Seperti
halnya Paris, kota London memiliki magnetnya sendiri. Sebagai ibukota kerajaan
Inggris, negara monarki yang paling terkenal di dunia, pasti banyak orang yang
ingin mengunjunginya. Kisah-kisah royal family yang bak dalam dongeng 1001
malam, istana-istana dan bangunan-bangunan milik kerajaan yang seperti gambar
di buku cerita ikut mengundang rasa ingin tahu orang tentang kota ini. Itulah
sebabnya kepergian saya dan keluarga ke Inggris dalam rangka liburan mengundang
komentar iri dan ingin dari teman, keluarga dan kerabat J
Setelah menempuh perjalanan selama
27 jam dari Malang (Malang-Surabaya-Jakarta-Abu Dhabi-London) akhirnya
sampailah kami di Heathrow, airport terbesar di Inggris Raya. Alhamdulillah Natassja,
putri saya yang berusia hampir 3 tahun pun tampak segar dan bersemangat, tidak
terlihat tanda-tanda kelelahan walaupun barusaja melalui perjalanan panjang.
Kami tiba di London pukul 7.20 pagi, lalu menunggu waktu off peak pukul 9.00
supaya tiket transportasi menuju ke kota London lebih murah.
| welcome to London |
Dari Heathrow, kami menuju ke hotel
di kawasan Leicester Square, West End dengan menggunakan subway, yang di London
dikenal dengan sebutan underground atau tube. Dengan tube jalur Picadilly line,
butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai ke stasiun Leicester Square yang
terletak di jalur yang sama. Sebelumnya kami membeli kartu transportasi yang
bernama Oyster Card. Harga deposit adalah 5 pounds, dan diisi (top up) sesuai
keinginan. Kartu ini dapat digunakan untuk naik berbagai transportasi publik di
kota London seperti tube, bus, DLR dan ferry.
Mengenai underground sendiri, ini adalah transportasi bawah
tanah tertua di dunia, pertama kali beroperasi tahun 1863. Tahun ini
underground merayakan ulang tahunnya yang ke 150. Sementara London sudah
ratusan tahun menikmati kemudahan transportasi bawah tanah, Jakarta masih
berkutat dengan masalah kemacetan lalu lintas yang seolah tak ada habisnya.
Mudah-mudahan tahun 2016 subway Jakarta dapat benar-benar beroperasi dan dapat
mengurangi secara signifikan kemacetan di ibukota. Amiin... J
| Premier Inn (bangunan putih) hotel kami di kawasan Leicester Square |
| Leicester Square. Dibelakang adalah Odeon Theatre, tempat premier film Ironman 3 |
Hotel kami berada tepat di hadapan taman kecil Leicester
Square. Sekeliling taman ini adalah pedestrian, dimana kendaraan tidak dapat
masuk ke area ini. Leicester Square adalah salah satu entertainment centre di
kota London, dimana banyak terdapat tempat hiburan seperti bioskop, teater dan
amusement park Trocadero. Bioskop besar di Inggris, Odeon, terletak tepat di
depan hotel diseberang taman, tempat diadakannya world premiere film Ironman 3
yang dihadiri oleh Robert Downey Jr, bintang utamanya. Sayang sekali saya tidak
dapat mengabadikan sang bintang, karena penuh sesaknya tempat tersebut.
Selain itu, Leicester Square sangat strategis. Banyak
tempat-tempat wisata London yang berjarak dekat, hanya 1-2 km saja. Mulai dari
Picadilly Circus yang jaraknya hanya 50 meter saja, juga Trafalgar Square, St
James Park, dan Covent Garden. Chinatown terletak di belakang hotel saya.
Toko-toko suvenir bertebaran di sekeliling hotel. Selain itu, yang membuat saya
senang, cukup banyak restoran dengan label halal di sekitar sini, mulai dari
yang menawarkan kebab, american fried chicken, sampai restoran cina, malaysia
dan indonesia!
Sesampainya di hotel, kami menitipkan barang pada concierge
karena belum bisa check in. Karena masih lama, kamipun keluar hotel untuk
berjalan-jalan. Tujuan kami adalah Covent Garden. Kawasan tempat belanja yang
terkenal dan banyak dikunjungi turis ini hanya berjarak 300 meter dari hotel.
Kami cukup berjalan kaki saja ke tempat ini.
| Covent Garden |
| pagi hari di Covent Garden |
| The red telephone box |
Covent Garden adalah sebuah kawasan luas yang dipenuhi
toko-toko dengan pusatnya sebuah lapangan yang diberi nama The Piazza.
Disekeliling The Piazza banyak ditempati oleh kafe dengan meja-meja bertenda di
halamannya. Ada juga tiga buah pasar yang menjual berbagai macam barang yaitu
Apple Market, Jubilee Market dan East Colonade Market. Selain itu di salah satu
sudutnya berdiri London Transport Museum. Diluar ketiga pasar, toko-toko dengan
brand ngetop juga bertebaran, seperti Topshop, Gap, Dune, dan brand favorit
saya, Marks and Spencer.
Puas berorientasi di Covent Garden dan makan siang di sebuah
kedai makanan Cina halal (nasi goreng porsi small 5,5 pounds dengan bonus 1
macam topping/lauk yang bisa dipilih sendiri), kami melanjutkan jalan-jalan
kami menuju Picadilly Circus. Sebenarnya tempat ini hanyalah sebuah bundaran
yang ramai dengan patung (Eros Statue) di tengahnya, namun yang membuatnya
terkenal adalah papan-papan reklame berukuran besar yang menempel di dinding
gedung-gedung disekitarnya, yang di malam hari bermandikan cahaya warna-warni. Pemandangan
yang biasa di Indonesia, tetapi karena jarang dijumpai di London, hal ini
menjadi istimewa. Disekitar bundaran ini juga banyak terdapat toko-toko dan
restoran dari brand ternama. Salah satu yang mencolok mata adalah toko suvenir
besar bernama Cool Britannica, yang di cat warna union jack, bendera UK.
| Picadilly Circus |
| bus kota dan taksi di Picadilly Circus |
Sepanjang sore itu kami habiskan dengan duduk-duduk di taman
Leicester Square bersama puluhan orang lain. Menonton ‘show’ para penari
jalanan, dan menonton lalu lalang para Londoners yang baru pulang bekerja
berbaur dengan turis yang menyandang kamera di leher mereka. Kafe disekitar pun
mulai dipenuhi pelanggan. Meskipun udara
dingin (12 derajat celcius) dan angin cukup kencang, semakin sore tempat
ini semakin ramai. Saya perhatikan, para Londoners ini tak kalah modis dengan
Parisiens. Dan saya naksir beraat pada sepatu-sepatu yang mereka
pakai...arrrghh!!
Malam pertama kami habiskan di kamar hotel karena sudah
terlalu lelah. Makan malam sudah dibeli sebelumnya disebuah kedai kebab halal
di dekat Picadilly Circus. Harga makanan rata-rata hampir sama, sekitar 4-5 pounds perporsi yang lumayan besarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar