Hari keempat
di Seoul, pukul 7 pagi kami sudah siap di lobby hotel, bersama salah seorang
teman suami saya. Hari ini kami akan mengikuti tur ke DMZ atau Demiliterized
Zone, kawasan perbatasan Korea Selatan dengan Korea Utara. Harga tiket half day
tour ke DMZ adalah 55.000 KRW/orang termasuk makan siang. Ada dua macam tur ke
perbatasan negara ini, yaitu DMZ tour dan DMZ+Pamunjeon tour. DMZ hanya
mengunjungi tempat-tempat umum di kawasan perbatasan, sedangkan tur kedua juga
termasuk kunjungan ke Pamunjeon atau JSA (Joint Security Area), markas militer
yang dipraksarsai UN, satu-satunya tempat dimana Korea Selatan dan Utara bisa
berhubungan. Harga tur lebih mahal, sekitar 76.000 KRW/orang dan persyaratanpun
lebih ketat, selain harus membawa paspor juga ada persyaratan dress code yang
harus dipatuhi. Bahkan warga negara sipil Korea Selatan dilarang masuk ke
tempat ini. Sebenarnya kami ingin juga ke Pamunjeon tetapi sayang sekali minggu
itu tur ke Pamunjeon sudah fully booked.
 |
| pos penjagaan dan pagar berduri sepanjang sungai |
DMZ berjarak kurang lebih 50 km di
utara kota Seoul, dan ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Disisi jalan mengalir sungai Imjin yang
merupakan batas wilayah Korea Selatan dan Utara. Sungai ini dipagari kawat
berduri dan setiap beberapa meter terdapat pos penjagaan. Sungai ini nampak
sepi tanpa ada aktivitas, ternyata menurut tour guide kami, memang tidak boleh
ada warga yang mendekat ke sungai tersebut. Jika ada yang nekat masuk sungai,
akan langsung ditembak tanpa peringatan terlebih dulu. Seminggu setelah kami
pulang dari Seoul saya membaca berita tentang seseorang yang berusaha
menyeberangi sungai Imjin untuk masuk ke wilayah Korea Utara. Akhirnya orang
tersebut mati ditembak oleh militer Korea Selatan yang menjaga kawasan
tersebut.
 |
| Imjingak Park |
Perhentian pertama adalah Imjingak
Park, tempat berkumpulnya orang-orang dari kedua Korea yang ingin saling
bertemu. Karena perang, banyak keluarga yang terpisah tercerai berai. Selain
sebuah taman dengan banyak monumen perang Korea, disini juga terdapat Bridge of
Freedom yang melintasi sungai Imjin. Disini kami berganti bus khusus yang
melayani tur ke DMZ.
 |
| Dorasan Station |
 |
| jalur kenangan menuju Pyongyang |
Selanjutnya kami berhenti di Dorasan
Station, stasiun kereta yang terletak paling utara di Korea Selatan. Pada
periode tahun 2007-2008 ada kereta dari Dorasan station menuju Pyong Yang di
Korea Utara untuk membawa material industri. Saat ini, stasiun Dorasan hanya
disinggahi kereta yang membawa turis dari Seoul. Di dalam stasiun yang sangat
bersih ini ada toko souvenir yang menjual merchandise DMZ seperti t shirt, topi
dan magnet.
 |
| Dorasan Observatory |
Dorasan Observatory adalah tempat
perhentian selanjutnya dari tur ini. Dari tempat ini, jika cuaca sedang cerah,
kita dapat mengamati (melalui teropong) kehidupan masyarakat Korea Utara yang
tinggal di perbatasan. Kita juga dapat melihat patung-patung pemimpin Korea
Utara Kim Il Sung yang merupakan bagian dari alat propaganda Korea Utara.
Sayang sekali hari itu hujan sedang turun dan cuaca sedikit berkabut sehingga
kami tidak dapat melihat dengan jelas.
 |
| DMZ |
Perhentian terakhir adalah highlight
dari tur ini yaitu The 3rd Tunnel yang letaknya tak jauh dari Dorasan
Observatory. The 3rd tunnel adalah sebuah terowongan yang digali oleh pihak
Korea Utara yang maksudnya akan digunakan untuk infiltrasi saat perang.
Terowongan ini ditemukan pada tahun 1978, merupakan terowongan ketiga dari
empat terowongan yang berhasil ditemukan oleh pihak Korea Selatan. Namun
demikian diyakini bahwa ada lebih dari 20 terowongan yang dibangun oleh Korea
Utara. Panjang asli dari terowongan ini kurang lebih 1,7 km dengan tinggi dan
lebar 2 meter. Untuk keperluan turisme, terowongan hanya dibuka sejauh hampir
400 meter, dan dipasangi tembok barikade. Di dalam terowongan yang menurun ke
arah perut bumi ini kita tidak boleh mengambil foto. Lumayan melelahkan untuk
menyusuri terowongan ini. Saat masuk saya harus mengontrol lutut karena jalan
yang menurun curam, sedangkan saat keluar saya tersengal-sengal hampir
kehabisan nafas karena harus jalan menanjak sejauh 400 meter.
 |
| The 3rd tunnel |
 |
| pintu masuk the 3rd tunnel |
Hari sudah lewat tengah hari ketika
minivan membawa kami kembali ke kota Seoul. Sebelum makan siang, kami
dimampirkan dulu di sebuah tempat pengolahan ginseng. Seperti biasalah, kalau
ikut tur pasti mampir di tempat-tempat seperti ini. Ketika di Thailand saya
pernah dimampirkan di tempat pembuatan jewellery dan pengolahan madu. Makan
siang menjadi penutup acara tur hari itu. Karena kami meminta tempat makan yang
tidak menyajikan daging babi (selain kami bertiga ada dua orang Indonesia lain
dan dua orang bule), kami dibawa ke sebuah depot makanan Korea dengan gambar
sapi yang sangat besar dipintunya. Makanannya cukup lezat, berupa mie dengan
kuah kaldu, daging sapi yang diiris tipis-tipis dengan sayuran dan jamur enoki.
Namanya saya lupa, tapi ada unsur ‘tukul’ nya J Seperti biasa makanan ini dilengkapi
kimchi.
 |
| mie lezat tapi tidak tahu namanya.. |
Setelah berpisah dengan peserta tur
lainnya, kami bertiga berjalan kaki menuju stasiun subway City Hall yang tak jauh
dari depot. Ternyata Deoksugung Palace terletak
disebelah pintu masuk stasiun, dan saat itu kebetulan sudah dekat waktunya dengan
upacara pergantian penjaga. Akhirnya kami masuk dulu ke istana ini. Tiket
masuknya seharga 1000 KRW/orang. Istana Deoksugung diperuntukkan kepada
permaisuri raja dan termasuk salah satu dari lima istana utama yang ada di kota
Seoul. Taman-tamannya rapi dan indah dengan tanah seperti pasir putih menutupi
jalan-jalan didalam halaman istana. Oh ya, istana-istana di Seoul dan Namsan
hanok village tutup setiap hari selasa, sedangkan museum-museum tutup di hari
senin.
 |
| Deoksugung Palace |
 |
| Gedung bergaya barat di Deoksugung (art gallery) |
Hari kelima, adalah hari terakhir
kami di Seoul. Karena suami saya hanya akan menghadiri seminar setengah hari,
saya memutuskan untuk eksplor di sekitar hotel saja. Karena tidak membawa anak,
tentu saja saya tidak masuk ke amusement park Lotte World (bisa-bisa saya
mellow L). Jadi saya menjelajahi mall Lotte
World yang terdiri dari 11 lantai (!) ini saja. Lotte World adalah mall kelas
premium, dengan barang-barang branded yang harganya selangit. Tetapi di
basement sedang ada sale, juga di beberapa lantai diatasnya. Walaupun berjanji
tidak akan kalap, saya akhirnya tak berdaya ketika melihat pashmina lucu yang
setelah diskon harganya masih 10.000 KRW. Selain itu sebuah hand bag merk
Sisley berwarna kuning juga masuk ke kantong belanja saya.
Lantai 10 dan 11 adalah tempat Lotte duty free shop. Berbagai barang
branded dijual dengan harga yang cukup miring. Tetapi yang paling menarik
perhatian saya adalah booth-booth kosmetik Korea. Segerombolan besar turis dari
China menyerbu booth-booth tersebut dan memborong berbagai jenis barang seperti
orang kalap. Saya lihat, kebanyakan dari mereka memborong masker wajah yang
dikemas dalam plastik-plastik besar, mungkin isinya sekitar 10-20 pieces
perbungkus. Sempat tergoda ingin membeli, tapi saya takut tidak cocok diwajah
saya. Sejatinya saya memang tidak terlalu suka make up. Tetapi saya teringat
tulisan Claudia Kaunang bahwa kosmetik adalah suvenir khas dari Korea, Jika
bingung mau beli apa, belilah BB cream yang merupakan produk inovasi asli dari
negeri ginseng ini. Akhirnya saya membeli beberapa buah BB cream, hand lotion
dan lip balm dalam kemasan yang lucu-lucu sebagai oleh-oleh untuk keluarga.
Setelah gempor keliling mall, saya kembali masuk kamar menunggu suami
pulang. Setelah makan siang (mie instant andalan masih ada J ) kami berangkat menuju tempat
tujuan terakhir kami di Seoul, yaitu kawasan Gwanghwamun. Kami mengunjungi
Gyeongbokgung Palace, istana utama tempat tinggal raja. Istana ini sangat luas
dan dibelakang istana terdapat beberapa bangunan penting seperti Folklore
Museum dan The Blue House, istana kepresidenan di masa sekarang. Sayang di
beberapa tempat tamannya tampak kurang terawat. Terus terang sebenarnya saya
kurang tertarik dengan istana-istana di negeri-negeri timur jauh ini, karena
penampakannya sama saja. Tetapi karena menurut buku-buku panduan istana di
Seoul itu adalah must visit place, maka saya luangkan waktu untuk
mengunjunginya.
 |
| Gwanghwamun gate, Gyeongbokgung Palace |
 |
| halaman dalam |
Dari Gyeongbokgung Palace kami tinggal menyeberang jalan menuju
Gwanghwamun Plaza. Ini adalah salah satu iconic place di Seoul, dengan patung
King Seejong yang super besar ditengahnya. Selain itu ada pula patung besar
Admiral Yi Sun Sin dari dinasti Joseon dikelilingi airmancur. Satu lagi tempat
menarik di sekitar Gwanghwamun Plaza adalah Cheonggyecheon Stream, sebuah
sungai kecil tempat duduk-duduk yang nyaman di tengah kebisingan kota. Sayang
saya tidak mampir ke tempat itu karena kurang pasti dengan letaknya, tetapi
setelah saya memperlihatkan foto-foto kepada salah seorang di komunitas
Backpacker Dunia, saya baru ngeh bahwa salah satu monumen unik berwarna ungu
yang saya foto di kawasan itu adalah bagian dari Cheonggyecheon Stream...
 |
| King Seejong |
 |
| Admiral Yi Sun Shin di Gwanghwamun Plaza |
 |
| ternyata disinilah letak Cheonggyecheon Stream |
Keesokan harinya, pukul 5.30 kami sudah check out dan segera menuju
Incheon Airport dengan menggunakan KAL airport limousine bus dari halte di
depan hotel. Lalu lintas masih sangat lancar di pagi buta begini, sehingga kami
tiba terlalu pagi di airport. Tetapi tidak apa, karena dengan demikian saya
masih sempat berjalan-jalan berkeliling airport yang katanya terbaik di dunia
ini, dan juga sempat mampir di duty free shop untuk belanja pernak pernik imut
yang ngga penting J
Overall, Seoul adalah tempat yang menyenangkan, dan ada kemungkinan saya
akan mengunjunginya lagi di lain kesempatan jika rejeki dan kesehatan masih
memungkinkan. Tentunya dengan mengajak anak-anak dan mengunjungi tempat lain di
luar kota Seoul seperti Seoraksan, Nami Island, Busan dan Jeju Island. Yang
pasti, harus bawa banyak uang because Seoul is definitely a place to shop till
you drop!
Shopping until me drop wow ke sana ga yaaa hahahaa kayaknya dari cerita pertama ampe ke 3 banyakan shoppingnya daripada vocation nya hihii�� Btw over all nice story �� tapi cerita tentang awal nya naik air line AA terus beralih ke GA kok ga di cerita in pdhal ampe masuk koran hihi
BalasHapus