Kamis, 16 Mei 2013

EUROPE TRIP: ANTWERP AND BRUSSELS BELGIUM


Hari berikutnya, pukul  7 pagi kami check out dan kembali menuju stasiun Amsterdam Centraal. Hari ini kami meninggalkan Belanda dan menuju ke Belgia. Kami menggunakan regular inter city train, untuk Amsterdam – Antwerpen harga tiketnya 20 Euro. Waktu tempuh sekitar 1,5 jam. 


Antwerpen Centraal

Tiba di Antwerpen kami dijemput oleh sepupu saya, Adit. Setelah menitipkan koper di Hotel Century tempat kami menginap, kamipun berjalan kaki menuju apartemen Adit yang
Universiteit Antwerpen
terletak di kawasan Universiteit Antwerpen. Cukup jauh juga kami berjalan kaki, melewati kawasan kota tua Antwerpen, pusat perbelanjaan Meir, kami juga sempatkan mampir dan berfoto di beberapa bangunan milik universitas.
di Kedai Sup
Karena hari itu adalah hari sabtu, lingkungan kampus tampak sepi. Setelah beristirahat sambil mengobrol melepas kangen di kamar apartemen Adit yang sederhana tetapi nyaman, kami kembali berjalan kaki, walking tour menyusuri kota tua Antwerpen. Sebelumnya kami sempat mampir di sebuah kedai sup, brunch sup lezat yang saya tak tahu namanya tapi sudah dipastikan tidak mengandung babi. Kami memesan porsi kecil, tetapi yang datang tetap semangkuk besar dan sangat mengenyangkan, harganya hanya 4 Euro. Sementara porsi normal mangkuknya super besar, sebesar baskom! 

Kami terus berjalan melewati lorong2 kota, museum, lalu tibalah kami di lapangan besar yang dikelilingi bangunan2 tua dan toko2 suvenir serta cafe yang cozy. Itulah Grote Markt, atau alun2 kota seperti Damsquare di Amsterdam. Disini terdapat bangunan City Hall yang dihiasi bendera2 berwarna warni yang ternyata adalah bendera negara2 diseluruh dunia. Selain City Hall disini juga terdapat Antwerpen Cathedral. Deretan restoran dan cafe menawarkan berbagai menu dari berbagai negara, termasuk diantaranya sebuah restoran Indonesia. Sedikit lebih jauh dari Grote Markt terdapat pula sebuah kastil. Setelah menikmati kota tua dan mengambil foto, kami kembali ke hotel untuk check in dan beristirahat sejenak.

Antwerp Museum

City Hall at Grote Markt

Grote Markt

Menara Antwerp Cathedral
Hotel Century terletak persis disamping stasiun Antwerpen Central, hanya perlu menyeberang jalan kecil yang tak terlalu ramai. Hotelnya mungil, dengan lift yang sempit, tetapi kamar triple room yang kami pesan ternyata cukup lapang. Berbentuk L, kamar bertarif 128 Euro/malam (termasuk breakfast) ini memuat  1 twin bed, 2  single bed,  2 lemari pakaian, 2 meja dan beberapa kursi serta kamar mandi yang juga cukup luas. Selain dekat dengan stasiun dan kebun binatang, disekitar hotel ini juga bertebaran toko berlian. Antwerpen terkenal sebagai pusat berlian di Eropa, selain toko berlian terdapat pula museum dan tempat pengolahan berlian disini.
Antwerp Castle

Setelah beristirahat, sore hari kami kembali berjalan kaki menyusuri kota Antwerp. Kami menuju kawasan muslim untuk makan malam. Di Antwerpen tampaknya cukup banyak
Chicken tandoori from Iman Halaal
pendatang muslim, karena sepanjang hari ini saya banyak bertemu dengan wanita2 berjilbab. Kebanyakan pendatang berasal dari Afrika terutama Kongo, karena Kongo adalah eks-jajahan Belgia. Kami makan malam disebuah rumah makan India muslim bernama Iman Halaal. Seporsi (besar) tandori chicken
  dengan nasi yang cukup lezat harganya 7 Euro. Sisa hari itu kami habiskan dengan berjalan kaki berkeliling kawasan muslim dan duduk2  di plaza depan stasiun.

Keesokan harinya, masih ditemani Adit, kami berangkat ke Brussels. Karena sore harinya akan langsung ke Paris, kami sekalian check out dari hotel. Perjalanan ke Brussels dengan kereta api memakan waktu 50 menit, dengan harga tiket kereta kelas 2 6,5 Euro oneway. Sesampainya di Brussels Centraal, kami menitipkan koper di locker yang tersedia. Untuk locker besar, harga sewanya 12 Euro/24 jam. 
Grand Place Brussels

Setelah mampir sebentar di toilet (bayar 0,5 Euro ) kami berjalan kaki menuju Grand Place, alun2 kota Brussels. Melewati  Galleries Royal Huberts, pusat perbelanjaan bergaya gothic yang masih tutup, dan beberapa pengemis yang terlihat lalu lalang (surprise!) kamipun sampai di Grand Place. Setelah berfoto dan menikmati keindahannya, kami melanjutkan berjalan kaki menuju Manneken Pis, patung anak laki2 kecil yang sedang pipis yang menjadi ikon kota Brussels.
Belgian waffel...yummy!!
Manneken Pis
Ternyata patung terkenal ini ukurannya kecil saja, terletak di sudut perempatan jalan yang juga tidak terlalu besar. Karena hari masih cukup pagi, belum banyak turis yang berfoto disitu, hanya sekelompok kecil turis Jepang. Kami pun cepat2 berfoto bersama patung yang hari itu memakai kostum pemain sepak bola Barcelona FC, mungkin untuk menyambut hadirnya event Euro 2012 yang digelar tidak berapa lama lagi. Setelah puas mengambil gambar, kami berjalan perlahan2 kembali ke stasiun Brussels Centraal, sambil keluar masuk toko2 suvenir, cokelat dan Belgium lace yang bertebaran di jalan sekitar Grand Place. Kami juga sempat mencicipi Belgian chocolate dan waffels yang terkenal itu. Hmmm...yummy! Sementara di toko lace (sulaman khas Belgia) saya hanya bisa mengagumi lace2 halus yang terpampang di etalase karena harganya cukup mahal..

City Hall

Lukisan yang dijual di Grand Place

Atomium
Mini Europe
Dari stasiun Brussels Centraal, kami menumpang metro menuju Heysel, untuk mengunjungi Atomium dan Mini Europe. Atomium adalah bangunan raksasa yang berbentuk ikatan atom2, dibangun pada tahun 1958 saat diadakan event Brussels Expo, dengan maksud menyaingi Menara Eiffel di Paris. Bulatan atom2 pada bangunan tersebut antara lain berisi restauran, display dan observation deck. Kami tidak masuk ke dalam bangunan, cukup hanya berfoto diluar saja. Lalu kami berjalan ke Mini Europe, atraksi wisata yang terletak satu kompleks dengan Atomium. Taman ini berisi miniatur bangunan2 terkenal yang ada di negara2 Uni Eropa seperti Menara Eiffel, Parliament House dengan Big Bennya, Menara Pisa, dan lain2. Harga tiket masuknya 13,8 Euro/orang, jika membeli combo ticket  dengan Atomium harganya 19,35 Euro. Setelah berkeliling, kami beristirahat sekaligus makan siang di sebuah restoran cepat saji di Belgian Village yang terletak diluar Mini Europe.


Catch the ball


Menara Pisa di Mini Europe

Setelah cukup beristirahat, kami kembali ke Brussels Centraal. Tadinya Adit bermaksud mengajak kami ke Montgomery Park, tetapi karena kami harus mengejar kereta ke Paris, rencana itu terpaksa dibatalkan. Dari Brussels Centraal kami menuju stasiun Brussels Midi (atau Bruxelles Zuid dalam bahasa Perancis)., tempat kereta Thalys menuju Paris diberangkatkan. Penumpang kereta ternyata cukup padat, sehingga terkesan sempit. Walaupun begitu, masih tetap terasa nyaman. Di Bruxelles Zuid kami berpisah dengan Adit, karena dia tidak ikut ke Paris dan langsung kembali ke Antwerpen.
Perjalanan dengan bullet train Thalys berlangsung selama kurang lebih 1 jam 23 menit. Karena lelah, saya sempat tertidur, dan baru terbangun ketika kereta sudah hampir mendekati stasiun Gare du Nord, Paris.

EUROPE TRIP: HOLLAND-WELCOME TO EUROPE


Akhirnya, tgl  17 Mei pukul 07.00 kami mendarat juga di Schiphol Airport, Amsterdam. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi, kami menuju ke stasiun kereta Schipol. Inilah salah satu kehebatan di negara maju, dimana airport-stasiun kereta-terminal bis berada di satu tempat, memudahkan kita pergi kemana saja dengan transportasi publik dengan harga terjangkau *memimpikan suatu saat akan terwujud di Indonesia,paling tidak di Bandara Soekarno Hatta*

didalam kereta
Dengan menggunakan kereta, kami menuju stasiun Amsterdam Centraal. Tiket seharga 4,3 Euro one way. Keretanya meskipun tidak mewah, tetapi bersih, dan yang paling penting, tepat waktu. Penumpangpun tertib. Dari Amsterdam Centraal, kami hanya perlu berjalan kaki menuju Hotel Ibis Amsterdam Centre yang letaknya disebelah stasiun.

Karena kami tidak membatalkan pesanan hari pertama, maka kami langsung bisa check in meskipun masih pagi. Triple room di Hotel Ibis Amsterdam Centre bertarif 190 Euro/malam, meskipun bersih dan nyaman, tetapi ukurannya sangat sempit. Hanya ada 3 single bed, 1 lemari kecil dan TV layar datar yg menempel di dinding, plus kamar mandi dengan shower yang  juga mini. Hanya tersisa sedikit ruang lapang untuk menaruh koper, itupun harus diletakkan berdiri, tidak bisa ditidurkan. Yang unik, kamar kami ternyata terletak tepat diatas rel kereta, tetapi kedap suara sehingga suara riuh stasiun atau kereta yang lewat tidak sampai masuk kedalam kamar. Setelah mandi, sarapan (mulai mengeluarkan bekal mie instant, karena kami tidak breakfast di hotel) kamipun siap untuk berkelana.

Tujuan pertama kami adalah Keukenhof, taman bunga tulip yang menjadi impian saya sejak lama. Dari Amsterdam Centraal, kami kembali naik kereta menuju Schipol. Di Schipol, kami membeli tiket combo (tiket bis return + tiket masuk taman) seharga 21 Euro/orang. Bis no 858 membawa kami menuju Lisse, desa kecil tempat Keukenhof berada.
Perjalanan tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 20 menit saja. Bis pun banyak tersedia sementara antrian penumpang tidak terlalu panjang. Menurut beberapa panduan yang kami baca, pada saat peak time (pertengahan-akhir April, saat full bloom untuk tulip2 tersebut) antrian penumpang bisa sangat panjang dan memakan waktu lama.

Keukenhof entrance
Bis berhenti tepat dimuka pintu masuk Keukenhof. Di pintu masuk, di dalam pot2 yang berukuran besar, sudah tampak bunga tulip yang indah dan berwarna warni. Setelah di dalam taman, keindahan segera tampak di depan mata. Taman yang tertata rapi, bunga yang beraneka warna diselingi dengan hamparan rumput hijau, sungguh memanjakan indra penglihatan. Keindahannya sulit dilukiskan dengan kata2. This is a piece of heaven on earth.
Bunga tulip ditata dengan gradasi warna yang menarik. Merah, kuning, pink, peach, oranye, biru, putih, ungu, bahkan hitam. Subhanallah.. Sayangnya, di bulan Mei banyak pohon tulip yang  sudah tidak berbunga menyisakan ‘ruang kosong’ tanpa warna, kecuali warna hijau daunnya. Sebaiknya, berkunjung ke Keukenhof ini memang di pertengahan-akhir April, saat full bloom, dimana semua bunga sedang mekar sempurna. Jika saat saya berkunjung saja masih begitu indahnya, tak terbayang keindahan saat full bloom...pasti sangat luar biasa. Tak puas-puasnya saya mengambil gambar, juga berfoto dengan bunga2 yang indah itu. Sayang waktu kami terbatas, sementara taman ini begitu luasnya. Awalnya kami ingin menikmati taman ini seharian, tapi karena waktu kami sudah terbuang satu hari di Singapura, terpaksa kami hanya menghabiskan waktu 4-5 jam saja disini, supaya kami bisa sempat berjalan2 lagi di Amsterdam. Setelah berfoto di dekat windmill dan mencicipi holland waffel with slagroom yang maknyus, kami pun harus pulang.
Keukenhof

Keukenhof

colourful
 
Lily
Satu pengalaman kami rasakan di Schiphol ketika pulang dari Keukenhof. Karena anak saya lapar dan bingung mau makan dimana, kamipun masuk ke counter Burger King. Lalu kami dihampiri oleh seorang pegawai Burger King yang ternyata seorang muslim dari Turki, yang menyampaikan bahwa Burger King di Belanda tidak/belum halal. Akhirnya kami hanya membeli french fries, sementara 2 gelas soft drink yang juga kami pesan digratiskan oleh Muhammed, si pegawai tersebut, katanya ‘hadiah untuk sesama muslim’. Alhamdulillah... :D

Dam Square
Kanal di dekat Leidsestraat
HRC Amsterdam
Sesampai kembali di Amsterdam, kami memutuskan untuk walking tour sekitar Damsquare. Dari Amsterdam Centraal kami menyebrang menuju Damrak, menyusuri Damrak sambil mengagumi bangunan2 tua yang masih terawat baik, rumah2 khas Belanda disepanjang jalan. Tak berapa lama, kamipun sampai di Damsquare. Setelah mengambil foto, tadinya kami ingin masuk Madame Tussauds museum, tapi ternyata sudah tutup karena sudah terlalu sore. Ingin juga melihat kawasan Red Light District, tapi tidak memungkinkan karena ada anak saya yang baru berusia 14 tahun. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari Hard Rock Cafe Amsterdam yang terletak di kawasan Max Euwenplein di Stadhouderskade. Saya ingin mencari fridge magnet HRC untuk melengkapi koleksi saya, sementara suami saya ingin membeli T shirtnya. Kami berjalan melewati  jalan Rokin dan Leidsestraat yang ramai dan dipenuhi toko-toko yang menarik. Jalannya lumayan panjang, kira2 2 km, menyebrangi kanal2 yang cantik dan sempat pula berfoto di kanal tersebut. Sempat berhenti di Leidseplein menonton pertunjukan tari hip hop, akhirnya ketemu juga Hard Rock Cafe Amsterdam. 

Dari HRC kami berjalan kembali ke Leidseplein untuk makan di warung kebab yang kami
Kip Sate
temui sebelumnya. Ada menu unik disini, namanya Kip Sate, alias sate ayam. Ya, rupanya bumbu sate terkenal juga di Amsterdam. Hanya saja, ayam yg ditusuk2 seperti sate itu adalah ayam filet yg digoreng seperti nugget, lalu diberi bumbu sate dan dimakan dengan kentang goreng dan salad. Harganya
  11 Euro sudah dengan minuman (soft drink atau air mineral), rasanya lumayan dengan porsi yang sangat besar. Dari Leidseplein, karena anak saya sudah kelelahan, kamipun naik trem menuju Amsterdam Centraal. Tiket untuk 1 jam penggunaan seharga 2,7 Euro, bisa naik trem no 1,2 atau 5. Sebetulnya, jika kita banyak menggunakan kendaraan umum di Amsterdam bisa menggunakan OV Chipkaart yang memiliki masa berlaku 1 hari, 3 hari, dst. Harga OV chipkaart 1 hari 7,5 Euro. Dengan OV chipkaart ini bebas naik berbagai kendaraan umum seperti bis, trem, subway atau waterbus dalam kota sesuai masa berlaku kartu. Karena kami hanya sekali2 saja naik kendaraan umum dalam kota, maka kami hanya membeli tiket sekali jalan saja. Meskipun hari masih terang (matahari tenggelam pukul 21.30) kami memutuskan untuk pulang ke hotel dan beristirahat.

Amsterdam Centraal
Hari kedua, pukul 7.30 kami sudah berjalan menuju Amsterdam Centraal bus terminal yang terletak dibelakang stasiun kereta. Udara pagi ini luar biasa dingin karena angin bertiup agak kencang. Tujuan kami hari ini adalah Volendam, desa nelayan di utara Amsterdam. Dengan menggunakan bus arriva waterland dengan tiket seharga 9 Euro/orang return, kami berangkat. Perjalanan menggunakan bus memakan waktu kurang lebih 45 menit. Sepanjang jalan didominasi pemandangan perumahan warga Belanda dengan dinding bata, jendela lebar dan atap yang bentuknya khas, setelah keluar dari kota Amsterdam sesekali tampak rumah pertanian ditengah padang rumput dengan sapi2 ‘frisian flag’ (seperti gambar di kotak susu ) dan kuda , juga terlihat windmollen (kincir angin) ciri khas negara ini.

Volendam
hot chocolate penangkal dingin
Kami turun di depan Volendam Museum, lalu berjalan kearah pelabuhan tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan. Karena masih terlalu pagi, kawasan ini masih sepi. Toko-toko masih tutup dan di pedestrianpun belum tampak turis lalu lalang. Angin bertiup sangat kencang, membawa hawa dingin yang sangat menusuk tulang. Kami berjalan-jalan mengelilingi desa, melihat rumah2 cantik dan pemandangan laut. Semakin siang, Haven, pusat aktivitas turisme semakin ramai. Selain berbelanja suvenir, kami juga berfoto dengan memakai pakaian tradisional Belanda di studio foto langganan orang Indonesia, Zwarthoed Studio. Biaya berfoto tergantung jumlah dan ukuran foto yang  dicetak. Selain itu kami mampir untuk menikmati
Gebakken Lekkerbek
seafood brunch di salah satu cafe. Segelas besar hot chocolate sangat pas untuk menghangatkan badan. Dilanjutkan dengan gebakken vismix (seafood platter) porsi super besar berisi fillet ikan, udang dan kerang yang digoreng plus french fries dan gebakken lekkerbek (fish and chips) masing2 seharga 15 Euro. Mahal, tapi worthed dengan porsi jumbo dan rasa yang lezat. Kami membatalkan rencana mengunjungi Marken dengan ferry karena takut terlalu sore, lalu kembali ke Amsterdam dengan bus.



kapal nelayan
meneer dan meuvrouw
rumah-rumah ditepi laut

kawasan Haven
Hari sudah mulai sore, sesampai di Amsterdam kami masuk ke salah satu penyedia jasa canal cruise yang banyak terdapat di depan Amsterdam Centraal. Love Canal Cruise, dengan harga tiket 14 Euro/orang, mengelilingi main canal di Amsterdam selama kurang lebih 75 menit. Dinahkodai oleh seorang pria yang kocak dan bisa bercakap dalam beberapa bahasa, kami melewati canal2 yang cantik, banyak houseboat yang tertambat dipinggirannya, serta beberapa bangunan yang unik dan bersejarah seperti Muntorren,  Anne Frank House,  rumah terkecil di Belanda, dan lain2. Setelah mendarat kembali di Amsterdam Centraal, kami menaiki trem menuju Museumplein. Disini kami hanya berfoto saja di depan Rijks Museum, dan Van Gogh Museum karena antrian masuk ke museum2 tersebut masih mengular. Kamipun menghabiskan waktu duduk2 santai di Museumplein, sembari berfoto di depan tulisan I Amsterdam yang sore itu juga dipenuhi turis2 yang bermaksud sama dengan kami.
Rijksmuseum
Canal ride
I amsterdam
Museumplein




EUROPE TRIP: STRANDED IN SINGAPORE


Hari yang dinanti2 akhirnya tiba. Kami berangkat dari Malang dengan pesawat Garuda pukul 13.30, dilanjutkan dengan pesawat Singapore Airlines (SQ) Jakarta-Singapura lalu Singapura-Amsterdam. Sayang sungguh sayang, SQ yang terkenal dengan schedule yang on time ternyata mengalami keterlambatan. Pesawat yang harusnya berangkat pukul 20.25 dan tiba di Singapura pukul 23.00 baru berangkat pukul 22.00. Hal ini membuat kami harus ketinggalan pesawat yang menuju ke Amsterdam karena pesawat tersebut take off pukul 23.55. Satu pelajaran yang diambil, jika harus menggunakan connecting flight, jangan mengambil jarak waktu yang terlalu mepet untuk mengantisipasi kemungkinan delayed. Bahkan maskapai premium sekelas SQ pun bisa delayed.. 

Changi Village Hotel

Meskipun kerugian material dari keterlambatan tersebut ditanggung penuh oleh pihak SQ, tetap saja tidak bisa menghapus rasa kecewa, karena kami harus ‘terdampar’ di Singapura selama 1 hari (kami baru berangkat dengan pesawat yang sama keesokan harinya) otomatis mengurangi waktu tinggal kami di Amsterdam, dari 3 hari menjadi hanya 2 hari. Kami diinapkan di Changi Village Hotel, bintang 4 dengan pelayanan yang baik, kami juga mendapat makan 3x
sehari dan ongkos taxi airport-hotel pp. 
 
Nonton di Shaw Theatre


Untuk membunuh waktu dan mengurangi rasa kecewa, akhirnya kami ‘keluyuran’ di Orchard Road, keluar masuk mall dan nonton The Avengers 3D di Shaw Theatres. Untunglah kami membawa baju cadangan di dalam tas kabin jadi kami terhindar dari memakai baju yang sama selama 2 hari, karena bagasi kami tetap disimpan oleh SQ