mie lezat tapi tidak tahu namanya..
            Setelah berpisah dengan peserta tur lainnya, kami bertiga berjalan kaki menuju stasiun subway City Hall yang tak jauh dari depot. Ternyata Deoksugung  Palace terletak disebelah pintu masuk stasiun, dan saat itu kebetulan sudah dekat waktunya dengan upacara pergantian penjaga. Akhirnya kami masuk dulu ke istana ini. Tiket masuknya seharga 1000 KRW/orang. Istana Deoksugung diperuntukkan kepada permaisuri raja dan termasuk salah satu dari lima istana utama yang ada di kota Seoul. Taman-tamannya rapi dan indah dengan tanah seperti pasir putih menutupi jalan-jalan didalam halaman istana. Oh ya, istana-istana di Seoul dan Namsan hanok village tutup setiap hari selasa, sedangkan museum-museum tutup di hari senin.


Deoksugung Palace
   
Gedung bergaya barat di Deoksugung (art gallery)

    Hari kelima, adalah hari terakhir kami di Seoul. Karena suami saya hanya akan menghadiri seminar setengah hari, saya memutuskan untuk eksplor di sekitar hotel saja. Karena tidak membawa anak, tentu saja saya tidak masuk ke amusement park Lotte World (bisa-bisa saya mellow L). Jadi saya menjelajahi mall Lotte World yang terdiri dari 11 lantai (!) ini saja. Lotte World adalah mall kelas premium, dengan barang-barang branded yang harganya selangit. Tetapi di basement sedang ada sale, juga di beberapa lantai diatasnya. Walaupun berjanji tidak akan kalap, saya akhirnya tak berdaya ketika melihat pashmina lucu yang setelah diskon harganya masih 10.000 KRW. Selain itu sebuah hand bag merk Sisley berwarna kuning juga masuk ke kantong belanja saya.

Lantai 10 dan 11 adalah tempat Lotte duty free shop. Berbagai barang branded dijual dengan harga yang cukup miring. Tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah booth-booth kosmetik Korea. Segerombolan besar turis dari China menyerbu booth-booth tersebut dan memborong berbagai jenis barang seperti orang kalap. Saya lihat, kebanyakan dari mereka memborong masker wajah yang dikemas dalam plastik-plastik besar, mungkin isinya sekitar 10-20 pieces perbungkus. Sempat tergoda ingin membeli, tapi saya takut tidak cocok diwajah saya. Sejatinya saya memang tidak terlalu suka make up. Tetapi saya teringat tulisan Claudia Kaunang bahwa kosmetik adalah suvenir khas dari Korea, Jika bingung mau beli apa, belilah BB cream yang merupakan produk inovasi asli dari negeri ginseng ini. Akhirnya saya membeli beberapa buah BB cream, hand lotion dan lip balm dalam kemasan yang lucu-lucu sebagai oleh-oleh untuk keluarga.

Setelah gempor keliling mall, saya kembali masuk kamar menunggu suami pulang. Setelah makan siang (mie instant andalan masih ada J ) kami berangkat menuju tempat tujuan terakhir kami di Seoul, yaitu kawasan Gwanghwamun. Kami mengunjungi Gyeongbokgung Palace, istana utama tempat tinggal raja. Istana ini sangat luas dan dibelakang istana terdapat beberapa bangunan penting seperti Folklore Museum dan The Blue House, istana kepresidenan di masa sekarang. Sayang di beberapa tempat tamannya tampak kurang terawat. Terus terang sebenarnya saya kurang tertarik dengan istana-istana di negeri-negeri timur jauh ini, karena penampakannya sama saja. Tetapi karena menurut buku-buku panduan istana di Seoul itu adalah must visit place, maka saya luangkan waktu untuk mengunjunginya.

Gwanghwamun gate, Gyeongbokgung Palace
halaman dalam
Dari Gyeongbokgung Palace kami tinggal menyeberang jalan menuju Gwanghwamun Plaza. Ini adalah salah satu iconic place di Seoul, dengan patung King Seejong yang super besar ditengahnya. Selain itu ada pula patung besar Admiral Yi Sun Sin dari dinasti Joseon dikelilingi airmancur. Satu lagi tempat menarik di sekitar Gwanghwamun Plaza adalah Cheonggyecheon Stream, sebuah sungai kecil tempat duduk-duduk yang nyaman di tengah kebisingan kota. Sayang saya tidak mampir ke tempat itu karena kurang pasti dengan letaknya, tetapi setelah saya memperlihatkan foto-foto kepada salah seorang di komunitas Backpacker Dunia, saya baru ngeh bahwa salah satu monumen unik berwarna ungu yang saya foto di kawasan itu adalah bagian dari Cheonggyecheon Stream...

King Seejong
Admiral Yi Sun Shin di Gwanghwamun Plaza
ternyata disinilah letak Cheonggyecheon Stream

Keesokan harinya, pukul 5.30 kami sudah check out dan segera menuju Incheon Airport dengan menggunakan KAL airport limousine bus dari halte di depan hotel. Lalu lintas masih sangat lancar di pagi buta begini, sehingga kami tiba terlalu pagi di airport. Tetapi tidak apa, karena dengan demikian saya masih sempat berjalan-jalan berkeliling airport yang katanya terbaik di dunia ini, dan juga sempat mampir di duty free shop untuk belanja pernak pernik imut yang ngga penting J

Overall, Seoul adalah tempat yang menyenangkan, dan ada kemungkinan saya akan mengunjunginya lagi di lain kesempatan jika rejeki dan kesehatan masih memungkinkan. Tentunya dengan mengajak anak-anak dan mengunjungi tempat lain di luar kota Seoul seperti Seoraksan, Nami Island, Busan dan Jeju Island. Yang pasti, harus bawa banyak uang because Seoul is definitely a place to shop till you drop!

1 komentar:

  1. Shopping until me drop wow ke sana ga yaaa hahahaa kayaknya dari cerita pertama ampe ke 3 banyakan shoppingnya daripada vocation nya hihii�� Btw over all nice story �� tapi cerita tentang awal nya naik air line AA terus beralih ke GA kok ga di cerita in pdhal ampe masuk koran hihi

    BalasHapus