Senin, 25 November 2013

SUMMER IN SEOUL: SHOP TILL YOU DROP (1)

Bulan September 2013 yang lalu, saya berkesempatan menemani suami yang mengikuti kongres WFNS (World Federation of Neuro Surgeons) di Seoul South Korea. Karena keterbatasan dana ( J ) kami hanya berangkat berdua tanpa anak-anak.  Apalagi saat itu bukan masa libur sekolah.

            Karena baru mendaftar pada saat-saat terakhir, kami tidak bisa mendapatkan kamar di hotel-hotel sekitar venue (COEX) di kawasan Gangnam. Akhirnya kami memesan kamar di Lotte World Hotel di kawasan Jamsil yang letaknya tidak terlalu jauh dari Gangnam.  Lotte World Hotel adalah bagian dari semacam resort yang terdiri dari hotel, pusat perbelanjaan dan amusement park Lotte World.
Pengurusan visa pun tidak sempat kami lakukan sendiri di Jakarta, melainkan melalui travel agent di Malang. Biaya pengurusan visa Rp 495.000/orang dan selesai dalam waktu 1 minggu.

            Pesawat Garuda Indonesia yang membawa kami mendarat di Incheon Airport pada pukul 7 pagi, setelah terbang selama 7 jam dari Jakarta. Dari Incheon Airport kami naik KAL Airport Limousine Bus no 6705 yang berhenti tepat di depan Lotte World Hotel. Harga tiketnya KRW 16.000. Perjalanan menempuh waktu kurang lebih 1 jam, kondisi jalan sedikit padat.

WFNS  @ Coex
            Setelah menitipkan barang di concierge, mandi koboy dan ganti baju di toilet hotel, kami menuju COEX, venue kongres WFNS. Dari hotel kami berjalan ke arah Lotte department store yang terletak di sebelah hotel, lalu turun ke lantai basementnya yang berhubungan langsung dengan stasiun subway Jamsil. Dari Jamsil kami naik subway Line 2 (green) dan turun di stasiun Samseong, yang juga berhubungan langsung dengan basement COEX mall. Setelah melakukan registrasi, kami berkeliling di COEX mall untuk mencari tempat makan siang-tetapi akhirnya, karena ragu2 kami tidak jadi makan disitu. Kami kembali ke hotel untuk check in, makan siang dengan bekal mie instant yang kami bawa dari rumah, lalu beristirahat sejenak. Sore harinya kami bersiap untuk menghadiri welcome dinner di COEX.

            Keesokan harinya, karena suami saya akan menghabiskan waktu seharian penuh di venue kongres, sayapun berencana untuk exploring Seoul sendirian. Tujuan pertama saya adalah Insa-dong, pedestrian street yang menjual pernak pernik dan handicraft khas Korea. Dari Jamsil saya naik subway line 2 menuju stasiun Euljiro 3-ga, lalu berganti line 3 dan turun di  stasiun Anguk. Dari stasiun Anguk tinggal berjalan kaki kurang lebih 100 m, sampailah saya di kawasan Insa-dong.

mulut jalan Insa-dong, masih sepi
souvenir dan handicraft
Ssamsie-gil

            Jam baru saja menunjukkan pukul 10 pagi, jadi toko-toko pun belum semua buka. Jalan selebar kurang lebih 6 meter ini hanya diperuntukkan untuk pejalan kaki, jadi sangatlah menyenangkan berjalan santai disepanjang jalan ini sembari sekali-sekali berhenti untuk melihat-lihat berbagai handicraft dan souvenir khas negeri ginseng. Berbagai barang dengan kualitas yang cukup baik dijual disini, mulai dari kaos, gantungan kunci, magnet, dompet, sampai lukisan, kipas dan topeng kayu. Ada juga penjual manisan yang terbuat dari madu dan tepung jagung. Selain toko-toko kecil, ada sebuah mall kecil dan terbuka yang menjual berbagai barang unik produksi Korea, namanya Ssamsie-gil. Lebih dari 2 jam saya habiskan untuk melihat-lihat dan berbelanja disini. Tak puas-puasnya mata saya mengagumi berbagai pernik lucu made in Korea ini. Perut yang mulai lapar pun cukup diganjal dengan roti yang dibeli di Seven Eleven.

suasana Namdaemun Market
            Dari Insa-dong, saya beranjak menuju kawasan Namdaemun Market. Hari ini memang saya dedikasikan untuk shopping dan cuci mata, makanya tujuan hari ini adalah tempat-tempat untuk menghamburkan uang J Saya kembali ke stasiun Anguk dan naik subway ke Chungmuro untuk berganti ke line 4 dan turun di Hoehyeong Station. Keluar dari exit 5 saya langsung berhadapan dengan keramaian pasar. Jika Insa-dong adalah kawasan pasar seni yang berkelas, Namdaemun adalah pasar rakyat. Laiknya pasar, segala macam barang dijual disini, mulai dari sayuran, buah-buahan, pakaian, sepatu, aksesoris dan juga suvenir. Banyak buku panduan menyarankan untuk membeli oleh-oleh disini karena lebih murah dibanding Insa-dong, tetapi saya sendiri lebih suka berbelanja di Insa-dong, hargapun menurut saya tidak terlalu jauh berbeda. Disini saya lebih tertarik pada aksesoris yang lucu-lucu seperti bros, bando, kalung, gelang dan lain-lain. Saya memborong berbagai aksesoris bertema Princess dan Hello Kitty untuk gadis kecil saya dirumah.

            Puas mengelilingi Namdaemun, saya berjalan kaki menuju kawasan Myeong-dong. Sempat sedikit nyasar, tapi akhirnya saya bisa kembali ke jalan yang benar J Kawasan Myeong-dong adalah kawasan perbelanjaan menengah keatas, dengan berbagai mall dan department store mewah seperti Shinsegae, Lotte dan Migliore.

toko kosmetik di Myeong-dong
Selain itu, di sepanjang jalan-jalannya banyak bertebaran toko-toko kosmetik made in Korea seperti Etude, Tony Moly, Missha, Face Shop, Inisfree dan lain-lain. Korea memang terkenal dengan brand-brand kosmetiknya selain klinik-klinik operasi plastik untuk mengubah wajah. Nampaknya orang Korea memang kecanduan untuk mempermak wajah. Banyak orang Korea yang saya jumpai baik laki-laki atau perempuan memiliki kulit putih yang halus terawat, dengan hidung runcing sempurna, entahlah mana yang asli mana yang buatan! Mereka juga sangat modis, tetapi menurut saya pakaian mereka lebih wearable dibandingkan orang-orang China atau Hongkong yang pakaiannya lebih bling-bling, dengan potongan yang seringkali aneh. Saya perhatikan mereka juga lebih suka memakai sepatu bersol datar baik itu sepatu keds maupun flat shoes, termasuk karyawati kantorannya. Jarang yang memakai high heels, paling2 medium heels atau kitten heels. Oh ya kembali ke toko-toko kosmetik, jangan pernah menjadikan toko2 ini sebagai patokan jalan! Satu merk kosmetik saja bisa memiliki beberapa toko di satu kawasan, boleh dibilang ada di setiap gang, dijamin bingung kalau memakai toko kosmetik sebagai patokan jalan!

            Di kawasan Myeong-dong juga terdapat gedung theater, gereja bergaya gothic dan teater pertunjukan Cookin’ Nanta Show yang banyak dikunjungi wisatawan. Sangat menyenangkan duduk-duduk di depan gedung theater saat melepas lelah, sambil memperhatikan orang-orang Korea yang modis lalu lalang.
tourist information booth 
petugas siap membantu
            Sempat bingung untuk mencari jalan ke arah stasiun subway, saya akhirnya bertanya pada petugas tourist information. Oh ya, Seoul termasuk kota yang ramah untuk turis. Meskipun mereka menggunakan aksara Hangeul, untuk informasi di tempat-tempat umum selalu ada keterangan dalam bahasa Inggris. Booth-booth tourist information banyak dijumpai di tempat-tempat strategis, dengan petugas ramah dan bisa berbahasa Inggris dengan baik. Selain itu, di tempat-tempat yang ramai turis, petugas dari tourist information ini berjalan berkeliling sepasang-sepasang, siap membantu siapapun yang kebingungan. Mereka memakai pakaian dan topi berwarna merah sehingga mencolok dan mudah dikenali. Selain bertanya, kita juga bisa meminta peta kota, gratis dari mereka.

Hello Kitty Cafe Sinchon
iced caffee latte
            Hari sudah menjelang sore, tapi saya masih ingin mencari lokasi Hello Kitty Cafe. Meskipun bukan fans berat kucing lucu itu, tapi saya penasaran ingin mencoba makanan dan minuman di kafe tersebut yang katanya lucu-lucu dan berbentuk si Kitty. Dari berbagai informasi di internet saya membaca bahwa kafe tersebut bisa dicapai dari 2 stasiun subway line 2 yaitu Sinchon dan Hongik University yang memang letaknya berurutan. Dari Myeong-dong saya berjalan menuju stasiun Euljiro 1-ga (line 2) lalu turun di stasiun Sinchon. Mengikuti petunjuk, saya berjalan kurang lebih 500 m dan menemukan Hello Kitty Cafe di sebuah jalan kecil. Tapi saya sangsi karena eksteriornya berbeda dengan foto-foto yang saya lihat di internet. Penasaran, sayapun masuk. Ternyata kafenya kecil, walaupun interiornya serba Hello Kitty tapi berbeda dengan foto-foto yang saya lihat. Tetapi saya tetap duduk dan memesan segelas iced caffee latte. Rasanya tidak istimewa, terlalu creamy, tapi memang lucu dengan lukisan Hello Kitty difoamnya.
Hello Kitty Cafe Hongik University
tiramisu dan green tea latte
            Karena masih penasaran dengan kafe yang saya lihat di internet, saya kembali naik subway dan turun di Hongik University. Kali ini saya sempat kesasar dan berputar-putar selama hampir setengah jam (maklum saya tidak ahli membaca peta). Kawasan ini memang ramai, banyak dipenuhi anak-anak muda karena banyak toko-toko fashion indie. Setelah lagi-lagi bertanya pada petugas tourist information, akhirnya sampai juga saya di Hello Kitty Cafe yang gambarnya sering saya lihat di internet. Kafe ini lebih besar dari yang pertama, lebih ramai dan pernik-perniknya lebih banyak (sayang ngga ada fridge magnet). Interiornya serba Hello Kitty sampai ke toiletnya. Disini saya duduk agak lama untuk melepas lelah sambil menikmati tiramisu dan green tea latte.

toilet imut di Hello Kitty Cafe
interior serba pink dan Hello Kitty
            Kembali ke hotel, ternyata suami saya sudah tiba lebih dulu. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami kembali melangkahkan kaki untuk menikmati kota Seoul di waktu malam. Tujuan kami adalah Itaewon, yang dikenal sebagai international district nya Seoul. Selain tempat belanja, Itaewon dikenal sebagai tempat ekspatriat Seoul berkumpul, karena banyak restoran yang menawarkan berbagai makanan dari berbagai penjuru dunia. Satu-satunya mesjid di Seoul pun berlokasi disini, berikut berbagai restoran halal disekitar mesjid.

            Dari Jamsil kami naik subway sampai stasiun Sindang lalu berganti line 6 dan turun di Itaewon. Lokasi mesjid agak jauh masuk kedalam, dengan jalan yang menanjak. Di kanan-kiri jalan berjejer berbagai toko muslim, mulai dari restoran, bakery, supermarket bahkan sampai laundry. Sayang suami saya enggan diajak berjalan sampai ke mesjid karena hari memang sudah gelap dan kondisi jalan cukup sepi. Padahal hanya tinggal beberapa ratus meter saja..

Bibimbap di restoran Muree
            Kami masuk ke salah satu restoran kecil yang bernama Muree (tapi harganya ternyata tidak mureeh J) karena selain makanan India mereka juga menawarkan makanan Korea halal. Kesempatan baik untuk mencoba makanan khas Korea tanpa waswas. Saya memesan seporsi bibimbap (nasi rames ala Korea) seharga 8000 KRW. Ternyata rasanya cukup lezat dan sedikit spicy, ditemani dengan kimchi, acar Korea yang terbuat dari sawi yang difermentasi dan tofu.

            Setelah makan kami langsung kembali ke hotel karena hari sudah malam. Karena lelah, kami memilih menumpang taksi saja. Supir taksinya sangat ramah, walaupun tidak bisa berbahasa Inggris dia sangat ingin berkomunikasi dengan kami. Akhirnya kami mengobrol dengan bantuan translator di hp android miliknya J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar