Hari
keempat di Inggris, kerinduan akan makanan Indonesia terasa semakin kuat.
Memang setiap hari kami makan nasi, yang dibeli di halal chinese food stall
atau halal american fried chicken dekat hotel. Tapi membayangkan bakso atau
nasi pecel sungguh membuat air liur nyaris jatuh.
![]() |
| American Fried Chicken halal di Leicester Square |
Di hari kedua saya menemukan sebuah
‘warung’ makanan Indonesia di pojokan lantai 2 sebuah supermarket Cina di
Charing Cross Road.Suasana Indonesianya sangat menenangkan, pemilik dan tamunya
orang Indonesia juga. Tapi sayang rasa makanannya kurang pas dilidah saya.
Bakso dan mienya keras, dan kuahnya tidak panas. Harga perporsinya 4,5 pounds
(Rp 67.500). Standar untuk ukuran London, tapi bikin kurus kantong orang
Indonesia (apalagi kalau dibandingkan dengan bakso di tanah air yang harganya
hanya Rp 5000-Rp 7000 saja).
Di hari keempat, sepulang dari
British Museum saya teringat sebuah restoran Indonesia yang saya temukan di
internet saat saya browsing mencari restoran halal di London. Namanya Bali Bali
dan letaknya di Shaftesbury Ave, tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami
menginap di kawasan West End. Kalau lihat di peta, letaknya juga cukup dekat
dengan stasiun tube Tottenham Court Road, stasiun terdekat dari British Museum.
Maka kamipun memutuskan untuk makan siang disana. “Sekali-sekali makan makanan
yang layak, jangan ala backpacker terus”, kata suami saya.
Setelah sedikit tersesat dan jalan
kaki yang ternyata lumayan jauh, sampailah kami di Bali Bali. Restorannya tidak
terlalu besar dengan suasana Indonesia yang terasa berkat pajangan kipas Bali,
patung Roro Blonyo dan ukiran-ukiran dari berbagai daerah di Indonesia.
Restoran sudah setengah penuh dan Cuma kami yang berwajah Melayu, lainnya
adalah bule-bule.
![]() |
| Bali Bali @ Shaftesbury Ave |
Saat melihat daftar menu, saya agak
tersedak melihat harganya. 3 pounds untuk seporsi nasi putih, 4 pounds untuk
semangkuk kecil sup daging, 8 pounds untuk seporsi tahu telor. “Sudah jangan di
kurs, nanti kamu ngga bisa makan”, kata suami saya sambil meringis. Akhirnya
kami pesan nasi putih, nasi goreng, tahu telor, gado-gado, ayam goreng merah
dan kerupuk. Total 75 pounds (Rp 1.125.000). Wow. “Tahu telor termahal di
dunia”, komentar anak sulung saya J
| sebelah kiri adalah tahu telor termahal didunia |
Untunglah rasanya cukup lezat dan
mirip dengan di Indonesia. Porsinya pun ternyata cukup besar sehingga tidak
bisa dihabiskan saat itu. Untungnya lagi, semua pelayan di restoran tersebut
adalah orang Indonesia sehingga saya tidak malu-malu untuk minta mereka
membungkuskan makanan sisa, termasuk nasi putih dan kerupuknya J
Lumayan bisa untuk makan malam :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar