Selasa, 26 November 2013

SUMMER IN SEOUL: SHOP TILL YOU DROP (2)

Hari berikutnya, suami saya ‘bolos’, tidak ikut simposium. Kami bermaksud berkeliling kota Seoul dengan menggunakan bus hop on hop off, Seoul City Circular Course. Harga tiketnya 10.000 KRW/hari dengan 26 titik pemberhentian. Tiket dibeli di tempat pemberhentian pertama yaitu di exit 6 Gwanghwamun station. Pertama, kami mengunjungi National Museum of Korea. Tiket masuknya free of charge alias gratis. Selama kurang lebih 1,5 jam kami habiskan disini untuk melihat sejarah kebudayaan Korea sejak masa prasejarah. Isinya kurang lebih sesuai dengan museum Gajah di Jakarta.

Seoul City Tour bus
National Museum of Korea
            Setelah puas, kami beranjak ke halte bus untuk menunggu bus berikutnya. Apadaya ternyata bus baru datang setelah satu jam menunggu, padahal menurut brosur bus lewat setiap 20-30 menit sekali. Padahal hujan sudah mulai turun.

            Tujuan berikutnya adalah Korea Memorial Museum. Seperti National Museum, tiket masuk tempat ini juga free of charge. Museum ini berisikan sejarah perang di Korea, sejak jaman kerajaan (dinasti Joseon), masa penjajahan Jepang sampai pada perang Korea Selatan dan Utara yang sampai saat ini belum juga menemui titik akhir. Berbagai peralatan perang dipamerkan disini, tentu saja sangat menarik untuk suami saya yang seorang prajurit TNI.

Korean War Memorial Museum
            Dari museum kami beranjak ke tujuan selanjutnya yaitu Namsan Seoul Tower yang terletak diatas bukit setinggi 500 m. Dari tempat pemberhentian bus, kami harus berjalan kaki kurang lebih 200 m dengan kondisi jalan menanjak. Cukup berat untuk yang punya bodi subur kayak saya. Tapi mau istirahat kok malu karena banyak orang-orang yang sudah lanjut usia tetap bersemangat berjalan, walaupun ada yang dengan bantuan tongkat.

Namsan Seoul  Tower
tree of locks
            Selain tower setinggi 236.7 m yang digunakan sebagai menara komunikasi dan observation deck, disini juga terdapat tree of locks alias pohon gembok yang dipenuhi gembok-gembok cinta. Konon apabila sepasang kekasih memasang gembok yang bertuliskan nama mereka, kisah cinta mereka akan abadi selamanya. Kira-kira samalah dengan jembatan gembok Pont des Arts di Paris.

            Selain itu disini juga terdapat Teddy Bear Museum. Karena cuaca gerimis dan berkabut, saya membatalkan untuk naik ke observation deck (percuma, apa yang mau dilihat dalam kondisi berkabut begitu) dan memilih masuk ke Teddy Bear Museum. Harga tiketnya 8000 KRW, lumayan mahal. Museum ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama berisi sejarah Teddy Bear dan juga diorama sejarah Korea masa lalu dengan boneka Teddy sebagai ganti patung-patungnya. Sedangkan bagian kedua berisi diorama tentang kebudayaan pop Korea masa kini yang sudah mendunia dengan K-pop nya. Dibagian ini ada Teddy Bear sebesar manusia yang berdandan ala Psy, penyanyi yang ngetop dengan Gangnam-style nya.

Teddy Bear Museum
Teddy Bear-Psy
            Keluar dari museum, saya disambut oleh merchandise shop yang memajang barang imut-imut dan lucu. Tak tahan, akhirnya saya pun menghamburkan uang untuk membeli sebuah teddy bear ukuran sedang untuk gadis kecil saya, plus magnet dan berbagai pernik imut-imut yang ngga penting :p

            Sembari menunggu datangnya bus (lagi-lagi lamaaa nunggunya), kami membeli roti dan minuman untuk makan siang di minimart depan halte. Apa boleh buat, jika sedang ngetrip di negara yang minoritas muslim, tidak banyak yang berani kami makan. Yang jelas kami menghindari makan daging dan ayam. Roti pun kami memilih roti manis untuk menghindari kontaminasi bahan tak halal sesedikit mungkin, ditambah berdoa dulu sebelum makan tentunya.

            Tujuan terakhir kami hari ini adalah Dongdaemun. Dongdaemun adalah salah satu shopping district terbesar di Seoul selain Namdaemun dan Myeongdong yang saya kunjungi hari kemarin. Di Dongdaemun terdapat 37 shopping malls. Bayangkan! 37 mall hanya di satu area! Rata-rata buka mulai pukul 10.30 pagi sampai pukul 05.00 pagi keesokan harinya. Hampir 24 jam! Luar biasa hasrat belanja orang Korea ini.Beberapa mall di Myeong-dong juga menerapkan jam buka toko yang sama. Berbagai barang bisa ditemukan di tempat ini, terutama barang-barang fashion, baik produksi Korea maupun China. Barang made in Korea lebih bagus mutunya dan tentunya harganya juga lebih mahal. Bagi pecinta fashion, siap-siaplah shop till you drop disini. Saking serunya berkeliling dan belanja (walaupun sudah gelap dan hari hujan) saya sampai lupa mengambil foto disini J

            Dari sekian banyak mall di Dongdaemun, yang paling populer untuk orang Indonesia adalah Doota (Doosan Tower), Migliore dan Hello Apm yang terletak bersebelahan. Bahkan di lantai 5 Doota Mall terdapat sebuah toko souvenir dimana seluruh pegawainya bisa berbahasa Indonesia dan bisa membayar dengan rupiah. Kualitas barang pun cukup baik dan barangnya lengkap dengan harga yang lumayan terjangkau. Khusus t shirt mereka menyediakan yang berkualitas sedang (harga 4000 KRW/buah) dan kualitas baik (harga 10.000 KRW/buah).

            Dengan banyaknya kawasan belanja (Namdaemun, Myeong-dong, Insa-dong, Itaewon, Dongdaemun juga tempat yang tidak sempat saya kunjungi seperti kawasan Gangnam dan Apgujeong) dan jam buka mall yang sangat fantastis, menurut saya rasanya Seoul sangat layak disebut sebagai kota belanja, mengalahkan Singapore, Bangkok atau HongKong.

            Waktu menunjukkan pukul 23.00 ketika kami beranjak meninggalkan Dongdaemun. Walaupun hujan turun cukup deras, suasana masih ramai layaknya di siang hari. Demikian pula suasanadi dalam subway masih penuh, dan banyak pula yang berdiri. Di hari selarut itu, masih banyak perempuan yang berjalan sendirian. Dengan santai mereka menggenggam smartphone merk Korea yang terkenal sambil mendengarkan musik, browsing internet atau nonton TV. Tak tampak kekhawatiran atau perasaan tak aman. Bayangkan kalau di Indonesia. Rasanya tak ada perempuan yang berani pulang sendirian hampir tengah malam sambil menggenggam barang mahal ditangan. Bisa-bisa dirampok orang atau malah nyawa melayang...hiyyy...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar