Meskipun suka sekali traveling dan bercita-cita menginjakkan kaki di semua sudut bumi, pergi ke negara Paman Sam belum jadi prioritas saya. Tentu saya ingin mengunjungi negara adidaya ini suatu saat nanti, tapi tidak dalam waktu dekat. Jauhnya jarak dan mahalnya harga tiket jadi pertimbangan utama, selain itu saya masih penasaran untuk mengeksplore benua Eropa. Malah tahun 2014 rencananya saya ingin mengunjungi Spanyol dan Portugal untuk big trip bersama keluarga.
Semua rencana berubah ketika di pertengahan Januari 2014 teman-teman di komunitas Backpacker Dunia heboh meributkan tiket super murah dari Cathay Pasific untuk bulan Oktober dan November 2014, hanya 460 USD untuk Jakarta-New York return.Wow! Ke Amerika Serikat dengan harga tiket yang bahkan bisa lebih murah dari tiket Jakarta-Raja Ampat! Saya yang biasanya 'masih pikir-pikir' kalau ketemu tiket promo, kali ini benar-benar teracuni. Pagi itu saya langsung cerita kepada suami dan langsung dijawab "ya sudah coba aja booking.."
Tanpa pikir panjang saya langsung booking untuk keberangkatan di bulan Oktober 2014. Saya hanya beli 2 tiket karena (untungnya) masih terpikir bahwa dibulan itu anak-anak tidak sedang libur sekolah, dan si sulung sudah kelas 3 SMA sehingga tidak bisa bolos terlalu lama. Dasar rejeki, 3 jam setelah saya mendapatkan tiket via email, tiket super murah itu lenyap dari pasaran. Ternyata oh ternyata, harga itu bukanlah harga promo, melainkan ada kesalahan dari pihak Cathay Pasific dalam menginput harga di website! Sempat panik juga sih, takutnya tiket tidak valid padahal kartu kredit sudah terdebet. Tapi setelah menelepon CS Cathay Pasific, didapatkan keterangan bahwa tiket tetap berlaku, tapi tidak bisa diganti nama atau diganti tanggal. OK siplah, no problem!
Persiapan dimulai di bulan Juni 2014, dengan mengajukan permohonan visa US di US Consulate General di Surabaya. Dari semua permohonan visa yang pernah saya ajukan di beberapa kedutaan/konsulat, ternyata persyaratan visa US ini justru yang paling mudah. Dokumen yang diajukan hanyalah slip pembayaran via bank Standard Chartered atau Permata (besarnya 160 USD/orang untuk visa jenis B1/B2-- turis dan bisnis), printed form aplikasi yang sudah didownload dan diisi secara online, printed lembar janji wawancara, paspor yang masih berlaku dan paspor lama (jika ada) dan pas foto 5x5 cm dengan latar belakang putih. Surat keterangan kerja, copy buku rekening, lembar itinerary (yang dibuat sendiri) disiapkan untuk berjaga-jaga, dan ternyata tidak diminta sama sekali! Bukti booking hotel dan tiket malah tidak masuk dalam persyaratan.
Untuk pas foto, saya yang berjilbab sempat bingung karena banyak teman bilang pas foto tidak boleh pakai jilbab, ada lagi yang bilang boleh tapi harus tampak telinga. Di website tidak ada ketentuan mengenai hal itu, padahal waktu saya mengajukan visa Schengen dan UK ada ketentuan yang jelas mengenai pemakaian jilbab dalam pas foto. Saya bertanya pada pihak konsuler melalui email, dan dijawab pada intinya jilbab diperbolehkan, asalkan garis rambut tetap terlihat dan bayangan jilbab tidak boleh menutupi wajah. Tapi semua teman yang mengajukan visa di Surabaya menjawab jilbab dilepas saja saat foto, walaupun saat wawancara tetap dipakai. Akhirnya atas saran suami saya membuka jilbab untuk keperluan pas foto ini, daripada harus bolak balik Malang-Surabaya gara-gara pas foto.
Pagi hari di tanggal yang ditentukan, saya dan suami berangkat ke Surabaya untuk wawancara dengan hati yang tidak tenang. Bukan saja deg-degan karena mau wawancara, tetapi juga saat itu ibu saya dalan kondisi kritis di RS Persada Malang (dua hari kemudian, ibu saya meninggal dunia). Sempat terpikir untuk mengundurkan jadwal wawancara, tapi tidak tahu caranya dan takutnya malah urusannya jadi lebih sulit.
Untunglah proses wawancara berjalan lancar. Kami masuk konsulat pukul 7.30, melalui 3 kali pemeriksaan ketat sebelum duduk di depan loket interview. Kami mendapat nomor urut 17, dan karena duduk di depan loket kami bisa mendengarkan interview dari nomor sebelum kami, lumayan jadi bisa menyiapkan jawaban. Keputusan diberikan saat itu juga, apakah permohonan kita disetujui atau ditolak. Dari ke-16 orang sebelum kami, semua yang bertujuan liburan, sekolah dan kursus disetujui (kecuali ada satu orang yang akan sekolah teologi dari sebuah gereja yang ditolak) sedangkan yang bertujuan bekerja ditolak. Wawancara berlangsung sekitar 5 menit, pewawancaranya bule tapi kita boleh menjawab dalam bahasa Indonesia. Keluarga maju bareng, tidak sendiri-sendiri. Pertanyaan standar, seperti tujuan, berapa lama disana, ikut tur atau tidak (lebih baik dijawab ikut tur), adakah kenalan atau saudara yang tinggal disana (lebih baik dijawab tidak ada), sudah punya anak belum, apakah anak-anak ikut, sudah pernah kemana saja sebelum ini. Setelah itu, si pewawancara langsung bilang 'baik, permohonan anda disetujui, paspor dan visa anda dapat diambil setelah 7 hari kerja di biro kurir yang sudah ditunjuk' Wow! Ternyata ngga ribet!