Selasa, 26 November 2013

VIETNAM: ANTARA SCAM, BADAI DAN KENANGAN INDAH (1)

Semula, saya tidak tertarik untuk mengunjungi Vietnam. Dalam bayangan saya, apalah serunya negara komunis yang nilai mata uangnya pun hanya setengah dari rupiah Indonesia. Pasti yang dijumpai adalah kota-kota tua yang ketinggalan jaman.  Bagi penyuka wisata kota seperti saya, kota-kota old fashioned yang kumuh dan tak terawat sama sekali tidak menarik. Belum lagi pasti transportasi publiknya tidak jauh dari Indonesia: membingungkan dan sama sekali tidak nyaman.

            Pendapat saya mulai berubah ketika saya banyak membaca postingan teman-teman di komunitas Backpacker Dunia. Mereka bilang Vietnam negara yang menarik untuk dikunjungi, orangnya ramah dan makanannya enak. Ditambah lagi salah seorang teman kuliah yang baru kembali jalan-jalan dari Hanoi promosi habis-habisan. “Enak Wi! Apa-apa murah. Barangnya bagus-bagus, kalahlah Bangkok!”

            Jadi, ketika ada promo tiket dari maskapai Airasia pada Januari 2013 lalu, saya pun mengontak Duma dan gerombolan si berat, eh maksudnya emak rempong untuk mengajak jalan-jalan ke Vietnam. Tapi rupanya hanya Duma yang tertarik. Yang lain memiliki pendapat yang sama seperti saya dulu, ngapain jalan-jalan ke negara komunis. Akhirnya hanya kami yang langsung pesan tiket untuk keberangkatan bulan November 2013. Lumayan, berangkat Jakarta-Kuala Lumpur-Ho Chi Minh City dan pulang Hanoi-Kuala Lumpur-Surabaya cuma Rp 1,8 juta saja.

            Dua bulan menjelang berangkat, dua orang anggota emak rempong (sekarang berubah nama menjadi ibu rempong, hehehe) Teh Elin dan Mak Atun mendadak berubah pikiran. Mereka ingin ikut, jadi repot lah Duma mencari tiket yang harganya tentu sudah jauh lebih mahal dibanding tiket kami dulu. Dua minggu sebelum berangkat tambah lagi dua orang yang mau ikut, yaitu mami Lely, ibunya Duma dan Bu May. Akhirnya kami berangkat berenam. Untunglah masih bisa mendapat kamar di hotel yang sama.

            Kebetulan sekali Duma punya teman yang tinggal di Hanoi, yaitu Nungki dan suaminya bule Amerika yang bernama Michael, dan mereka sangat antusias dengan kedatangan kami. Mereka berjanji akan menemani kami jalan-jalan, wah suatu tawaran yang manis sekali. Menjelang berangkat, tak sengaja saya membaca status Facebook seorang teman lama yang ternyata sedang kunjungan dinas di Hanoi. Agus, teman saya semasa SMP dan SMA itu sekarang tinggal di Washington DC dan bekerja di IMF. Sudah 24 tahun kami tidak bertemu, lalu kami janjian untuk ketemuan di Hanoi. Wah, tambah semangatlah saya untuk segera berangkat ke Vietnam.

            Hari yang dinantipun tiba. Walaupun  sedih karena meninggalkan anak-anak dirumah dengan nenek dan kakeknya (kebetulan juga suami saya berangkat mengajar ke Balikpapan), saya cukup bersemangat untuk memulai perjalanan. Kami berenam bertemu di T3 Bandara Soekarno Hatta dan langsung terlibat dalam obrolan yang seru, apalagi saya sudah setahun tidak bertemu dengan mereka. Pesawat berangkat tepat waktu, transit cukup lama di LCCT airport Kuala Lumpur, dan mendarat pukul 20.00 di Tan Son Nhat International Airport  Ho Chi Minh City.


ngga sengaja bajunya seragam :)
kotak-kotak...
           Karena tiba saat hari sudah malam, saya sudah memesan airport pick up dari hotel tempat kami menginap. Sebenarnya ada bus yang menuju pusat kota dari airport, tetapi bus itu hanya beroperasi sampai pukul 6 sore saja. Alternatif lain adalah taksi. Saya sudah membaca peringatan di buku panduan maupun blog traveler di internet untuk berhati-hati memilih taksi mengingat banyaknya scam yang dilakukan oleh pengemudi taksi. Taksi di HCMC yang recommended adalah Vinasun dan Mailinh Taxi. Jarak antara airport dengan pusat kota tidak terlalu jauh, kurang lebih 20 menit berkendara saat lalu lintas lancar. Tarif taksi berkisar 150.000-200.000 VND. Biaya airport pick up lebih mahal, USD 20 one way, tapi demi keamanan dan kenyamanan ibu rempong saya tetap memilih airport pick up dari hotel. Toh kami kan berenam, jadi bisa urunan J


Signature Saigon Hoterl
kamar cozy di Signature Saigon
            Hotel kami, Signature Saigon adalah boutique hotel berbintang 3 yang terletak ditengah kota, hanya 300 meter dari Ben Thanh Market. Kamarnya sangat cozy walaupun tidak terlalu besar, dan yang penting harganya sangat terjangkau. Permalam hanya USD 46 atau Rp 500 ribu, kalau urunan berdua jatuhnya hanya Rp 250 ribu/malam. Karena lelah, malam itu kami langsung pulas tertidur setelah mandi dan berganti pakaian.
lobby hotel
Vinasun,  taksi andalan
            Keesokan harinya pukul 7.30 kami sudah rapi dan siap untuk eksploring HCMC. Seperti biasa, ibu rempong selalu  pakai dress code supaya mudah dicari kalau hilang, dan juga supaya di foto tampak kinclong :D Kalau kemarin pakai blus kotak-kotak, hari ini kami tampak ngejreng dengan dress code warna orange. Hmmm.. looks so fresh and juicy, hahaha...

            Tujuan pertama adalah War Remnants Museum. Meskipun tidak terlalu jauh, kami menumpang taksi untuk menuju kesana. Ternyata, orang-orang Vietnam tidak terlalu mengenal nama resmi (dalam bahasa Inggris) dari tempat-tempat wisata, termasuk supir taksi. Mereka hanya tahu nama dalam bahasa Vietnamnya. Saya sempat heran, karena saya lihat cukup banyak turis asing disini, tentu seharusnya mereka mengerti nama-nama tempat wisata dalam bahasa Inggris. Kalau supir taksi di Indonesia tidak tahu tempat-tempat yang terkenal, bisa habis mereka dimaki-maki penumpangnya!

            Jalanan cukup ramai pagi itu, dan seperti di Indonesia, banyaaaak sekali sepeda motor yang lalu lalang. Belakangan saya tahu kalau harga mobil di Vietnam cukup mahal karena pajaknya mencapai 100-200 persen dari harga mobil. Akibatnya, lalu lintas jadi sedikit semrawut. Banyak diantara pengendara motor ini yang tidak memakai helm, ada juga yang pakai helm tapi bukan helm standar seperti di Indonesia melainkan helm catok alias helm mirip yg dipakai oleh pekerja bangunan atau pekerja tambang.


War Remnants Museum
inside the museum
backpacker style :)
            War Remnants Museum adalah museum yang mendokumentasikan sejarah perang Vietnam berikut dampak-dampak pahit yang terjadi akibat perang. Tiket masuknya seharga 15.000 VND. Museum ini cukup lengkap dan menarik, terutama foto-foto yang sangat jelas menggambarkan kekejian perang, termasuk kisah penggunaan senjata kimia agent orange (dioxin) dan dampaknya terhadap korban perang (tentara dan warga sipil) serta keturunannya. Meskipun banyak display yang menggiriskan hati, tapi ibu-ibu ini tetap seru berfoto dengan berbagai gaya J


trotoar lebar dan bersih
taman kota yang sejuk dan asri
            Dari sini kami melanjutkan perjalanan menuju Notre Dame Cathedral. Menurut buku panduan yang saya baca, jaraknya tidak terlalu jauh, kurang lebih 800 meter, karena itu saya memutuskan untuk jalan kaki saja. Jalan kaki di HCMC ini ternyata cukup nyaman, karena trotoar lebar-lebar, bersih dan juga banyak pohon-pohon rindang disepanjang jalan. Belum lagi banyak taman-taman kota yang sejuk, bersih dan asri. Diluar dugaan saya, kota ini ternyata cukup indah dan modern. Atau karena ini adalah pusat kota yang banyak didatangi turis? Wallahualam.


Lucy dan ibu rempong
            Ditengah perjalanan kami berpapasan dengan seorang bule yang masih muda dan cantik, Lucy namanya. Dia berasal dari Australia dan bekerja di sebuah NGO yang mengurusi kaum migran di HCMC. Karena searah dengan jalan ke kantornya, kamipun berjalan bersama-sama. Dia cukup baik hati dengan menunjukkan beberapa tempat wisata di HCMC.

            Belum lagi sampai di Notre Dame, ibu-ibu rempong sudah mengeluh capek. Di sebuah taman akhirnya kami berhenti dulu mengaso, sambil membuka perbekalan (namanya ibu-ibu, tidak pernah lupa bawa bekal!). Padahal Notre Dame sudah tampak di depan mata. Rupanya taman ini dan Notre Dame Cathedral adalah tempat favorit untuk melakukan pemotretan pre-wedding. Ada beberapa pasangan yang siang itu sedang difoto. Sambil mengaso kami jadi ikut menonton jalannya pemotretan. Mereka cuek bermake-up di taman, melakukan berbagai pose bahkan sampai turun ke tengah jalan, akibatnya klakson mobil pun jadi bersahut-sahutan.


ngaso di taman
Notre Dame Cathedral
Ibu rempong at Notre Dame Cathedral
    
ikutan pemotretan pre wed

    Setelah puas mengambil gambar di depan gereja, bahkan kami sempat diajak foto bareng oleh sepasang calon pengantin yang sedang pemotretan pre-wed, kami menyeberang menuju gedung Central Post Office. Seperti halnya gereja Notre Dame dan bangunan-bangunan lain di sekitarnya, gedung kantor pos ini juga merupakan gedung tua bergaya Eropa yang cantik. Tidak hanya cantik, gedung-gedung ini masih terawat dengan baik. Selain masih berfungsi sebagai kantor pos, didalam gedung ini juga terdapat toko-toko suvenir yang berkualitas baik walaupun harganya sedikit mahal.

            Mulanya saya tidak berencana berbelanja disini karena harganya sedikit terlalu mahal, tetapi beberapa barang terlihat so cute di mata saya, akhirnya sayapun tergoda untuk berbelanja sedikit disini. Keputusan yang tidak saya sesali, karena ternyata suvenir disini kualitasnya lebih baik daripada yang dijual di Ben Thanh Market (terutama magnetnya). Ibu-ibu yang lain pun tak ketinggalan untuk mulai membuka dompet dan berbelanja.
Central Post Office
Central Post Office building
            Dari sini, kami berencana untuk mampir di Hard Rock Cafe yang terletak di Le Duan Street. Kalau lihat dipeta, letaknya tidak terlalu jauh dari Central Post Office. Namun ibu-ibu yang kelelahan dan kepanasan minta untuk naik taksi saja. Ternyata, jaraknya sangat dekat, tidak sampai 500 meter, hehehe... Supir taksi yang kami minta untuk menunggu sebentar selama kami berbelanja malah kabur sebelum dibayar, mungkin tidak sabar menunggu terlalu lama.


Hard Rock Cafe

            Seperti biasa, saya membeli magnet untuk melengkapi koleksi saya, plus t shirt untuk suami dan anak sulung saya. Ibu-ibu rempong yang semula hanya menemani saya, jadi ikut tergerak untuk berbelanja J. Selain berbelanja, tentu saja tidak lupa kami berfoto di depan icon gitar Hard Rock Cafe.

            Karena taksi kami yang pertama kabur, kami mencoba mencari taksi yang lain. Tetapi kali ini supir taksi menolak mengantar kami ke City Hall karena menurutnya jaraknya terlalu dekat.  Akhirnya kamipun berjalan kaki, melewati kembali Notre Dame Cathedral dan Central Post Office. Ternyata jaraknya cukup jauh, dan seperti biasa kami harus beristirahat berkali-kali, termasuk jajan  crispy waffel dan kelapa muda di pinggir jalan, dan ‘ngadem’ di mall premium Vincom Center yang kami lewati. Setelah melewati gedung Saigon Opera kamipun sampai di City Hall, dimana terdapat patung Ho Chi Minh (Uncle Ho) menggendong seorang anak perempuan.
'ngadem'minum kelapa muda di Vincom Center
City Hall dan patung Ho Chi Minh
ibu rempong dan uncle Ho
            Matahari yang bersinar sangat terik, plus rasa lelah karena berjalan cukup jauh membuat kami tidak berlama-lama di tempat ini. Setelah mengambil foto, kami beranjak ke tujuan selanjutnya, yaitu Saigon Central Mosque. Kebetulan sudah masuk waktu Zuhur, maka kamipun sekalian shalat dan beristirahat sejenak di satu-satunya mesjid yang ada di HCMC ini.


Saigon Central Mosque
   
      
   Saigon Central Mosque terletak di Dong Du Street, tepat dibelakang bangunan Hotel Sheraton Saigon. Mesjid ini tidak terlalu besar, tapi tampak bersih dan terawat. Kebetulan hari itu adalah hari Jum’at jadi suasana masjid cukup ramai dengan jamaah shalat Jum’at. Ada juga beberapa turis, termasuk sepasang turis dari Spanyol yang membantu mengambilkan foto kami. Bagian perempuan berada di sisi mesjid sebelah kiri, tidak terlalu besar. Yang membuat saya surprised, mukena-mukena milik masjid yang digantung rapi di sebuah lemari semuanya dalam keadaan bersih dan wangi, tidak seperti mukena milik mushalla atau mesjid di Indonesia yang biasanya berbau tak sedap dan berwarna kekuningan atau kehitaman dibagian wajahnya. Ada beberapa ibu tua yang rupanya ‘volunteer’ di mesjid tersebut, yang dengan sigap mengambilkan mukena dan menggelarkan sajadah untuk kita. Sebagai tanda terima kasih kami menyelipkan uang sekedarnya di tangan mereka.


jejeran resto halal di Dong Du Street
Beef Pho, di Halal@Saigon
            Dong Du Street yang tidak seberapa panjang ini dipadati oleh restoran-restoran halal di kiri-kanan jalan. Rupanya ini adalah kawasan muslim di HCMC. Meskipun banyak, hampir semua restoran dalam kondisi penuh siang itu, mungkin juga karena hari itu adalah hari jum’at dimana banyak warga yang datang ke sini untuk shalat. Kami makan siang di restoran Halal@Saigon yang letaknya tepat di seberang masjid. Disini kami mencicipi berbagai makanan khas Vietnam seperti beef pho, chicken pho, spring roll, fish soup dan juga ikan goreng dengan saus asam segar yang lezat. Melengkapi kegembiraan hari ini, Teh Elin mentraktir kami untuk hidangan makan siang istimewa ini, dalam rangka ulang tahunnya yang akan datang beberapa hari kedepan. Alhamdulillaaaah... J

semangat shopping
gembolan ibu rempong
            Perut yang sudah terisi penuh dan istirahat yang cukup lama ternyata ampuh mengembalikan semangat ibu-ibu rempong. Apalagi tujuan berikutnya adalah yang paling dinanti-nanti: belanja di Ben Thanh Market! Sesampainya di pasar terbesar di HCMC, kami segera berpencar untuk berburu oleh-oleh. Cukup banyak barang-barang ‘lucu’ disini, dan bila kita pandai menawar, bisa didapatkan dengan harga yang sangat miring. Magnet harganya hanya 10.000 VND (Rp 5.000) perbuah, sayang tidak terlalu banyak variasinya. Magnet dengan kualitas lebih bagus di Central Post Office harganya 30.000-50.000 VND. Dompet koin 150.000 VND per 10 buah alias Rp 7.500 saja perbuah, tas-tas sulaman  20.000 VND perbuah. T shirt tersedia dalam berbagai kualitas dengan harga 53.000 VND-90.000 VND.

            Hari sudah beranjak sore, satu persatu mulai berkumpul, tinggal Mami dan Bu May yang belum tampak. Duma memutuskan untuk berkeliling pasar mencari mereka sementara saya, Teh Elin dan Mak Atun menunggu di pintu depan. Saat menunggu kami didekati oleh seorang bapak tua pengemudi cyclo atau becak. Dia menawarkan untuk mengantar ke hotel dengan tarif ‘fifteen thousands’. Mulanya kami tidak menghiraukan, tapi dia memanggil 3 temannya yang lain dan seolah-olah menunggu kami. Becak di HCMC memang hanya cukup untuk 1 orang, makanya dia memanggil teman-temannya. Setelah Duma kembali dengan tangan hampa, akhrinya kami memutuskan untuk pulang saja ke hotel dengan menumpang cyclo. Selain karena bawaan yang cukup banyak, kami kasihan dengan para tukang becak yang sudah menunggu itu. Setelah kembali meyakinkan bahwa tarifnya ‘fifteen thousands Dong’, kami pun naik. Ternyata, 50 meter sebelum sampai di hotel kami sudah diturunkan. Mereka beralasan tidak boleh menurunkan penumpang di depan hotel. Duma yang menjadi bendahara kelompok kami mengeluarkan uang 100.000 VND untuk ongkos, tiba-tiba saja mereka menjadi beringas. Uang itu direbut dan mereka memaksa untuk meminta uamg lagi, katanya uang itu kurang. Amplop tempat uang sempat direbut dan selembar uang 100.000 VND diambil mereka lagi. Saya yang belum tahu urusan berjalan menghampiri sambil membuka kantong luar tas tempat saya menyimpan uang, karena saya kira Duma ribut-ribut dengan tukang becak karena uangnya habis. Tak saya sangka-sangka salah seorang tukang becak itu merogoh kantong saya dan menarik uang 200.000 VND yang ada disitu. Spontan saya berteriak-teriak melawan. Mereka terus memaksa meminta uang sambil mengeluarkan selebaran yang bertuliskan tarif cyclo adalah 1.500.000 VND/person. Hah??? Naik becak 1,5 juta? Barulah saya sadar kalau kami kena scam. Untunglah saya menaruh uang di tempat yang terpisah-pisah sehingga tidak semua uang terambil, untung pula ibu-ibu yang lain tidak sampai mengeluarkan dompetnya. Meskipun kami berteriak-teriak (sampai kami memaki dalam bahasa Indonesia J ) tidak ada seorangpun yang membantu kami. Baru setelah kami berteriak memanggil polisi, merekapun lari kabur bersama cyclonya.

tukang becak scammer!
            Pengalaman buruk ini sempat membuat saya bete dan kapok untuk berkunjung lagi ke Vietnam. Rasa takut karena baru saja kena scam, tambah rasa jengkel karena merasa kecolongan (kok bisa-bisanya saya kena) membuat mood saya jadi rusak. Apalagi setelah kami masuk kamar, Mami dan Bu May yang ternyata sudah pulang duluan juga kena scam supir taksi! Rupanya karena Mami merasa lelah, mereka berdua langsung pulang naik taksi tanpa melihat lagi nama taksinya. Dengan argo kuda, jarak yang hanya 300 meter itu mereka harus membayar 198.000 VND! Oh lala... benar-benar bikin bete!
night at Saigon River
            Walaupun bete, setelah maghrib kami masih tetap keluar hotel karena masih ada beberapa tempat lagi yang ingin dituju. Pertama kami jalan-jalan di pinggir sungai Saigon River, yang pada malam hari berhiaskan lampu-lampu dari kapal-kapal yang tertambat disepanjang sisi sungai. Kapal-kapal tersebut adalah restauran terapung,  sambil menikmati makan malam kapal akan berlayar menyusuri sungai selama kurang lebih 2 jam. Kami hanya berjalan-jalan dipinggir sungai, yang cukup nyaman dengan banyaknya kursi taman dan pedestrian. Dari situ kami menuju Parkson Mall untuk mencari baju permintaan Sarah, anaknya Duma (kaya di Jakarta kekurangan mall saja J). Tujuan terakhir adalah kembali ke Hard Rock Cafe untuk membeli t shirt titipan Agus, teman yang akan saya temui di Hanoi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar