Keesokan
harinya, pukul 9 pagi kami sudah check out, dan dengan menggunakan underground
kami menuju London Euston train station. Hari ini kami akan melanjutkan
perjalanan menuju Liverpool dengan menggunakan kereta. Kami mendapatkan tiket
return Virgin Trains first class secara online dengan harga 77 pounds perorang.
Natassja yang berusia dibawah 4 tahun masih free of charge.
 |
| Virgin Trains, first class |
Perjalanan ke Liverpool memakan
waktu hampir 2,5 jam. Sepanjang perjalanan pemandangan yang tampak adalah
padang rumput luas, desa-desa khas Inggris yang cantik dan kota-kota kecil yang
tenang. Kami tiba di Liverpool Limestreet Station setelah lewat tengah hari,
dan setelah menikmati light meal sebagai makan siang di salah satu coffee shop
di stasiun, kami menuju hotel dengan berjalan kaki.
 |
| Welcome to Liverpool |
Adagio, hotel yang kami tempati
terletak di Fairclough Street, sangat strategis karena berada di jalan antara
stasiun Limestreet dan Albert Docks, salah satu must to see place di Liverpool.
Selain itu di depannya terdapat kompleks perbelanjaan Liverpool One, berupa
pedestrian dengan banyak toko-toko berjejer dipinggirnya. Adagio merupakan
hotel baru yang berbentuk apartemen dengan satu kamar tidur dan sofa bed di
living room nya sehingga cukup memadai untuk kami. Karena hotel baru, kami
mendapatkan harga promo yang cukup miring.
Karena masih baru pula,
peralatan dapurnya cukup lengkap, bersih dan kinclong. Dengan peralatan dapur
yang cukup lengkap seperti itu, saya bisa memasak untuk mengirit biaya makan.
Belanja di Tesco supermarket senilai 17 pounds sudah bisa mendapatkan beras,
telur, ikan dan sayuran juga susu yang cukup untuk 2 hari! Kalau makan diluar,
uang 17 pounds hanya cukup untuk membeli
3 porsi nasi goreng. Untuk pengiritan makan, di sore hari saat toko-toko hampir
tutup, banyak bakery yang banting harga menjual makanan mereka yang belum laku.
Misalnya Gregg’s yang menjual donat seharga 1 pound per 5 potong atau danish 1
pound/potong, lumayan kan...
 |
| Albert Docks di sore hari |
 |
| The Beatles Story |
Setelah check in dan beristirahat sejenak, sore itu kami
habiskan dengan jalan-jalan ke Albert Docks, menikmati udara laut dan berfoto
di depan The Beatles Story, museum The Beatles yang sudah tutup. Kami bermaksud
mengunjunginya keesokan harinya.
Udara yang sangat dingin membangunkan kami keesokan paginya.
Saya lihat di acara berita, pagi itu suhu hanya 1 derajat Celcius. Wow! Kami
menunggu agak siang untuk keluar hotel karena cuaca terlalu dingin untuk ukuran
kami. Menjelang pukul 9, suhu udara naik menjadi 12 derajat Celcius, ‘cukup
aman’ untuk jalan-jalan.
 |
| Anfield Stadium |
 |
| inside the stadium |
Tujuan utama kami hari ini adalah Anfield Stadium, markas
klub sepakbola English Premier League, Liverpool FC. Sebagai Liverpudlian
sejati, ini adalah saat yang dimimpikan oleh suami saya sejak lama. Sebetulnya
pada awalnya suami saya berniat untuk menonton penampilan Steven Gerrard cs di
Anfield, sayangnya terjadi kekeliruan. Menurut suami saya biasanya Liverpool FC
selalu bertanding di kandangnya pada hari minggu, tapi ketika menyusun
itinerary saya membaca di website resminya pertandingan Liverpool FC melawan
Chelsea akan berlangsung hari sabtu. Jadi itinerary kami buat sampai hari minggu
(sabtu nonton pertandingan, minggu pagi pulang). Apa daya setelah semua tiket
fixed dan suami saya membuka kembali website Liverpool FC, tercantum bahwa
pertandingannya dilangsungkan hari minggu! Merubah tanggal kepulangan tentu
menambah biaya lagi, apalagi Nadhif anak sulung saya sudah membolos 3 hari
untuk acara liburan ke Inggris ini. Walaupun kecewa, akhirnya suami saya dapat
menerima dan menghibur diri, berarti saya harus kembali lagi kesini suatu saat,
hanya untuk menonton pertandingan! J Jadi, hari itu kami hanya
mengikuti mini stadium tour, masuk ke museum dan berbelanja di merchandise
store nya.
 |
| Dream comes true |
Semula saya membayangkan Anfield stadium sebesar Gelora Bung
Karno di Senayan. Betapa herannya saya, ternyata stadion milik salah satu klub
bergengsi di liga Inggris ini ternyata hanya kecil saja. Halamannya tidak
terlalu luas, lapangan parkirnya pun secukupnya saja. Stadionnya hanya
berkapasitas kurang lebih ... penonton. Bahkan stadion Gajayana di Malang
kelihatannya lebih besar. Menurut suami saya, rata-rata markas klub sepak bola
di Inggris memang seperti di Anfield ini.
Tapi jangan tanya kualitas lapangannya. Walaupun kecil,
rumputnya sangat rapi dan dirawat secara khusus. Semua kursi penonton dalam
kondisi baik, stadion bersih luar-dalam. Museumnya cukup menarik dan lengkap
memuat sejarah klub ini, termasuk memajang semua piala yang pernah dimenangkan,
profil para pemain legendaris dan juga jersey klub ini dari masa ke masa. Suami
saya kegirangan seperti anak kecil yang bermain dengan mainan kesayangannya.
Semua dilihat, semua difoto, dan menghabiskan waktu lama (dan uang :D ) di
merchandise storenya. Hehehe, saya memaklumi saja, namanya juga cinta beraaat..
Ketika sudah puas berkeliling Anfield, hari sudah beranjak
siang. Kami pulang dulu ke hotel untuk beristirahat sejenak dan makan siang.
Setelah itu kami kembali menuju Albert Docks untuk mengunjungi Museum The
Beatles. Sayang sekali ketika kami tiba disana antrian sudah panjang mengular
sampai ke trotoar jalan. Akhirnya kami putuskan untuk tidak jadi masuk, karena
takut Natassja bosan harus menunggu lama. Akhirnya kami menghabiskan sore di
Liverpool One, kawasan perbelanjaan luas yang berupa pedestrian dengan berbagai
macam toko dan restaurant. Karena
toko-toko disini tutup pada pukul 6 sore, maka kami tidak berlama-lama disini.
Apalagi kami harus packing karena sudah harus pulang keesokan paginya.
 |
| Liverpool Limestreet Station, ready to leave UK |
 |
| Virgin Trains |
Keesokan paginya kami sudah check out pukul 7 pagi. Mendorong
koper menuju Liverpool Limestreet Station, naik kereta pukul 8.20 kembali ke
London. Dari London Euston Station, kami naik underground Northern Line ke
Leicester Square, untuk berganti underground Picadilly Line ke Heathrow. Saat
kami tiba di Heathrow, masih ada waktu 2,5 jam dari waktu keberangkatan
pesawat, saya pikir cukup waktu untuk check in, pemeriksaan hand carry,
imigrasi dan cuci mata di duty free store . Apa boleh buat, ternyata antrian
pemeriksaan hand carry sangat panjang, dan saya juga kelupaan tidak
mengeluarkan benda berbentuk cairan yang saya bawa (susu, obat-obatan) dari ransel
saya. Akibatnya, ransel saya dibongkar dan diperiksa satu persatu isinya oleh
petugas. Bahkan susu milik anak saya harus saya minum sedikit di depan petugas,
sebagai bukti bahwa saya tidak membawa makanan beracun (hehehe..) Saya
perhatikan memang semua penumpang yang membawa makanan harus membuka dan
memakannya sedikit di depan petugas.
Semua pemeriksaan ini memakan waktu 1,5 jam akibatnya saya
tidak sempat lagi melirik duty free store, padahal saya ingin sekali ke
Harrods. Kami berjalan cepat untuk mencari gate keberangkatan. Setelah duduk
dan rasa lelah hilang, barulah teringat bahwa kita tidak melalui loket
imigrasi! Ternyata memang di Heathrow tidak ada pengecekan imigrasi di gerbang
keberangkatan. Aneh juga ya. Padahal
saya perkirakan akan mengantri juga di loket imigrasi. Tidak tahu juga kenapa
seperti itu. Untung juga sih, bayangkan kalau kami masih harus antri di loket
imigrasi, bisa-bisa kami ketinggalan pesawat!
Tidak lama kemudian, panggilan untuk boarding terdengar.
Pesawat Etihad London-Jakarta yang kami tumpangi ternyata cukup kosong sehingga
masing-masing bisa tidur dengan selonjor. Sedangkan untuk Abu Dhabi-Jakarta
pesawat penuh karena banyak rombongan pulang umroh.
Selesai sudah liburan kami di Inggris dengan meninggalkan
kesan yang tak terlupakan. Apalagi kami ‘sukses’ membawa batita traveling jarak
jauh, Alhamdulillah semua dalam keadaan sehat, bahkan Natassja pun
hampir-hampir tak pernah rewel dan menikmati perjalanan. Sampai saat ini dia masih ingat dan bisa bercerita
tentang liburannya ke ‘Inggit’ (sebutan dia untuk Inggris). Seperti biasa,
waktu liburan selalu terasa kurang dan ada keinginan untuk kembali lagi ke
Inggris suatu saat nanti karena masih banyak tempat yang luput belum
dikunjungi....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar