Semula, saya
tidak tertarik untuk mengunjungi Vietnam. Dalam bayangan saya, apalah serunya
negara komunis yang nilai mata uangnya pun hanya setengah dari rupiah
Indonesia. Pasti yang dijumpai adalah kota-kota tua yang ketinggalan
jaman. Bagi penyuka wisata kota seperti
saya, kota-kota old fashioned yang kumuh dan tak terawat sama sekali tidak
menarik. Belum lagi pasti transportasi publiknya tidak jauh dari Indonesia:
membingungkan dan sama sekali tidak nyaman.
Pendapat saya mulai berubah ketika
saya banyak membaca postingan teman-teman di komunitas Backpacker Dunia. Mereka
bilang Vietnam negara yang menarik untuk dikunjungi, orangnya ramah dan
makanannya enak. Ditambah lagi salah seorang teman kuliah yang baru kembali
jalan-jalan dari Hanoi promosi habis-habisan. “Enak Wi! Apa-apa murah.
Barangnya bagus-bagus, kalahlah Bangkok!”
Jadi, ketika ada promo tiket dari
maskapai Airasia pada Januari 2013 lalu, saya pun mengontak Duma dan gerombolan
si berat, eh maksudnya emak rempong untuk mengajak jalan-jalan ke Vietnam. Tapi
rupanya hanya Duma yang tertarik. Yang lain memiliki pendapat yang sama seperti
saya dulu, ngapain jalan-jalan ke negara komunis. Akhirnya hanya kami yang
langsung pesan tiket untuk keberangkatan bulan November 2013. Lumayan, berangkat
Jakarta-Kuala Lumpur-Ho Chi Minh City dan pulang Hanoi-Kuala Lumpur-Surabaya
cuma Rp 1,8 juta saja.
Dua bulan menjelang berangkat, dua
orang anggota emak rempong (sekarang berubah nama menjadi ibu rempong, hehehe)
Teh Elin dan Mak Atun mendadak berubah pikiran. Mereka ingin ikut, jadi repot
lah Duma mencari tiket yang harganya tentu sudah jauh lebih mahal dibanding
tiket kami dulu. Dua minggu sebelum berangkat tambah lagi dua orang yang mau
ikut, yaitu mami Lely, ibunya Duma dan Bu May. Akhirnya kami berangkat berenam.
Untunglah masih bisa mendapat kamar di hotel yang sama.
Kebetulan sekali Duma punya teman
yang tinggal di Hanoi, yaitu Nungki dan suaminya bule Amerika yang bernama
Michael, dan mereka sangat antusias dengan kedatangan kami. Mereka berjanji
akan menemani kami jalan-jalan, wah suatu tawaran yang manis sekali. Menjelang
berangkat, tak sengaja saya membaca status Facebook seorang teman lama yang
ternyata sedang kunjungan dinas di Hanoi. Agus, teman saya semasa SMP dan SMA
itu sekarang tinggal di Washington DC dan bekerja di IMF. Sudah 24 tahun kami
tidak bertemu, lalu kami janjian untuk ketemuan di Hanoi. Wah, tambah
semangatlah saya untuk segera berangkat ke Vietnam.
Hari yang dinantipun tiba. Walaupun sedih karena meninggalkan anak-anak dirumah
dengan nenek dan kakeknya (kebetulan juga suami saya berangkat mengajar ke
Balikpapan), saya cukup bersemangat untuk memulai perjalanan. Kami berenam
bertemu di T3 Bandara Soekarno Hatta dan langsung terlibat dalam obrolan yang
seru, apalagi saya sudah setahun tidak bertemu dengan mereka. Pesawat berangkat
tepat waktu, transit cukup lama di LCCT airport Kuala Lumpur, dan mendarat
pukul 20.00 di Tan Son Nhat International Airport Ho Chi Minh City.
 |
| ngga sengaja bajunya seragam :) |
 |
| kotak-kotak... |
Karena tiba saat hari sudah malam,
saya sudah memesan airport pick up dari hotel tempat kami menginap. Sebenarnya
ada bus yang menuju pusat kota dari airport, tetapi bus itu hanya beroperasi
sampai pukul 6 sore saja. Alternatif lain adalah taksi. Saya sudah membaca
peringatan di buku panduan maupun blog traveler di internet untuk berhati-hati
memilih taksi mengingat banyaknya scam yang dilakukan oleh pengemudi taksi.
Taksi di HCMC yang recommended adalah Vinasun dan Mailinh Taxi. Jarak antara
airport dengan pusat kota tidak terlalu jauh, kurang lebih 20 menit berkendara
saat lalu lintas lancar. Tarif taksi berkisar 150.000-200.000 VND. Biaya
airport pick up lebih mahal, USD 20 one way, tapi demi keamanan dan kenyamanan
ibu rempong saya tetap memilih airport pick up dari hotel. Toh kami kan
berenam, jadi bisa urunan J
.jpg) |
| Signature Saigon Hoterl |
 |
| kamar cozy di Signature Saigon |
Hotel kami, Signature Saigon adalah
boutique hotel berbintang 3 yang terletak ditengah kota, hanya 300 meter dari
Ben Thanh Market. Kamarnya sangat cozy walaupun tidak terlalu besar, dan yang
penting harganya sangat terjangkau. Permalam hanya USD 46 atau Rp 500 ribu,
kalau urunan berdua jatuhnya hanya Rp 250 ribu/malam. Karena lelah, malam itu
kami langsung pulas tertidur setelah mandi dan berganti pakaian.
 |
| lobby hotel |
 |
| Vinasun, taksi andalan |
Keesokan harinya pukul 7.30 kami
sudah rapi dan siap untuk eksploring HCMC. Seperti biasa, ibu rempong
selalu pakai dress code supaya mudah
dicari kalau hilang, dan juga supaya di foto tampak kinclong :D Kalau kemarin
pakai blus kotak-kotak, hari ini kami tampak ngejreng dengan dress code warna
orange. Hmmm.. looks so fresh and juicy, hahaha...
Tujuan pertama adalah War Remnants
Museum. Meskipun tidak terlalu jauh, kami menumpang taksi untuk menuju kesana.
Ternyata, orang-orang Vietnam tidak terlalu mengenal nama resmi (dalam bahasa
Inggris) dari tempat-tempat wisata, termasuk supir taksi. Mereka hanya tahu
nama dalam bahasa Vietnamnya. Saya sempat heran, karena saya lihat cukup banyak
turis asing disini, tentu seharusnya mereka mengerti nama-nama tempat wisata
dalam bahasa Inggris. Kalau supir taksi di Indonesia tidak tahu tempat-tempat
yang terkenal, bisa habis mereka dimaki-maki penumpangnya!
Jalanan cukup ramai pagi itu, dan
seperti di Indonesia, banyaaaak sekali sepeda motor yang lalu lalang.
Belakangan saya tahu kalau harga mobil di Vietnam cukup mahal karena pajaknya
mencapai 100-200 persen dari harga mobil. Akibatnya, lalu lintas jadi sedikit
semrawut. Banyak diantara pengendara motor ini yang tidak memakai helm, ada
juga yang pakai helm tapi bukan helm standar seperti di Indonesia melainkan helm
catok alias helm mirip yg dipakai oleh pekerja bangunan atau pekerja tambang.
 |
| War Remnants Museum |
 |
| inside the museum |
 |
| backpacker style :) |
War Remnants Museum adalah museum
yang mendokumentasikan sejarah perang Vietnam berikut dampak-dampak pahit yang
terjadi akibat perang. Tiket masuknya seharga 15.000 VND. Museum ini cukup
lengkap dan menarik, terutama foto-foto yang sangat jelas menggambarkan
kekejian perang, termasuk kisah penggunaan senjata kimia agent orange (dioxin)
dan dampaknya terhadap korban perang (tentara dan warga sipil) serta
keturunannya. Meskipun banyak display yang menggiriskan hati, tapi ibu-ibu ini
tetap seru berfoto dengan berbagai gaya J
 |
| trotoar lebar dan bersih |
 |
| taman kota yang sejuk dan asri |
Dari sini kami melanjutkan
perjalanan menuju Notre Dame Cathedral. Menurut buku panduan yang saya baca,
jaraknya tidak terlalu jauh, kurang lebih 800 meter, karena itu saya memutuskan
untuk jalan kaki saja. Jalan kaki di HCMC ini ternyata cukup nyaman, karena
trotoar lebar-lebar, bersih dan juga banyak pohon-pohon rindang disepanjang
jalan. Belum lagi banyak taman-taman kota yang sejuk, bersih dan asri. Diluar
dugaan saya, kota ini ternyata cukup indah dan modern. Atau karena ini adalah
pusat kota yang banyak didatangi turis? Wallahualam.
 |
| Lucy dan ibu rempong |
Ditengah perjalanan kami berpapasan
dengan seorang bule yang masih muda dan cantik, Lucy namanya. Dia berasal dari
Australia dan bekerja di sebuah NGO yang mengurusi kaum migran di HCMC. Karena
searah dengan jalan ke kantornya, kamipun berjalan bersama-sama. Dia cukup baik
hati dengan menunjukkan beberapa tempat wisata di HCMC.
Belum lagi sampai di Notre Dame,
ibu-ibu rempong sudah mengeluh capek. Di sebuah taman akhirnya kami berhenti
dulu mengaso, sambil membuka perbekalan (namanya ibu-ibu, tidak pernah lupa
bawa bekal!). Padahal Notre Dame sudah tampak di depan mata. Rupanya taman ini
dan Notre Dame Cathedral adalah tempat favorit untuk melakukan pemotretan
pre-wedding. Ada beberapa pasangan yang siang itu sedang difoto. Sambil mengaso
kami jadi ikut menonton jalannya pemotretan. Mereka cuek bermake-up di taman,
melakukan berbagai pose bahkan sampai turun ke tengah jalan, akibatnya klakson
mobil pun jadi bersahut-sahutan.
 |
| ngaso di taman |
 |
| Notre Dame Cathedral |
 |
| Ibu rempong at Notre Dame Cathedral |
 |
| ikutan pemotretan pre wed |
Setelah puas mengambil gambar di
depan gereja, bahkan kami sempat diajak foto bareng oleh sepasang calon
pengantin yang sedang pemotretan pre-wed, kami menyeberang menuju gedung
Central Post Office. Seperti halnya gereja Notre Dame dan bangunan-bangunan
lain di sekitarnya, gedung kantor pos ini juga merupakan gedung tua bergaya
Eropa yang cantik. Tidak hanya cantik, gedung-gedung ini masih terawat dengan
baik. Selain masih berfungsi sebagai kantor pos, didalam gedung ini juga
terdapat toko-toko suvenir yang berkualitas baik walaupun harganya sedikit
mahal.
Mulanya saya tidak berencana
berbelanja disini karena harganya sedikit terlalu mahal, tetapi beberapa barang
terlihat so cute di mata saya, akhirnya sayapun tergoda untuk berbelanja
sedikit disini. Keputusan yang tidak saya sesali, karena ternyata suvenir
disini kualitasnya lebih baik daripada yang dijual di Ben Thanh Market
(terutama magnetnya). Ibu-ibu yang lain pun tak ketinggalan untuk mulai membuka
dompet dan berbelanja.
 |
| Central Post Office |
 |
| Central Post Office building |
Dari sini, kami berencana untuk
mampir di Hard Rock Cafe yang terletak di Le Duan Street. Kalau lihat dipeta,
letaknya tidak terlalu jauh dari Central Post Office. Namun ibu-ibu yang
kelelahan dan kepanasan minta untuk naik taksi saja. Ternyata, jaraknya sangat
dekat, tidak sampai 500 meter, hehehe... Supir taksi yang kami minta untuk
menunggu sebentar selama kami berbelanja malah kabur sebelum dibayar, mungkin
tidak sabar menunggu terlalu lama.
 |
| Hard Rock Cafe |
Seperti biasa, saya membeli magnet
untuk melengkapi koleksi saya, plus t shirt untuk suami dan anak sulung saya.
Ibu-ibu rempong yang semula hanya menemani saya, jadi ikut tergerak untuk
berbelanja J. Selain berbelanja, tentu saja tidak lupa kami berfoto di
depan icon gitar Hard Rock Cafe.
Karena taksi kami yang pertama
kabur, kami mencoba mencari taksi yang lain. Tetapi kali ini supir taksi
menolak mengantar kami ke City Hall karena menurutnya jaraknya terlalu dekat. Akhirnya kamipun berjalan kaki, melewati
kembali Notre Dame Cathedral dan Central Post Office. Ternyata jaraknya cukup
jauh, dan seperti biasa kami harus beristirahat berkali-kali, termasuk
jajan crispy waffel dan kelapa muda di
pinggir jalan, dan ‘ngadem’ di mall premium Vincom Center yang kami lewati.
Setelah melewati gedung Saigon Opera kamipun sampai di City Hall, dimana
terdapat patung Ho Chi Minh (Uncle Ho) menggendong seorang anak perempuan.
 |
| 'ngadem'minum kelapa muda di Vincom Center |
 |
| City Hall dan patung Ho Chi Minh |
 |
| ibu rempong dan uncle Ho |
Matahari yang bersinar sangat terik,
plus rasa lelah karena berjalan cukup jauh membuat kami tidak berlama-lama di
tempat ini. Setelah mengambil foto, kami beranjak ke tujuan selanjutnya, yaitu
Saigon Central Mosque. Kebetulan sudah masuk waktu Zuhur, maka kamipun sekalian
shalat dan beristirahat sejenak di satu-satunya mesjid yang ada di HCMC ini.
 |
| Saigon Central Mosque |
Saigon Central Mosque terletak di
Dong Du Street, tepat dibelakang bangunan Hotel Sheraton Saigon. Mesjid ini
tidak terlalu besar, tapi tampak bersih dan terawat. Kebetulan hari itu adalah
hari Jum’at jadi suasana masjid cukup ramai dengan jamaah shalat Jum’at. Ada
juga beberapa turis, termasuk sepasang turis dari Spanyol yang membantu
mengambilkan foto kami. Bagian perempuan berada di sisi mesjid sebelah kiri,
tidak terlalu besar. Yang membuat saya surprised, mukena-mukena milik masjid
yang digantung rapi di sebuah lemari semuanya dalam keadaan bersih dan wangi,
tidak seperti mukena milik mushalla atau mesjid di Indonesia yang biasanya
berbau tak sedap dan berwarna kekuningan atau kehitaman dibagian wajahnya. Ada
beberapa ibu tua yang rupanya ‘volunteer’ di mesjid tersebut, yang dengan sigap
mengambilkan mukena dan menggelarkan sajadah untuk kita. Sebagai tanda terima
kasih kami menyelipkan uang sekedarnya di tangan mereka.
 |
| jejeran resto halal di Dong Du Street |
 |
| Beef Pho, di Halal@Saigon |
Dong Du Street yang tidak seberapa
panjang ini dipadati oleh restoran-restoran halal di kiri-kanan jalan. Rupanya ini
adalah kawasan muslim di HCMC. Meskipun banyak, hampir semua restoran dalam
kondisi penuh siang itu, mungkin juga karena hari itu adalah hari jum’at dimana
banyak warga yang datang ke sini untuk shalat. Kami makan siang di restoran
Halal@Saigon yang letaknya tepat di seberang masjid. Disini kami mencicipi
berbagai makanan khas Vietnam seperti beef pho, chicken pho, spring roll, fish
soup dan juga ikan goreng dengan saus asam segar yang lezat. Melengkapi
kegembiraan hari ini, Teh Elin mentraktir kami untuk hidangan makan siang
istimewa ini, dalam rangka ulang tahunnya yang akan datang beberapa hari
kedepan. Alhamdulillaaaah... J
 |
| semangat shopping |
 |
| gembolan ibu rempong |
Perut yang sudah terisi penuh dan
istirahat yang cukup lama ternyata ampuh mengembalikan semangat ibu-ibu
rempong. Apalagi tujuan berikutnya adalah yang paling dinanti-nanti: belanja di
Ben Thanh Market! Sesampainya di pasar terbesar di HCMC, kami segera berpencar
untuk berburu oleh-oleh. Cukup banyak barang-barang ‘lucu’ disini, dan bila
kita pandai menawar, bisa didapatkan dengan harga yang sangat miring. Magnet
harganya hanya 10.000 VND (Rp 5.000) perbuah, sayang tidak terlalu banyak
variasinya. Magnet dengan kualitas lebih bagus di Central Post Office harganya
30.000-50.000 VND. Dompet koin 150.000 VND per 10 buah alias Rp 7.500 saja
perbuah, tas-tas sulaman 20.000 VND
perbuah. T shirt tersedia dalam berbagai kualitas dengan harga 53.000
VND-90.000 VND.
Hari sudah beranjak sore, satu
persatu mulai berkumpul, tinggal Mami dan Bu May yang belum tampak. Duma
memutuskan untuk berkeliling pasar mencari mereka sementara saya, Teh Elin dan
Mak Atun menunggu di pintu depan. Saat menunggu kami didekati oleh seorang
bapak tua pengemudi cyclo atau becak. Dia menawarkan untuk mengantar ke hotel
dengan tarif ‘fifteen thousands’. Mulanya kami tidak menghiraukan, tapi dia
memanggil 3 temannya yang lain dan seolah-olah menunggu kami. Becak di HCMC
memang hanya cukup untuk 1 orang, makanya dia memanggil teman-temannya. Setelah
Duma kembali dengan tangan hampa, akhrinya kami memutuskan untuk pulang saja ke
hotel dengan menumpang cyclo. Selain karena bawaan yang cukup banyak, kami
kasihan dengan para tukang becak yang sudah menunggu itu. Setelah kembali
meyakinkan bahwa tarifnya ‘fifteen thousands Dong’, kami pun naik. Ternyata, 50
meter sebelum sampai di hotel kami sudah diturunkan. Mereka beralasan tidak
boleh menurunkan penumpang di depan hotel. Duma yang menjadi bendahara kelompok
kami mengeluarkan uang 100.000 VND untuk ongkos, tiba-tiba saja mereka menjadi
beringas. Uang itu direbut dan mereka memaksa untuk meminta uamg lagi, katanya
uang itu kurang. Amplop tempat uang sempat direbut dan selembar uang 100.000
VND diambil mereka lagi. Saya yang belum tahu urusan berjalan menghampiri
sambil membuka kantong luar tas tempat saya menyimpan uang, karena saya kira
Duma ribut-ribut dengan tukang becak karena uangnya habis. Tak saya
sangka-sangka salah seorang tukang becak itu merogoh kantong saya dan menarik
uang 200.000 VND yang ada disitu. Spontan saya berteriak-teriak melawan. Mereka
terus memaksa meminta uang sambil mengeluarkan selebaran yang bertuliskan tarif
cyclo adalah 1.500.000 VND/person. Hah??? Naik becak 1,5 juta? Barulah saya
sadar kalau kami kena scam. Untunglah saya menaruh uang di tempat yang
terpisah-pisah sehingga tidak semua uang terambil, untung pula ibu-ibu yang
lain tidak sampai mengeluarkan dompetnya. Meskipun kami berteriak-teriak
(sampai kami memaki dalam bahasa Indonesia J ) tidak ada seorangpun yang membantu
kami. Baru setelah kami berteriak memanggil polisi, merekapun lari kabur
bersama cyclonya.
 |
| tukang becak scammer! |
Pengalaman buruk ini sempat membuat
saya bete dan kapok untuk berkunjung lagi ke Vietnam. Rasa takut karena baru
saja kena scam, tambah rasa jengkel karena merasa kecolongan (kok bisa-bisanya
saya kena) membuat mood saya jadi rusak. Apalagi setelah kami masuk kamar, Mami
dan Bu May yang ternyata sudah pulang duluan juga kena scam supir taksi!
Rupanya karena Mami merasa lelah, mereka berdua langsung pulang naik taksi
tanpa melihat lagi nama taksinya. Dengan argo kuda, jarak yang hanya 300 meter
itu mereka harus membayar 198.000 VND! Oh lala... benar-benar bikin bete!
.jpg) |
| night at Saigon River |
Walaupun bete, setelah maghrib kami
masih tetap keluar hotel karena masih ada beberapa tempat lagi yang ingin
dituju. Pertama kami jalan-jalan di pinggir sungai Saigon River, yang pada
malam hari berhiaskan lampu-lampu dari kapal-kapal yang tertambat disepanjang
sisi sungai. Kapal-kapal tersebut adalah restauran terapung, sambil menikmati makan malam kapal akan
berlayar menyusuri sungai selama kurang lebih 2 jam. Kami hanya berjalan-jalan
dipinggir sungai, yang cukup nyaman dengan banyaknya kursi taman dan
pedestrian. Dari situ kami menuju Parkson Mall untuk mencari baju permintaan
Sarah, anaknya Duma (kaya di Jakarta kekurangan mall saja J). Tujuan terakhir adalah kembali ke
Hard Rock Cafe untuk membeli t shirt titipan Agus, teman yang akan saya temui
di Hanoi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar