Hari
berikutnya, suami saya ‘bolos’, tidak ikut simposium. Kami bermaksud
berkeliling kota Seoul dengan menggunakan bus hop on hop off, Seoul City
Circular Course. Harga tiketnya 10.000 KRW/hari dengan 26 titik pemberhentian.
Tiket dibeli di tempat pemberhentian pertama yaitu di exit 6 Gwanghwamun
station. Pertama, kami mengunjungi National Museum of Korea. Tiket masuknya
free of charge alias gratis. Selama kurang lebih 1,5 jam kami habiskan disini
untuk melihat sejarah kebudayaan Korea sejak masa prasejarah. Isinya kurang
lebih sesuai dengan museum Gajah di Jakarta.
 |
| Seoul City Tour bus |
 |
| National Museum of Korea |
Setelah puas, kami beranjak ke halte
bus untuk menunggu bus berikutnya. Apadaya ternyata bus baru datang setelah
satu jam menunggu, padahal menurut brosur bus lewat setiap 20-30 menit sekali.
Padahal hujan sudah mulai turun.
Tujuan berikutnya adalah Korea
Memorial Museum. Seperti National Museum, tiket masuk tempat ini juga free of
charge. Museum ini berisikan sejarah perang di Korea, sejak jaman kerajaan
(dinasti Joseon), masa penjajahan Jepang sampai pada perang Korea Selatan dan
Utara yang sampai saat ini belum juga menemui titik akhir. Berbagai peralatan
perang dipamerkan disini, tentu saja sangat menarik untuk suami saya yang
seorang prajurit TNI.
 |
| Korean War Memorial Museum |
Dari museum kami beranjak ke tujuan
selanjutnya yaitu Namsan Seoul Tower yang terletak diatas bukit setinggi 500 m.
Dari tempat pemberhentian bus, kami harus berjalan kaki kurang lebih 200 m
dengan kondisi jalan menanjak. Cukup berat untuk yang punya bodi subur kayak
saya. Tapi mau istirahat kok malu karena banyak orang-orang yang sudah lanjut
usia tetap bersemangat berjalan, walaupun ada yang dengan bantuan tongkat.
 |
| Namsan Seoul Tower |
 |
| tree of locks |
Selain tower setinggi 236.7 m yang
digunakan sebagai menara komunikasi dan observation deck, disini juga terdapat
tree of locks alias pohon gembok yang dipenuhi gembok-gembok cinta. Konon
apabila sepasang kekasih memasang gembok yang bertuliskan nama mereka, kisah
cinta mereka akan abadi selamanya. Kira-kira samalah dengan jembatan gembok
Pont des Arts di Paris.
Selain itu disini juga terdapat
Teddy Bear Museum. Karena cuaca gerimis dan berkabut, saya membatalkan untuk
naik ke observation deck (percuma, apa yang mau dilihat dalam kondisi berkabut
begitu) dan memilih masuk ke Teddy Bear Museum. Harga tiketnya 8000 KRW,
lumayan mahal. Museum ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama berisi
sejarah Teddy Bear dan juga diorama sejarah Korea masa lalu dengan boneka Teddy
sebagai ganti patung-patungnya. Sedangkan bagian kedua berisi diorama tentang
kebudayaan pop Korea masa kini yang sudah mendunia dengan K-pop nya. Dibagian
ini ada Teddy Bear sebesar manusia yang berdandan ala Psy, penyanyi yang ngetop
dengan Gangnam-style nya.
 |
| Teddy Bear Museum |
 |
| Teddy Bear-Psy |
Keluar dari museum, saya disambut
oleh merchandise shop yang memajang barang imut-imut dan lucu. Tak tahan,
akhirnya saya pun menghamburkan uang untuk membeli sebuah teddy bear ukuran
sedang untuk gadis kecil saya, plus magnet dan berbagai pernik imut-imut yang
ngga penting :p
Sembari menunggu datangnya bus
(lagi-lagi lamaaa nunggunya), kami membeli roti dan minuman untuk makan siang
di minimart depan halte. Apa boleh buat, jika sedang ngetrip di negara yang
minoritas muslim, tidak banyak yang berani kami makan. Yang jelas kami
menghindari makan daging dan ayam. Roti pun kami memilih roti manis untuk
menghindari kontaminasi bahan tak halal sesedikit mungkin, ditambah berdoa dulu
sebelum makan tentunya.
Tujuan terakhir kami hari ini adalah
Dongdaemun. Dongdaemun adalah salah satu shopping district terbesar di Seoul
selain Namdaemun dan Myeongdong yang saya kunjungi hari kemarin. Di Dongdaemun
terdapat 37 shopping malls. Bayangkan! 37 mall hanya di satu area! Rata-rata
buka mulai pukul 10.30 pagi sampai pukul 05.00 pagi keesokan harinya. Hampir 24
jam! Luar biasa hasrat belanja orang Korea ini.Beberapa mall di Myeong-dong
juga menerapkan jam buka toko yang sama. Berbagai barang bisa ditemukan di
tempat ini, terutama barang-barang fashion, baik produksi Korea maupun China.
Barang made in Korea lebih bagus mutunya dan tentunya harganya juga lebih
mahal. Bagi pecinta fashion, siap-siaplah shop till you drop disini. Saking
serunya berkeliling dan belanja (walaupun sudah gelap dan hari hujan) saya
sampai lupa mengambil foto disini J
Dari sekian banyak mall di
Dongdaemun, yang paling populer untuk orang Indonesia adalah Doota (Doosan
Tower), Migliore dan Hello Apm yang terletak bersebelahan. Bahkan di lantai 5
Doota Mall terdapat sebuah toko souvenir dimana seluruh pegawainya bisa
berbahasa Indonesia dan bisa membayar dengan rupiah. Kualitas barang pun cukup
baik dan barangnya lengkap dengan harga yang lumayan terjangkau. Khusus t shirt
mereka menyediakan yang berkualitas sedang (harga 4000 KRW/buah) dan kualitas
baik (harga 10.000 KRW/buah).
Dengan banyaknya kawasan belanja
(Namdaemun, Myeong-dong, Insa-dong, Itaewon, Dongdaemun juga tempat yang tidak
sempat saya kunjungi seperti kawasan Gangnam dan Apgujeong) dan jam buka mall
yang sangat fantastis, menurut saya rasanya Seoul sangat layak disebut sebagai
kota belanja, mengalahkan Singapore, Bangkok atau HongKong.
Waktu menunjukkan pukul 23.00 ketika
kami beranjak meninggalkan Dongdaemun. Walaupun hujan turun cukup deras,
suasana masih ramai layaknya di siang hari. Demikian pula suasanadi dalam
subway masih penuh, dan banyak pula yang berdiri. Di hari selarut itu, masih
banyak perempuan yang berjalan sendirian. Dengan santai mereka menggenggam
smartphone merk Korea yang terkenal sambil mendengarkan musik, browsing
internet atau nonton TV. Tak tampak kekhawatiran atau perasaan tak aman.
Bayangkan kalau di Indonesia. Rasanya tak ada perempuan yang berani pulang
sendirian hampir tengah malam sambil menggenggam barang mahal ditangan. Bisa-bisa
dirampok orang atau malah nyawa melayang...hiyyy...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar