Kamis, 04 Oktober 2012

SINGAPORE, AGAIN AND AGAIN

Cap paspor pertama

Perjalanan pertama saya keluar negeri adalah ke Singapura. Sampai saat ini, sudah 5 kali saya berkunjung ke negeri Singa ini. Dan tidak pernah bosan, karena selalu ada sesuatu yang baru. Kesempatan pertama datang di tahun 2004. Saat itu saya mengikuti sebuah seminar di Batam. Meskipun tidak tahu bagaimana dan dengan siapa saya akan berangkat  ke Singapura, saat itu saya sudah membekali diri dengan paspor.  Pikir saya, kalau saya tidak ada teman jalan, saya mau ikut one day tour saja dari Batam. Saat itu saya belum kenal istilah backpacking ataupun milis2 yang membahas jalan mandiri. Untuk jalan2 sendiri, terusterang saya tidak berani. Ternyata, untuk ikut one day tour ke Singapura mahal sekali. Rata2 Rp 1,5 juta rupiah, tidak termasuk makan. Waah, sempat bingung juga. Untunglah di acara seminar saya bertemu Atiek, teman kuliah yang sekarang tinggal di Batam. Atiek yang sudah sering bolak balik ke Singapura, bersedia mengantar saya berjalan2  di Singapura. Kami lalu bertemu 2 orang teman lain, Omega dan Mbak Gendis yang juga berminat bergabung.


Orchard Rd
Keesokan paginya, kami janjian bertemu di Pelabuhan Batam Centre. Tiket menuju Singapura dengan menggunakan fast ferry hanya seharga SGD 21 return (dengan kurs saat itu kurang lebih Rp 126.000). Ditambah biaya fiskal Rp 500.000, dengan hanya Rp 626.000 kami sudah bisa sampai di Singapura. Perjalanan dengan ferry memakan waktu sekitar 75 menit. Wah rasanya luar biasa sekali ketika akhirnya menginjakkan kaki ditanah Singapura. Dari pelabuhan Harbour Front, kami langsung menuju kawasan belanja Orchard. Laiknya orang udik yang baru mencicipi luar negeri, saya terkagum-kagum dengan semua yang ada di Singapura. Kagum dengan sistem transportasinya, dengan tata kotanya yang walaupun bertebaran mall dimana-mana tetapi tetap menyisakan banyak ruang hijau kota, dengan disiplin penduduknya yang menyeberang jalan, menyetop kendaraan umum atau membuang sampahpun ada aturannya. Kami keliling kota menggunakan transportasi umum, dengan MRT, bus dan berjalan kaki. Selain Orchard, kami mengunjungi China Town, Kampung Bugis  dan Clarke Quay. Aneh juga kenapa saat itu Atiek tidak mengajak kami ke patung Merlion yang terkenal itu, dan saya juga tidak terpikir untuk memintanya J. Kami berjalan2 sampai menjelang malam, sampai kaki kaku dan pegal2. Sore itu juga kami kembali ke Batam. Total jendral saya habis uang tidak sampai 1 juta rupiah termasuk dengan makan dan shopping, bandingkan jika ikut dengan one day tour-nya biro perjalanan! Karena belum puas, saya berharap bisa ke Singapura lagi dikesempatan lain.



Kesempatan kedua datang di tahun 2006. Waktu itu saya kembali mengikuti seminar di Batam. Kali ini saya lebih well prepared dan lebih pede karena sudah punya pengalaman sebelumnya. Saya mengajak anak saya yang waktu itu berusia 8 tahun, dan seorang teman kantor yang baru pertama kali keluar negeri. Setelah seminar selesai, kami bertolak ke Singapura dengan menggunakan fast ferry yang sama. Harga tiket sudah naik, SGD 16 one way. Kami menginap di Meritus Mandarin Orchard selama 2 malam. Pada kunjungan kedua ini, selain shop till drop di Orchard, kami juga mengunjungi  Sentosa Island. Anak saya adalah penggemar dunia bawah laut, jadi Underwater World pastilah tidak terlewatkan. Walaupun hampir sama dengan Pantai Ancol dan Sea World, anak saya tetap happy menikmati Sentosa Island. Hari berikutnya kami berjalan2 ke Suntec City. Selain menonton pertunjukan air mancur Fountain of Wealth, kami juga ikut tur singkat Duck tour, dengan menggunakan mobil amphibi menyusuri kawasan City Hall dan Singapore River. Tur yang menarik dan atraktif, terutama untuk anak2. Kali ini dari Singapura kami kembali ke Jakarta via Changi. Airport supermodern yang kembali membuat saya terkagum2 karena lebih mirip shopping mall J

Ornamen tahun baru di Orchard Rd
keramaian new year eve di Clarke Quay
Kali ketiga ke Singapura adalah akhir tahun 2009, saat pergantian tahun. Kali ini saya berlibur ke Kuala Lumpur dan Singapura bersama suami dan anak saya termasuk yang masih didalam perut. Ya, saat itu saya sedang hamil 5 bulan anak ke 2. Saat itu, mencoba mencicipi daerah di luar Orchard, kami menginap di Novotel Clarke Quay. Ternyata kawasan ini sangat menarik, dengan cafe2 di pinggir Singapore River dan keramaian dunia malam. Apalagi saat itu adalah saat pergantian tahun, ribuan orang tumplek blek disekitar Clarke Quay. Yang membuat semakin happy, kamar kami yang terletak di lantai 9 menghadap langsung kearah Marina Bay, sehingga tepat pada saat countdown, kami bisa menikmati pesta kembang api di Marina Bay cukup dari balkon kamar kami saja. Selain itu keramaian di bawah kami juga menjadi hiburan sendiri. Sebelumnya kami juga berjalan2 di sekitar Clarke Quay yang tengah menyiapkan pesta tahun baru bertema circus, makan malam di salah satu restauran sea food yang ternyata merupakan best singapore sea food restaurant (namanya lupa) dan menyusuri Singapore River di malam hari dengan Singapore Cruise. Selain menikmati acara pergantian tahun, kami juga mengunjungi wahana baru Singapore Flyer, ferris wheel raksasa yang menyaingi London Eye sebagai ferris wheel terbesar di dunia. Kami juga mengunjungi Singapore Science Centre dan Snow City, Sentosa Island dan Underwater World nya, serta pusat perbelanjaan baru Vivo City selain (teteup) berjalan2 di kawasan Orchard dan Kampung Bugis.

JJS di Clarke Quay
Tahun 2011 adalah kali keempat saya mengunjungi negeri Singa ini, selain bersama suami dan anak laki2 saya, kali ini saya juga mengajak bungsu saya yang akan berulang tahun ke-1. Awalnya kami berencana berlibur di Australia, tapi batal karena persiapan terlalu mepet. Sebagai penglipur lara kamipun pergi ke Singapura, kebetulan banyak tempat baru di Singapura yang menarik untuk dikunjungi. Karena terkesan dengan kawasan Clarke Quay, kali ini kami kembali menginap disini, di Swissotel, yang letaknya tepat ditepi sungai. Sangat menyenangkan berjalan2 sembari mendorong stroller anak saya menikmati pagi hari, atau udara sore di pinggir sungai. Pada liburan kali ini kami mengunjungi Singapore Zoo, yang meski ditata dengan baik, menurut saya masih lebih bagus Batu Secret Zoo di Batu, Malang. Selain itu kami juga pergi ke Marina Bay Sands, pusat entertainment baru, terdiri dari hotel, shopping centre dan casino yang berbentuk tiga gedung tinggi menyangga sebuah pelataran lebar mirip perahu dipuncaknya. Kami mencoba naik sampai ke Sky Park yang terletak dipelataran tersebut, saya pikir ada sebuah taman diatas mengingat harga masuknya cukup mahal (SGD 25/orang), dengan sangat menyesal ternyata tempat itu hanya sebuah pelataran tanpa ada apapun dan panasnya luar biasa...karena bukan pengunjung hotel, kami tidak bisa masuk ke kolam renang spektakuler yang ada disitu..

minum susu di Sky Park Marina Bay Sands
Kami juga kembali mengunjungi Suntec City, berencana untuk ikut wisata duck tour. Tetapi karena datang sudah terlalu siang, antrian sudah panjang mengular dan kemungkinan besar baru akan berangkat sore atau malam harinya, maka kami membatalkan rencana tersebut dan harus puas dengan berputar-putar di mall saja.


Fountain Wealth
Malam harinya kami berjalan-jalan di kawasan Orchard, makan malam di sebuah restoran Indonesia di Lucky Plaza dan cuci mata di Wisma Atria, Takashimaya dan Tangs. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 ketika kami akan kembali ke hotel, dan baru kali inilah saya merasakan pengalaman tak enak berkaitan dengan public transportation di Singapore. Karena sudah cukup larut, kami memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taxi. Ternyata antrian di taxi stand sudah sangat panjang. Dan entah mengapa, setiap taxi yang lewat enggan berhenti, hanya 1-2 saja yang mau menaikkan penumpang. 2 jam lamanya kami berdiri menunggu, hanya sedikit saja kami bergeser tempat di antrian. Anak bungsu saya yang sudah mengantuk jadi rewel tak karuan. Akhirnya kami berjalan kaki (cukup jauh) menuju stasiun MRT , untunglah kereta masih beroperasi. Wah tahu begitu, lebih baik dari awal saja kami naik MRT. Mau nyaman malah menderita. Hampir tengah malam baru kami tiba di hotel.

Universal Studios
Hari terakhir kami kembali mengunjungi Sentosa Island, kali ini khusus untuk bermain di sebuah theme park yang baru dibuka, Universal Studios Singapore. Tempat yang wahana permainannya terinspirasi dari film-film produksi Universal Studios (Jurassic Park, Shrek, Madagascar, Battlestar Galactica, Betty Boo, The Mummy dll) ini cukup menarik walaupun tidak terlalu besar. Sayang si bungsu masih terlalu kecil sehingga tidak bisa menikmati wahana-wahana tersebut.





nonton di Shaw Theatre
Kali terakhir saya ke Singapore adalah di bulan Mei 2012. Sebetulnya ini adalah kunjungan yang tak direncanakan, lebih tepatnya, kami bertiga (saya, suami dan anak sulung saya) terdampar disini. Karena pesawat SQ  Jakarta-Singapore yang kami naiki delayed, maka kamipun ketinggalan pesawat SQ menuju Amsterdam. Akibatnya kami terdampar di Singapore karena menunggu pesawat yang akan membawa kami ke Amsterdam di hari berikutnya. Untunglah service yang diberikan pihak SQ cukup memadai. Kami diinapkan di Changi Village Hotel, sebuah hotel berbintang empat dikawasan dekat airport, juga ditanggung makan dan ongkos dari dan menuju airport.  Untuk membunuh waktu, lagi-lagi kami keluyuran di kawasan Orchard. Keluar masuk mall, lalu menonton film di Shaw Theatre.

Karena Singapore selalu menawarkan hal-hal yang baru, kelihatannya kami akan kembali dan kembali lagi kesana. Apalagi jaraknya cukup dekat dan banyaknya airlines yang menuju ke Singapore dengan harga yang sangat bersaing.