Sabtu, 23 November 2013

2N GOES TO UK: LONDON DAY 1

Seperti halnya Paris, kota London memiliki magnetnya sendiri. Sebagai ibukota kerajaan Inggris, negara monarki yang paling terkenal di dunia, pasti banyak orang yang ingin mengunjunginya. Kisah-kisah royal family yang bak dalam dongeng 1001 malam, istana-istana dan bangunan-bangunan milik kerajaan yang seperti gambar di buku cerita ikut mengundang rasa ingin tahu orang tentang kota ini. Itulah sebabnya kepergian saya dan keluarga ke Inggris dalam rangka liburan mengundang komentar iri dan ingin dari teman, keluarga dan kerabat J

            Setelah menempuh perjalanan selama 27 jam dari Malang (Malang-Surabaya-Jakarta-Abu Dhabi-London) akhirnya sampailah kami di Heathrow, airport terbesar di Inggris Raya. Alhamdulillah Natassja, putri saya yang berusia hampir 3 tahun pun tampak segar dan bersemangat, tidak terlihat tanda-tanda kelelahan walaupun barusaja melalui perjalanan panjang. Kami tiba di London pukul 7.20 pagi, lalu menunggu waktu off peak pukul 9.00 supaya tiket transportasi menuju ke kota London lebih murah.

welcome to London

            Dari Heathrow, kami menuju ke hotel di kawasan Leicester Square, West End dengan menggunakan subway, yang di London dikenal dengan sebutan underground atau tube. Dengan tube jalur Picadilly line, butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai ke stasiun Leicester Square yang terletak di jalur yang sama. Sebelumnya kami membeli kartu transportasi yang bernama Oyster Card. Harga deposit adalah 5 pounds, dan diisi (top up) sesuai keinginan. Kartu ini dapat digunakan untuk naik berbagai transportasi publik di kota London seperti tube, bus, DLR dan ferry.

Mengenai underground sendiri, ini adalah transportasi bawah tanah tertua di dunia, pertama kali beroperasi tahun 1863. Tahun ini underground merayakan ulang tahunnya yang ke 150. Sementara London sudah ratusan tahun menikmati kemudahan transportasi bawah tanah, Jakarta masih berkutat dengan masalah kemacetan lalu lintas yang seolah tak ada habisnya. Mudah-mudahan tahun 2016 subway Jakarta dapat benar-benar beroperasi dan dapat mengurangi secara signifikan kemacetan di ibukota. Amiin... J

Premier Inn (bangunan putih) hotel kami di kawasan Leicester Square
Leicester Square. Dibelakang adalah Odeon Theatre, tempat premier film Ironman 3

Hotel kami berada tepat di hadapan taman kecil Leicester Square. Sekeliling taman ini adalah pedestrian, dimana kendaraan tidak dapat masuk ke area ini. Leicester Square adalah salah satu entertainment centre di kota London, dimana banyak terdapat tempat hiburan seperti bioskop, teater dan amusement park Trocadero. Bioskop besar di Inggris, Odeon, terletak tepat di depan hotel diseberang taman, tempat diadakannya world premiere film Ironman 3 yang dihadiri oleh Robert Downey Jr, bintang utamanya. Sayang sekali saya tidak dapat mengabadikan sang bintang, karena penuh sesaknya tempat tersebut.

Selain itu, Leicester Square sangat strategis. Banyak tempat-tempat wisata London yang berjarak dekat, hanya 1-2 km saja. Mulai dari Picadilly Circus yang jaraknya hanya 50 meter saja, juga Trafalgar Square, St James Park, dan Covent Garden. Chinatown terletak di belakang hotel saya. Toko-toko suvenir bertebaran di sekeliling hotel. Selain itu, yang membuat saya senang, cukup banyak restoran dengan label halal di sekitar sini, mulai dari yang menawarkan kebab, american fried chicken, sampai restoran cina, malaysia dan indonesia!

Sesampainya di hotel, kami menitipkan barang pada concierge karena belum bisa check in. Karena masih lama, kamipun keluar hotel untuk berjalan-jalan. Tujuan kami adalah Covent Garden. Kawasan tempat belanja yang terkenal dan banyak dikunjungi turis ini hanya berjarak 300 meter dari hotel. Kami cukup berjalan kaki saja ke tempat ini.

Covent Garden
pagi hari di  Covent Garden
The red telephone box

Covent Garden adalah sebuah kawasan luas yang dipenuhi toko-toko dengan pusatnya sebuah lapangan yang diberi nama The Piazza. Disekeliling The Piazza banyak ditempati oleh kafe dengan meja-meja bertenda di halamannya. Ada juga tiga buah pasar yang menjual berbagai macam barang yaitu Apple Market, Jubilee Market dan East Colonade Market. Selain itu di salah satu sudutnya berdiri London Transport Museum. Diluar ketiga pasar, toko-toko dengan brand ngetop juga bertebaran, seperti Topshop, Gap, Dune, dan brand favorit saya, Marks and Spencer.

Puas berorientasi di Covent Garden dan makan siang di sebuah kedai makanan Cina halal (nasi goreng porsi small 5,5 pounds dengan bonus 1 macam topping/lauk yang bisa dipilih sendiri), kami melanjutkan jalan-jalan kami menuju Picadilly Circus. Sebenarnya tempat ini hanyalah sebuah bundaran yang ramai dengan patung (Eros Statue) di tengahnya, namun yang membuatnya terkenal adalah papan-papan reklame berukuran besar yang menempel di dinding gedung-gedung disekitarnya, yang di malam hari bermandikan cahaya warna-warni. Pemandangan yang biasa di Indonesia, tetapi karena jarang dijumpai di London, hal ini menjadi istimewa. Disekitar bundaran ini juga banyak terdapat toko-toko dan restoran dari brand ternama. Salah satu yang mencolok mata adalah toko suvenir besar bernama Cool Britannica, yang di cat warna union jack, bendera UK.

Picadilly Circus
bus kota dan taksi di Picadilly Circus

Sepanjang sore itu kami habiskan dengan duduk-duduk di taman Leicester Square bersama puluhan orang lain. Menonton ‘show’ para penari jalanan, dan menonton lalu lalang para Londoners yang baru pulang bekerja berbaur dengan turis yang menyandang kamera di leher mereka. Kafe disekitar pun mulai dipenuhi pelanggan. Meskipun udara  dingin (12 derajat celcius) dan angin cukup kencang, semakin sore tempat ini semakin ramai. Saya perhatikan, para Londoners ini tak kalah modis dengan Parisiens. Dan saya naksir beraat pada sepatu-sepatu yang mereka pakai...arrrghh!!


Malam pertama kami habiskan di kamar hotel karena sudah terlalu lelah. Makan malam sudah dibeli sebelumnya disebuah kedai kebab halal di dekat Picadilly Circus. Harga makanan rata-rata hampir sama, sekitar 4-5 pounds perporsi yang lumayan besarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar