Rabu, 04 Februari 2015

AMERICAN DREAM (1)

Meskipun suka sekali traveling dan bercita-cita menginjakkan kaki di semua sudut bumi, pergi ke negara Paman Sam belum jadi prioritas saya. Tentu saya ingin mengunjungi negara adidaya ini suatu saat nanti, tapi tidak dalam waktu dekat. Jauhnya jarak dan mahalnya harga tiket jadi pertimbangan utama, selain itu saya masih penasaran untuk mengeksplore benua Eropa. Malah tahun 2014 rencananya saya ingin mengunjungi Spanyol dan Portugal untuk big trip bersama keluarga.

Semua rencana berubah ketika di pertengahan Januari 2014 teman-teman di komunitas Backpacker Dunia heboh meributkan tiket super murah dari Cathay Pasific untuk bulan Oktober dan November 2014, hanya 460 USD untuk Jakarta-New York return.Wow! Ke Amerika Serikat dengan harga tiket yang bahkan bisa lebih murah dari tiket Jakarta-Raja Ampat! Saya yang biasanya 'masih pikir-pikir' kalau ketemu tiket promo, kali ini benar-benar teracuni. Pagi itu saya langsung cerita kepada suami dan langsung dijawab "ya sudah coba aja booking.." 

Tanpa pikir panjang saya langsung booking untuk keberangkatan di bulan Oktober 2014. Saya hanya beli 2 tiket karena (untungnya) masih terpikir bahwa dibulan itu anak-anak tidak sedang libur sekolah, dan si sulung sudah kelas 3 SMA sehingga tidak bisa bolos terlalu lama. Dasar rejeki, 3 jam setelah saya mendapatkan tiket via email, tiket super murah itu lenyap dari pasaran. Ternyata oh ternyata, harga itu bukanlah harga promo, melainkan ada kesalahan dari pihak Cathay Pasific dalam menginput harga di website! Sempat panik juga sih, takutnya tiket tidak valid padahal kartu kredit sudah terdebet. Tapi setelah menelepon CS Cathay Pasific, didapatkan keterangan bahwa tiket tetap berlaku, tapi tidak bisa diganti nama atau diganti tanggal. OK siplah, no problem!

Persiapan dimulai di bulan Juni 2014, dengan mengajukan permohonan visa US di US Consulate General di Surabaya. Dari semua permohonan visa yang pernah saya ajukan di beberapa kedutaan/konsulat, ternyata persyaratan visa US ini justru yang paling mudah. Dokumen yang diajukan hanyalah slip pembayaran via bank Standard Chartered atau Permata (besarnya 160 USD/orang untuk visa jenis B1/B2-- turis dan bisnis), printed form aplikasi yang sudah didownload dan diisi secara online, printed lembar janji wawancara, paspor yang masih berlaku dan paspor lama (jika ada) dan pas foto 5x5 cm dengan latar belakang putih. Surat keterangan kerja, copy buku rekening, lembar itinerary (yang dibuat sendiri) disiapkan untuk berjaga-jaga, dan ternyata tidak diminta sama sekali! Bukti booking hotel dan tiket malah tidak masuk dalam persyaratan.

Untuk pas foto, saya yang berjilbab sempat bingung karena banyak teman bilang pas foto tidak boleh pakai jilbab, ada lagi yang bilang boleh tapi harus tampak telinga. Di website tidak ada ketentuan mengenai hal itu, padahal waktu saya mengajukan visa Schengen dan UK ada ketentuan yang jelas mengenai pemakaian jilbab dalam pas foto. Saya bertanya pada pihak konsuler melalui email, dan dijawab pada intinya jilbab diperbolehkan, asalkan garis rambut tetap terlihat dan bayangan jilbab tidak boleh menutupi wajah. Tapi semua teman yang mengajukan visa di Surabaya menjawab jilbab dilepas saja saat foto, walaupun saat wawancara tetap dipakai. Akhirnya atas saran suami saya membuka jilbab untuk keperluan pas foto ini, daripada harus bolak balik Malang-Surabaya gara-gara pas foto.

Pagi hari di tanggal yang ditentukan, saya dan suami berangkat ke Surabaya untuk wawancara dengan hati yang tidak tenang. Bukan saja deg-degan karena mau wawancara, tetapi juga saat itu ibu saya dalan kondisi kritis di RS Persada Malang (dua hari kemudian, ibu saya meninggal dunia). Sempat terpikir untuk mengundurkan jadwal wawancara, tapi tidak tahu caranya dan takutnya malah urusannya jadi lebih sulit.

 Untunglah proses wawancara berjalan lancar. Kami masuk konsulat pukul 7.30, melalui 3 kali pemeriksaan ketat sebelum duduk di depan loket interview. Kami mendapat nomor urut 17, dan karena duduk di depan loket kami bisa mendengarkan interview dari nomor sebelum kami, lumayan jadi bisa menyiapkan jawaban. Keputusan diberikan saat itu juga, apakah permohonan kita disetujui atau ditolak. Dari ke-16 orang sebelum kami, semua yang bertujuan liburan, sekolah dan kursus disetujui (kecuali ada satu orang yang akan sekolah teologi dari sebuah gereja yang ditolak) sedangkan yang bertujuan bekerja ditolak. Wawancara berlangsung sekitar 5 menit, pewawancaranya bule tapi kita boleh menjawab dalam bahasa Indonesia. Keluarga maju bareng, tidak sendiri-sendiri. Pertanyaan standar, seperti tujuan, berapa lama disana, ikut tur atau tidak (lebih baik dijawab ikut tur), adakah kenalan atau saudara yang tinggal disana (lebih baik dijawab tidak ada), sudah punya anak belum, apakah anak-anak ikut, sudah pernah kemana saja sebelum ini. Setelah itu, si pewawancara langsung bilang 'baik, permohonan anda disetujui, paspor dan visa anda dapat diambil setelah 7 hari kerja di biro kurir yang sudah ditunjuk' Wow! Ternyata ngga ribet!


Selasa, 26 November 2013

VIETNAM: ANTARA SCAM, BADAI DAN KENANGAN INDAH (2)

Hari berikutnya, kami harus bangun pukul 3 pagi karena pesawat Jetstar yang akan membawa kami ke Hanoi berangkat pukul 6 pagi. Dengan diantar airport shuttle dari hotel kami menuju Tan Son Nhat Domestic Airport. Proses check in agak tersendat gara-gara kami tidak paham dengan bahasa Inggris petugas Jetstar yang orang Vietnam. ‘Carry on bag’ diucapkan berkali-kali oleh petugas tapi saya menangkapnya sebagai ‘keylock bag’. Nah looo siapa yang salah ya, kuping saya atau dialek petugas tersebut J

            Penerbangan menuju Hanoi memakan waktu 2 jam 10 menit, pukul 8.15 pagi kami sudah mendarat di Noi Bai Airport Hanoi. Jemputan dari hotel sudah menunggu, dan kami langsung menuju hotel. Hotel Goldenland adalah hotel kecil yang terletak ditengah-tengah kawasan pusat turis Old Quarter.  Dengan ukuran sebesar ruko, agak surprise juga saya melihatnya. Lobby, pantry dan ruang makan berdesakan di lantai dasar. Hotel ini hanya memilik 10 kamar (seperti kos-kosan saja J). Manager hotel Danny Nguyen sangat ramah menyambut kami, dan mengajak ngobrol dalam bahasa Melayu patah-patah. Walaupun masih belum waktunya check in, rupanya salah satu kamar sudah siap dan kami diijinkan naik untuk menyimpan barang. Diluar dugaan, meskipun hotelnya kecil, ternyata kamarnya luas, bersih dan nyaman.

hotel seukuran ruko
tapi kamarnya luas dan cozy
Karena belum sarapan, kami keluar dan berjalan-jalan sembari mencari tempat untuk sarapan. Menurut informasi Agus,teman saya, di dekat hotel ada restoran cepat saji KFC, maka kamipun mencari tempat itu. Kawasan Old Quarter sangat ramai, dengan banyak jalan-jalan kecil dan sepeda motor yang hilir mudik. Di jalan-jalan kecil ini berjejer berbagai macam toko, mulai dari toko suvenir, toko pakaian, sepatu dan lain-lain. Han Gai, jalan yang terkenal dengan sebutan silk road karena dikanan-kirinya berjejer toko-toko yang menjual produk sutra Vietnam, terletak tak jauh dari hotel. Kawasan ini mengingatkan saya pada daerah Legian di Bali, hanya dalam versi yang lebih kuno dan sedikit kumuh.

Old Quarter
Old Quarter
Ternyata KFC berada di dekat Hoan Kiem Lake, danau kecil yang merupakan pusat turis yang berdampingan dengan Old Quarter.  Lagi-lagi saya mengagumi apa yang saya lihat di tepi danau ini, taman-taman yang asri, dengan pedestrian yang nyaman untuk berjalan-jalan dan kursi-kursi taman yang berjejer menghadap ke danau. So romantic! Danaunya pun dalam kondisi bersih, padahal banyaaak sekali orang yang lalu lalang di tempat ini. Hebat!

Saat sarapan, masuk sms dari Nungki, teman Duma yang mengatakan bahwa suaminya Michael sudah menuju hotel kami. Michael akan mengantarkan kami jalan-jalan keliling kota hari ini. Buru-buru kami menyelesaikan sarapan dan segera berjalan kembali ke hotel. Agak sungkan kalau kami sampai terlambat, soalnya bule kan terkenal on time.

Michael sudah menunggu ketika kami sampai di hotel. Mulanya kami mengira Michael membawa mobil untuk mengangkut kami, ternyata.. Michael datang dengan naik sepeda J Saking seriusnya dia mau jadi guide, dia sampai membaca buku Lonely Planet Vietnam sementara menunggu kami siap.

Temple of Literature

Tujuan pertama kami adalah Temple of Literature. Dari hotel, kami naik taksi kesana. Kuil yang merupakan universitas/tempat pendidikan tertua di Vietnam ini sudah sangat ramai dikunjungi turis, Selain itu, rupanya sedang ada acara wisuda sebuah sekolah di tempat ini, Mungkin karena kuil ini dulunya adalah universitas, maka acara wisuda diadakan disini. Yang laki-laki rapi dengan kemeja dan dasi, sementara yang perempuan tampak cantik dengan mengenakan aodai, pakaian tradisional Vietnam yang mirip cheongsam dengan belahan tinggi dan celana palazzo. Kami sempat ikutan berfoto dengan mereka. Bukan saja kami yang ingin difoto dengan mereka, tapi mereka juga ingin difoto dengan kami! Mungkin karena dress code kami hari ini kuning, kami jadi tampak mencolok, ditambah lagi kami semua berkerudung jadi kelihatan ‘unik’ dimata mereka. Kelak kami beberapa kali ditarik sana-sini untuk diajak foto bareng dengan warga lokal. Hohoho...serasa jadi artis :D

bareng cewek2 cantik
Cukup lama kami menghabiskan waktu disini, karena kami diajak Michael menelusuri setiap bangunan. Dia sendiri tampak antusias mengambil gambar disana-sini, ternyata ini kunjungan pertamanya juga ke Temple of Literature. Nampaknya Michael ingin menjelaskan berbagai hal (hasil belajarnya dari Lonely Planet J) tapi ibu-ibu rempong malah lebih asyik foto-foto daripada ingin mengetahui berbagai hal tentang tempat ini. Makanya saya akhirnya bertanya ini itu dan dijawab dengan cukup antusias olehnya.

Dari sini kami menuju kawasan Ba Dinh Square, disana terdapat Mausoleum Ho Chi Minh, museum dan One Pillar Pagoda. Michael mengajak kami berjalan kaki karena menurutnya tempat itu ‘dekat’ (sambil senyum-senyum). Ternyata oh ternyata, dekat definisi bule berbeda jauh dengan definisi ibu rempong. Menurut Michael jaraknya kurang lebih 5 km (entah benar entah tidak). Hampir satu jam kami berjalan karena berkali-kali istirahat, setiap kami berhenti, Michael dengan senyum jahilnya bertanya “Ada masalah ibu-ibuuu???”J.  Panas yang terik, ditambah capek sisa jalan kaki kemarin yang masih terasa membuat Mak Atun dan Mami ngambek. Akhirnya, hanya kurang dari 500 meter lagi dari tempat tujuan, Mak Atun dan Mami benar-benar mogok tidak mau melanjutkan perjalanan. Kamipun meninggalkan mereka duduk di bangku pinggir jalan dan terus berjalan menuju Mausoleum Ho Chi Minh.

Mausoleum Ho Chi Minh, bersama Michael
panas-panas pake kuning :)
Kami tidak masuk ke dalam, karena buat saya tidak terlalu istimewa. Saya pernah masuk mausoleum Mao Zedong di Beijing, antriannya panjang, pemeriksaannya ketat, tetapi didalam tidak sampai 2 menit karena hanya berjalan melewati jenazah sang pemimpin yang sudah dibalsem dan disimpan didalam ruangan kaca. Kalau berhenti untuk melihat lebih jelaspun hanya bisa beberapa detik saja karena antrian yang panjang. Jadi, kami hanya berfoto didepan gedungnya saja.

Ho Chi Minh Museum
One Pillar Pagoda
Kami lalu beranjak menuju Museum Ho Chi Minh. Sayang sekali hari sudah lewat pukul satu siang, sedangkan hari itu adalah hari Sabtu, museum hanya buka setengah hari. Jadi museum sudah tutup. Dari museum kami berjalan ke arah One Pillar Pagoda yang letaknya tak jauh. Hanya sebentar saja kami disini, setelah puas mengambil gambar, kami kembali ke tepi jalan tempat kami meninggalkan Mak Atun dan Mami.

gaya hompimpa Michael
Karena capek dan kelaparan, kami minta Michael mengantar kami ke restoran (kalau bisa halal) untuk makan siang. Menurut Michael, dia dan Nungki akan mentraktir kami makan siang di tempat yang istimewa, dan kami akan bertemu Nungki disana. Semula dia akan mengajak kami berjalan kaki lagi, tapi melihat wajah ibu-ibu rempong yang sudah berlelehan keringat rupanya dia ngga tega juga untuk lanjut mengerjai kami. Akhirnya dia menyetop taksi.

            Taksi membawa kami kesebuah apartemen di kawasan yang teduh dan asri. Agak heran, kami mengikuti Michael turun, Tidak ada tanda-tanda bahwa disitu ada restoran. Tapi kata Michael, ini adalah restoran istimewa dan dijamin 100 persen halal. Kami disuruh masuk lift duluan dan diinstruksikan untuk keluar di lantai 9. Ketika kami tiba di lantai 9, ternyata itu adalah apartemen seseorang dan suasananya tampak ramai. Nungki keluar dan menyambut kami. Surprise!!! Ternyata,  ini adalah apartemen salah seorang Indonesia yang bekerja di Hanoi, dan di dalam sudah ramai berkumpul beberapa keluarga Indonesia yang tinggal di Hanoi. Mereka khusus memasak untuk menyambut kedatangan kami. Waah, senang dan terharu rasanya kami disambut sedemikian rupa seperti tamu agung. Berbagai makanan mereka sediakan, mulai sejenis beef pho (namanya lupa) yang luar biasa segar dan lezat, sampai berbagai kudapan seperti gemblong, cheese cake, pumpkin pie, dan es lilin khas Hanoi. Alhamdulillah, makan siang kami terasa sangat nikmat dengan keramahan teman-teman baru ini. Menurut mereka, kedatangan orang-orang dari Indonesia membuat mereka sangat gembira seperti kedatangan saudara, karena di tanah rantau mereka jarang berinteraksi dengan teman sebangsa.

keramahan saudara2 sebangsa
            Tanpa terasa, hari sudah beranjak sore, karena kami keasyikan mengobrol dan bercerita. Kami harus permisi pulang karena sore ini saya masih punya janji ketemu dengan Agus. Dari apartemen, kami berjalan kaki menuju Hoan Kiem Lake. Kali ini tidak terlalu terasa lelah, karena selain matahari sudah tidak terik lagi, perutpun sudah mantap terisi makanan lezat. Betapa mudahnya mengembalikan semangat ibu-ibu rempong ini J

Le Thay To, Hoan Kiem Lake
together
            Di Hoan Kiem Lake, selain sempat foto-foto, kami mencoba naik eco car, mobil golf berkapasitas 7 orang yang berkeliling kawasan Old Quarter. Tarifnya 150.000 VND permobil untuk berkeliling selama 35 menit. Karena hotel kami juga di kawasan yang sama, setelah berkeliling kami minta diturunkan di jalan dekat hotel.

            Setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami kembali bersiap-siap. Saya sudah bbm an dengan Agus sebelumnya, dan kami janjian untuk bertemu di depan KFC dekat danau. Senang dan sedikit deg-degan (hahaha) karena akan bertemu teman lama. Seperti apa dia sekarang ya? 24 tahun sudah berlalu dari saat saya terakhir bertemu Agus. Walaupun kami sudah ketemu lagi lewat facebook sejak 4 tahun yang lalu, tapi kami jarang berinteraksi. Kalau dari foto-foto sih, secara fisik tidak terlalu banyak berubah, hanya bertambah tua saja J Apalagi waktu SMP-SMA pun kami tidak terlalu sering main bareng, karena dia adalah adik kelas saya. Hanya waktu saya kelas 3 SMP (Agus kelas 2) kami cukup sering berinteraksi, paling tidak kami selalu pulang sekolah bareng bersama 4 teman lain karena rumah kami berdekatan
.
saya dan Agus
           
raja minyak salah pilih dayang2 :D
 Agus sudah menunggu ketika kami sampai di depan KFC. Dia langsung mengenali kami, segerombolan ibu-ibu gendut berkerudung. Saya pun tak pangling karena memang dia tak banyak berubah. Kami ditraktir makan malam di Thai Express yang letaknya tak jauh dari KFC. Alhamdulillaaah, murah sekali rejeki kami hari ini, banyak yang mentraktir J Meskipun awalnya agak tersendat, obrolan pun mengalir lancar, mengenang masa lalu dan menceritakan kondisi saat ini. Ternyata, reputasi Agus dulu sebagai cowok idola (sudah pintar, cakep, baik hati pula) masih berlanjut sampai sekarang. Ibu-ibu rempong langsung jatuh hati, terutama Teh Elin, hehehe... Wah tak pernah saya kira bisa bertemu Agus lagi, di negara orang pula, setelah selama 24 tahun berpisah, tinggal di negara berbeda dan menjalani kehidupan yang berbeda pula. Kuasa Allah SWT lah yang membuat jalan kami bersimpang kali ini dan bisa bertemu. Kegembiraan hari ini, bertemu teman baru dan juga teman lama, melunturkan perasaan bete gara-gara scam tukang becak J

            Sesuai itinerary yang kami susun, hari berikutnya kami akan pergi ke Halong Bay untuk melihat salah satu UNESCO world heritage tersebut. One day tour telah dipesankan oleh Nungki dengan harga USD 20 perorang. Tengah malam, saya dibangunkan oleh bbm masuk, ternyata adik saya yang berkirim kabar bahwa topan Haiyan yang sebelumnya telah memporakporandakan Philipina tengah berjalan menuju Vietnam dan kawasan Vietnam tengah telah bersiap menghadapi badai dan sebagian penduduk telah dievakuasi . Meskipun masih berharap kawasan utara baik-baik saja (Halong Bay berada di kawasan utara Vietnam) tapi mulai terbersit rasa khawatir. Subuh, masuk lagi bbm adari Agus. Dia mendapat warning dari UN Officer Security untuk tidak bepergian selama 3 hari kedepan karena diperkirakan badai akan melewati Hanoi. Dia menyarankan agar rencana ke Halong Bay dibatalkan, karena hari itu diramalkan akan terjadi hujan deras. SMS dari Nungki tentang peringatan datangnya badai pun menambah kecemasan kami.

            Pagi itu memang hujan turun cukup deras. Dengan bantuan pihak hotel kami berusaha menghubungi tour agent yang akan membawa kami ke Halong Bay. Setelah berkali-kali mencoba barulah diperoleh kepastian bahwa tur dibatalkan. Ketika kami mencari alternatif tur lain seperti ke Tam Coc atau Perfume Pagoda, ternyata semua tur tidak ada yang diberangkatkan sampai hari selasa atau 3 hari kedepan. Wah apa boleh buat. Ternyata kami memang belum diijinkan untuk mengunjungi Halong Bay. Kecewa tentu, tapi daripada kena badai di tengah laut, lebih baik dibatalkan sebelum berangkat. Uang yang telah dibayarkan bisa dikembalikan 100 persen. Belakangan saya baru tahu kalau sering terjadi badai di Halong Bay, dan beberapa teman juga mengalami kejadian seperti saya, tidak dapat pergi kesana.

            Bingung juga mau kemana hari itu. Hujan turun cukup deras, hari itu pun hari minggu sehingga museum-museum yang belum sempat kami kunjungi seperti Museum Ho Chi Minh dan Hoa Lo Prison tutup. Agus dan Nungki yang dimintai pendapatpun bingung pergi kemana saat hujan seperti itu. Bosan mendekam di kamar hotel akhirnya kami berjalan-jalan di sekeliling Old Quarter sambil membawa payung tentunya. Teman-teman baru kami kemarin menunjukkan toko yang menjual tas merk Kipling (katanya sih original) murah, dan kesanalah kami menuju. Ternyata asyik juga disana, tidak hanya merk Kipling tapi juga merk lain seperti North Face dengan kualitas yang cukup bagus dan harga super miring. Berkisar 150.000 – 300.000 VND, tergantung model dan ukuran tas. Ibu-ibu rempong pun memborong gila-gilaan.

            Selain itu saya juga sempat keluar masuk toko souvenir dan silk di Han Gai. Beberapa barang berkualitas baik seperti lukisan benang, baju smock untuk anak-anak, dan benda-benda kerajinan lain seperti patung. Tapi untuk t shirt, meskipun murah semuanya berkualitas rendah. Bahannya kasar, tipis dan tidak elastis. Magnetpun tidak banyak macamnya. Jadi, untuk t shirt, magnet, topi lebih baik belanja di HCMC, jika ingin kualitas baik belilah di Central Post Office, kalau yang kualitas menengah di Ben Thanh Market. Sedangkan Hanoi adalah tempat untuk membeli silk, kain bordir dan benda-benda seni lain.

            Kami juga pergi ke mall megah yang baru dibuka di Hanoi, Vincom Mega Mall di Royal City. Berada di komplek apartemen dan mall mewah ini membuat kita tidak seperti sedang berada di negara komunis. Hanya sebentar saja kami disini, isinya toh sama saja dengan mall di Jakarta, malah mungkin lebih lengkap di Jakarta. Mau makanpun bingung memilih tempat. Akhirnya kami makan siang di tempat andalan kami, KFC di pinggir danau Hoan Kiem.

Vincom Megamall at Royal City
Royal City
            Setelah makan siang, kebetulan hujan mulai reda. Kami berjalan-jalan di sekitar Hoan Kiem Lake yang mulai ramai. Di tengah danau ada dua bangunan yang terletak di dua pulau kecil. Bangunan pertama adalah Turtle Tower. Saya kurang paham mengenai fungsi bangunan ini, tetapi mengkin merujuk kepada legenda Golden Turtle God yang berdiam di danau ini. Sedangkan bangunan kedua adalah Ngoc Son Temple, yang dihubungkan dengan daratan oleh sebuah jembatan berwarna merah. Karena bosan dengan kuil, kami hanya foto-foto di pintu masuk dan di jembatan saja.

Turtle Tower di Hoan Kiem Lake
Hoan Kiem Lake yang asri
Ngoc Son Temple dan the red bridge
           Di sore yang mendung ini, ternyata banyak juga turis dan warga lokal Vietnam yang bersantai di tepi danau. Bahkan masih ada yang melakukan pemotretan pre-wedding. Seperti halnya Notre Dame di HCMC, taman-taman di Hoan Kiem Lake juga menjadi tempat favorit untuk melakukan pemotretan pre wedding.

            Malam harinya, semula kami berencana ke rumah Nungki di kawasan West Lake, karena Nungki mengundang kami untuk memasak hot pot. Tapi rencana tersebut batal karena ternyata bahan makanan di supermarket sudah habis diborong warga lokal yang bersiap akan datangnya badai. Nungki dan Michael akhirnya mengajak kami makan bersama di Namaste, restoran India yang berada di kawasan Old Quarter juga.

            Tapi sebelumnya saya sudah sempat bbm an dengan Agus, dan dia bilang ternyata ada restoran halal di sekitar danau, namanya Little India. Selain makanan India, ada juga makanan melayu disana. Sebagai perantau, Agus tentu rindu pada makanan Indonesia, makanya setelah tahu kami batal ke rumah Nungki saya ajak Agus makan bareng di Little India. Jadi, Nungki dan Michaelpun membelokkan tujuan ikut kami ke Little India.

            Tanpa diduga, kami bertemu lagi dengan teman-teman baru keluarga Indonesia yang mentraktir kami makan kemarin siang di restoran ini. What a sweet surprise! Di malam terakhir kami di Vietnam, semua orang-orang baik yang kami temui disini berkumpul tanpa sengaja.  Suasana jadi meriah dan ramai dengan berbagai obrolan dan gelak tawa. Benar-benar kenangan indah. Sayang saya malah lupa tidak bawa kamera malam itu :(

            Satu insiden yang lucu dan sedikit memalukan terjadi di akhir acara. Siangnya saya berjanji  ibu-ibu rempong akan mentraktir Agus sebagai balasan atas kebaikannya mentraktir kami sebelumnya. Ketika akan membayar, Agus bersikeras ingin membayar sendiri pesanannya tetapi saya tolak. Tapi ternyata, ketika saya akan membayar dengan menggunakan credit card, pihak restoran menolak karena mereka hanya menerima pembayaran cash. Ooo... ternyata uang cash saya tidak cukup, akhirnya dengan sedikit menahan malu saya ‘menarik’ iuran dari teman-teman, termasuk dari Nungki dan Agus, hehehe... Kalau ingat insiden itu, sampai sekarang saya masih merasa geli...

Noi Bai Airport, saatnya pulang
Noi Bai Airport
            Tiba waktunya untuk pulang. Nungki dan Agus mengingatkan saya untuk menelepon Airasia mengenai kepastian skedul keberangkatan pesawat, mengingat badai yang masih melanda. Untunglah pesawat kami tidak dibatalkan, hanya mengalami keterlambatan selama 2 jam. Meskipun demikian cukup membuat waswas karena waktu transit di Kuala Lumpur jadi pas-pasan. Meskipun sempat bermasalah dengan bagasi yang tidak dilabeli security checked oleh petugas, tapi kami tidak sampai ketinggalan pesawat. Waktunya untuk saya juga berpisah dengan ibu-ibu rempong, karena saya melanjutkan penerbangan ke Surabaya, sedangkan yang lain menuju Jakarta.

            Banyak peristiwa yang terjadi selama 5 hari jalan-jalan dengan ibu rempong, tidak semuanya menyenangkan, tapi tetap terasa seru untuk dikenang. Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan, rejeki dan kesehatan untuk jalan-jalan bareng lagi ya ibu-ibuuuu J

VIETNAM: ANTARA SCAM, BADAI DAN KENANGAN INDAH (1)

Semula, saya tidak tertarik untuk mengunjungi Vietnam. Dalam bayangan saya, apalah serunya negara komunis yang nilai mata uangnya pun hanya setengah dari rupiah Indonesia. Pasti yang dijumpai adalah kota-kota tua yang ketinggalan jaman.  Bagi penyuka wisata kota seperti saya, kota-kota old fashioned yang kumuh dan tak terawat sama sekali tidak menarik. Belum lagi pasti transportasi publiknya tidak jauh dari Indonesia: membingungkan dan sama sekali tidak nyaman.

            Pendapat saya mulai berubah ketika saya banyak membaca postingan teman-teman di komunitas Backpacker Dunia. Mereka bilang Vietnam negara yang menarik untuk dikunjungi, orangnya ramah dan makanannya enak. Ditambah lagi salah seorang teman kuliah yang baru kembali jalan-jalan dari Hanoi promosi habis-habisan. “Enak Wi! Apa-apa murah. Barangnya bagus-bagus, kalahlah Bangkok!”

            Jadi, ketika ada promo tiket dari maskapai Airasia pada Januari 2013 lalu, saya pun mengontak Duma dan gerombolan si berat, eh maksudnya emak rempong untuk mengajak jalan-jalan ke Vietnam. Tapi rupanya hanya Duma yang tertarik. Yang lain memiliki pendapat yang sama seperti saya dulu, ngapain jalan-jalan ke negara komunis. Akhirnya hanya kami yang langsung pesan tiket untuk keberangkatan bulan November 2013. Lumayan, berangkat Jakarta-Kuala Lumpur-Ho Chi Minh City dan pulang Hanoi-Kuala Lumpur-Surabaya cuma Rp 1,8 juta saja.

            Dua bulan menjelang berangkat, dua orang anggota emak rempong (sekarang berubah nama menjadi ibu rempong, hehehe) Teh Elin dan Mak Atun mendadak berubah pikiran. Mereka ingin ikut, jadi repot lah Duma mencari tiket yang harganya tentu sudah jauh lebih mahal dibanding tiket kami dulu. Dua minggu sebelum berangkat tambah lagi dua orang yang mau ikut, yaitu mami Lely, ibunya Duma dan Bu May. Akhirnya kami berangkat berenam. Untunglah masih bisa mendapat kamar di hotel yang sama.

            Kebetulan sekali Duma punya teman yang tinggal di Hanoi, yaitu Nungki dan suaminya bule Amerika yang bernama Michael, dan mereka sangat antusias dengan kedatangan kami. Mereka berjanji akan menemani kami jalan-jalan, wah suatu tawaran yang manis sekali. Menjelang berangkat, tak sengaja saya membaca status Facebook seorang teman lama yang ternyata sedang kunjungan dinas di Hanoi. Agus, teman saya semasa SMP dan SMA itu sekarang tinggal di Washington DC dan bekerja di IMF. Sudah 24 tahun kami tidak bertemu, lalu kami janjian untuk ketemuan di Hanoi. Wah, tambah semangatlah saya untuk segera berangkat ke Vietnam.

            Hari yang dinantipun tiba. Walaupun  sedih karena meninggalkan anak-anak dirumah dengan nenek dan kakeknya (kebetulan juga suami saya berangkat mengajar ke Balikpapan), saya cukup bersemangat untuk memulai perjalanan. Kami berenam bertemu di T3 Bandara Soekarno Hatta dan langsung terlibat dalam obrolan yang seru, apalagi saya sudah setahun tidak bertemu dengan mereka. Pesawat berangkat tepat waktu, transit cukup lama di LCCT airport Kuala Lumpur, dan mendarat pukul 20.00 di Tan Son Nhat International Airport  Ho Chi Minh City.


ngga sengaja bajunya seragam :)
kotak-kotak...
           Karena tiba saat hari sudah malam, saya sudah memesan airport pick up dari hotel tempat kami menginap. Sebenarnya ada bus yang menuju pusat kota dari airport, tetapi bus itu hanya beroperasi sampai pukul 6 sore saja. Alternatif lain adalah taksi. Saya sudah membaca peringatan di buku panduan maupun blog traveler di internet untuk berhati-hati memilih taksi mengingat banyaknya scam yang dilakukan oleh pengemudi taksi. Taksi di HCMC yang recommended adalah Vinasun dan Mailinh Taxi. Jarak antara airport dengan pusat kota tidak terlalu jauh, kurang lebih 20 menit berkendara saat lalu lintas lancar. Tarif taksi berkisar 150.000-200.000 VND. Biaya airport pick up lebih mahal, USD 20 one way, tapi demi keamanan dan kenyamanan ibu rempong saya tetap memilih airport pick up dari hotel. Toh kami kan berenam, jadi bisa urunan J


Signature Saigon Hoterl
kamar cozy di Signature Saigon
            Hotel kami, Signature Saigon adalah boutique hotel berbintang 3 yang terletak ditengah kota, hanya 300 meter dari Ben Thanh Market. Kamarnya sangat cozy walaupun tidak terlalu besar, dan yang penting harganya sangat terjangkau. Permalam hanya USD 46 atau Rp 500 ribu, kalau urunan berdua jatuhnya hanya Rp 250 ribu/malam. Karena lelah, malam itu kami langsung pulas tertidur setelah mandi dan berganti pakaian.
lobby hotel
Vinasun,  taksi andalan
            Keesokan harinya pukul 7.30 kami sudah rapi dan siap untuk eksploring HCMC. Seperti biasa, ibu rempong selalu  pakai dress code supaya mudah dicari kalau hilang, dan juga supaya di foto tampak kinclong :D Kalau kemarin pakai blus kotak-kotak, hari ini kami tampak ngejreng dengan dress code warna orange. Hmmm.. looks so fresh and juicy, hahaha...

            Tujuan pertama adalah War Remnants Museum. Meskipun tidak terlalu jauh, kami menumpang taksi untuk menuju kesana. Ternyata, orang-orang Vietnam tidak terlalu mengenal nama resmi (dalam bahasa Inggris) dari tempat-tempat wisata, termasuk supir taksi. Mereka hanya tahu nama dalam bahasa Vietnamnya. Saya sempat heran, karena saya lihat cukup banyak turis asing disini, tentu seharusnya mereka mengerti nama-nama tempat wisata dalam bahasa Inggris. Kalau supir taksi di Indonesia tidak tahu tempat-tempat yang terkenal, bisa habis mereka dimaki-maki penumpangnya!

            Jalanan cukup ramai pagi itu, dan seperti di Indonesia, banyaaaak sekali sepeda motor yang lalu lalang. Belakangan saya tahu kalau harga mobil di Vietnam cukup mahal karena pajaknya mencapai 100-200 persen dari harga mobil. Akibatnya, lalu lintas jadi sedikit semrawut. Banyak diantara pengendara motor ini yang tidak memakai helm, ada juga yang pakai helm tapi bukan helm standar seperti di Indonesia melainkan helm catok alias helm mirip yg dipakai oleh pekerja bangunan atau pekerja tambang.


War Remnants Museum
inside the museum
backpacker style :)
            War Remnants Museum adalah museum yang mendokumentasikan sejarah perang Vietnam berikut dampak-dampak pahit yang terjadi akibat perang. Tiket masuknya seharga 15.000 VND. Museum ini cukup lengkap dan menarik, terutama foto-foto yang sangat jelas menggambarkan kekejian perang, termasuk kisah penggunaan senjata kimia agent orange (dioxin) dan dampaknya terhadap korban perang (tentara dan warga sipil) serta keturunannya. Meskipun banyak display yang menggiriskan hati, tapi ibu-ibu ini tetap seru berfoto dengan berbagai gaya J


trotoar lebar dan bersih
taman kota yang sejuk dan asri
            Dari sini kami melanjutkan perjalanan menuju Notre Dame Cathedral. Menurut buku panduan yang saya baca, jaraknya tidak terlalu jauh, kurang lebih 800 meter, karena itu saya memutuskan untuk jalan kaki saja. Jalan kaki di HCMC ini ternyata cukup nyaman, karena trotoar lebar-lebar, bersih dan juga banyak pohon-pohon rindang disepanjang jalan. Belum lagi banyak taman-taman kota yang sejuk, bersih dan asri. Diluar dugaan saya, kota ini ternyata cukup indah dan modern. Atau karena ini adalah pusat kota yang banyak didatangi turis? Wallahualam.


Lucy dan ibu rempong
            Ditengah perjalanan kami berpapasan dengan seorang bule yang masih muda dan cantik, Lucy namanya. Dia berasal dari Australia dan bekerja di sebuah NGO yang mengurusi kaum migran di HCMC. Karena searah dengan jalan ke kantornya, kamipun berjalan bersama-sama. Dia cukup baik hati dengan menunjukkan beberapa tempat wisata di HCMC.

            Belum lagi sampai di Notre Dame, ibu-ibu rempong sudah mengeluh capek. Di sebuah taman akhirnya kami berhenti dulu mengaso, sambil membuka perbekalan (namanya ibu-ibu, tidak pernah lupa bawa bekal!). Padahal Notre Dame sudah tampak di depan mata. Rupanya taman ini dan Notre Dame Cathedral adalah tempat favorit untuk melakukan pemotretan pre-wedding. Ada beberapa pasangan yang siang itu sedang difoto. Sambil mengaso kami jadi ikut menonton jalannya pemotretan. Mereka cuek bermake-up di taman, melakukan berbagai pose bahkan sampai turun ke tengah jalan, akibatnya klakson mobil pun jadi bersahut-sahutan.


ngaso di taman
Notre Dame Cathedral
Ibu rempong at Notre Dame Cathedral
    
ikutan pemotretan pre wed

    Setelah puas mengambil gambar di depan gereja, bahkan kami sempat diajak foto bareng oleh sepasang calon pengantin yang sedang pemotretan pre-wed, kami menyeberang menuju gedung Central Post Office. Seperti halnya gereja Notre Dame dan bangunan-bangunan lain di sekitarnya, gedung kantor pos ini juga merupakan gedung tua bergaya Eropa yang cantik. Tidak hanya cantik, gedung-gedung ini masih terawat dengan baik. Selain masih berfungsi sebagai kantor pos, didalam gedung ini juga terdapat toko-toko suvenir yang berkualitas baik walaupun harganya sedikit mahal.

            Mulanya saya tidak berencana berbelanja disini karena harganya sedikit terlalu mahal, tetapi beberapa barang terlihat so cute di mata saya, akhirnya sayapun tergoda untuk berbelanja sedikit disini. Keputusan yang tidak saya sesali, karena ternyata suvenir disini kualitasnya lebih baik daripada yang dijual di Ben Thanh Market (terutama magnetnya). Ibu-ibu yang lain pun tak ketinggalan untuk mulai membuka dompet dan berbelanja.
Central Post Office
Central Post Office building
            Dari sini, kami berencana untuk mampir di Hard Rock Cafe yang terletak di Le Duan Street. Kalau lihat dipeta, letaknya tidak terlalu jauh dari Central Post Office. Namun ibu-ibu yang kelelahan dan kepanasan minta untuk naik taksi saja. Ternyata, jaraknya sangat dekat, tidak sampai 500 meter, hehehe... Supir taksi yang kami minta untuk menunggu sebentar selama kami berbelanja malah kabur sebelum dibayar, mungkin tidak sabar menunggu terlalu lama.


Hard Rock Cafe

            Seperti biasa, saya membeli magnet untuk melengkapi koleksi saya, plus t shirt untuk suami dan anak sulung saya. Ibu-ibu rempong yang semula hanya menemani saya, jadi ikut tergerak untuk berbelanja J. Selain berbelanja, tentu saja tidak lupa kami berfoto di depan icon gitar Hard Rock Cafe.

            Karena taksi kami yang pertama kabur, kami mencoba mencari taksi yang lain. Tetapi kali ini supir taksi menolak mengantar kami ke City Hall karena menurutnya jaraknya terlalu dekat.  Akhirnya kamipun berjalan kaki, melewati kembali Notre Dame Cathedral dan Central Post Office. Ternyata jaraknya cukup jauh, dan seperti biasa kami harus beristirahat berkali-kali, termasuk jajan  crispy waffel dan kelapa muda di pinggir jalan, dan ‘ngadem’ di mall premium Vincom Center yang kami lewati. Setelah melewati gedung Saigon Opera kamipun sampai di City Hall, dimana terdapat patung Ho Chi Minh (Uncle Ho) menggendong seorang anak perempuan.
'ngadem'minum kelapa muda di Vincom Center
City Hall dan patung Ho Chi Minh
ibu rempong dan uncle Ho
            Matahari yang bersinar sangat terik, plus rasa lelah karena berjalan cukup jauh membuat kami tidak berlama-lama di tempat ini. Setelah mengambil foto, kami beranjak ke tujuan selanjutnya, yaitu Saigon Central Mosque. Kebetulan sudah masuk waktu Zuhur, maka kamipun sekalian shalat dan beristirahat sejenak di satu-satunya mesjid yang ada di HCMC ini.


Saigon Central Mosque
   
      
   Saigon Central Mosque terletak di Dong Du Street, tepat dibelakang bangunan Hotel Sheraton Saigon. Mesjid ini tidak terlalu besar, tapi tampak bersih dan terawat. Kebetulan hari itu adalah hari Jum’at jadi suasana masjid cukup ramai dengan jamaah shalat Jum’at. Ada juga beberapa turis, termasuk sepasang turis dari Spanyol yang membantu mengambilkan foto kami. Bagian perempuan berada di sisi mesjid sebelah kiri, tidak terlalu besar. Yang membuat saya surprised, mukena-mukena milik masjid yang digantung rapi di sebuah lemari semuanya dalam keadaan bersih dan wangi, tidak seperti mukena milik mushalla atau mesjid di Indonesia yang biasanya berbau tak sedap dan berwarna kekuningan atau kehitaman dibagian wajahnya. Ada beberapa ibu tua yang rupanya ‘volunteer’ di mesjid tersebut, yang dengan sigap mengambilkan mukena dan menggelarkan sajadah untuk kita. Sebagai tanda terima kasih kami menyelipkan uang sekedarnya di tangan mereka.


jejeran resto halal di Dong Du Street
Beef Pho, di Halal@Saigon
            Dong Du Street yang tidak seberapa panjang ini dipadati oleh restoran-restoran halal di kiri-kanan jalan. Rupanya ini adalah kawasan muslim di HCMC. Meskipun banyak, hampir semua restoran dalam kondisi penuh siang itu, mungkin juga karena hari itu adalah hari jum’at dimana banyak warga yang datang ke sini untuk shalat. Kami makan siang di restoran Halal@Saigon yang letaknya tepat di seberang masjid. Disini kami mencicipi berbagai makanan khas Vietnam seperti beef pho, chicken pho, spring roll, fish soup dan juga ikan goreng dengan saus asam segar yang lezat. Melengkapi kegembiraan hari ini, Teh Elin mentraktir kami untuk hidangan makan siang istimewa ini, dalam rangka ulang tahunnya yang akan datang beberapa hari kedepan. Alhamdulillaaaah... J

semangat shopping
gembolan ibu rempong
            Perut yang sudah terisi penuh dan istirahat yang cukup lama ternyata ampuh mengembalikan semangat ibu-ibu rempong. Apalagi tujuan berikutnya adalah yang paling dinanti-nanti: belanja di Ben Thanh Market! Sesampainya di pasar terbesar di HCMC, kami segera berpencar untuk berburu oleh-oleh. Cukup banyak barang-barang ‘lucu’ disini, dan bila kita pandai menawar, bisa didapatkan dengan harga yang sangat miring. Magnet harganya hanya 10.000 VND (Rp 5.000) perbuah, sayang tidak terlalu banyak variasinya. Magnet dengan kualitas lebih bagus di Central Post Office harganya 30.000-50.000 VND. Dompet koin 150.000 VND per 10 buah alias Rp 7.500 saja perbuah, tas-tas sulaman  20.000 VND perbuah. T shirt tersedia dalam berbagai kualitas dengan harga 53.000 VND-90.000 VND.

            Hari sudah beranjak sore, satu persatu mulai berkumpul, tinggal Mami dan Bu May yang belum tampak. Duma memutuskan untuk berkeliling pasar mencari mereka sementara saya, Teh Elin dan Mak Atun menunggu di pintu depan. Saat menunggu kami didekati oleh seorang bapak tua pengemudi cyclo atau becak. Dia menawarkan untuk mengantar ke hotel dengan tarif ‘fifteen thousands’. Mulanya kami tidak menghiraukan, tapi dia memanggil 3 temannya yang lain dan seolah-olah menunggu kami. Becak di HCMC memang hanya cukup untuk 1 orang, makanya dia memanggil teman-temannya. Setelah Duma kembali dengan tangan hampa, akhrinya kami memutuskan untuk pulang saja ke hotel dengan menumpang cyclo. Selain karena bawaan yang cukup banyak, kami kasihan dengan para tukang becak yang sudah menunggu itu. Setelah kembali meyakinkan bahwa tarifnya ‘fifteen thousands Dong’, kami pun naik. Ternyata, 50 meter sebelum sampai di hotel kami sudah diturunkan. Mereka beralasan tidak boleh menurunkan penumpang di depan hotel. Duma yang menjadi bendahara kelompok kami mengeluarkan uang 100.000 VND untuk ongkos, tiba-tiba saja mereka menjadi beringas. Uang itu direbut dan mereka memaksa untuk meminta uamg lagi, katanya uang itu kurang. Amplop tempat uang sempat direbut dan selembar uang 100.000 VND diambil mereka lagi. Saya yang belum tahu urusan berjalan menghampiri sambil membuka kantong luar tas tempat saya menyimpan uang, karena saya kira Duma ribut-ribut dengan tukang becak karena uangnya habis. Tak saya sangka-sangka salah seorang tukang becak itu merogoh kantong saya dan menarik uang 200.000 VND yang ada disitu. Spontan saya berteriak-teriak melawan. Mereka terus memaksa meminta uang sambil mengeluarkan selebaran yang bertuliskan tarif cyclo adalah 1.500.000 VND/person. Hah??? Naik becak 1,5 juta? Barulah saya sadar kalau kami kena scam. Untunglah saya menaruh uang di tempat yang terpisah-pisah sehingga tidak semua uang terambil, untung pula ibu-ibu yang lain tidak sampai mengeluarkan dompetnya. Meskipun kami berteriak-teriak (sampai kami memaki dalam bahasa Indonesia J ) tidak ada seorangpun yang membantu kami. Baru setelah kami berteriak memanggil polisi, merekapun lari kabur bersama cyclonya.

tukang becak scammer!
            Pengalaman buruk ini sempat membuat saya bete dan kapok untuk berkunjung lagi ke Vietnam. Rasa takut karena baru saja kena scam, tambah rasa jengkel karena merasa kecolongan (kok bisa-bisanya saya kena) membuat mood saya jadi rusak. Apalagi setelah kami masuk kamar, Mami dan Bu May yang ternyata sudah pulang duluan juga kena scam supir taksi! Rupanya karena Mami merasa lelah, mereka berdua langsung pulang naik taksi tanpa melihat lagi nama taksinya. Dengan argo kuda, jarak yang hanya 300 meter itu mereka harus membayar 198.000 VND! Oh lala... benar-benar bikin bete!
night at Saigon River
            Walaupun bete, setelah maghrib kami masih tetap keluar hotel karena masih ada beberapa tempat lagi yang ingin dituju. Pertama kami jalan-jalan di pinggir sungai Saigon River, yang pada malam hari berhiaskan lampu-lampu dari kapal-kapal yang tertambat disepanjang sisi sungai. Kapal-kapal tersebut adalah restauran terapung,  sambil menikmati makan malam kapal akan berlayar menyusuri sungai selama kurang lebih 2 jam. Kami hanya berjalan-jalan dipinggir sungai, yang cukup nyaman dengan banyaknya kursi taman dan pedestrian. Dari situ kami menuju Parkson Mall untuk mencari baju permintaan Sarah, anaknya Duma (kaya di Jakarta kekurangan mall saja J). Tujuan terakhir adalah kembali ke Hard Rock Cafe untuk membeli t shirt titipan Agus, teman yang akan saya temui di Hanoi.