Kamis, 09 Mei 2013

HONGKONG-MACAU, THE LAST MINUTE TRIP WITH BFF


Sebagai penyuka travelling, browsing penerbangan murah atau promo adalah salah satu kegiatan saya mengisi waktu luang. Oleh karena itu, ketika 9 bulan yang lalu saya menemukan bahwa salah satu low cost airline menyelenggarakan promo tiket murah pulang pergi ke Bangkok, dengan penuh semangat saya mengabarkannya kepada teman-teman yang juga memiliki hobi yang sama. Terkumpullah 3 orang yang akan pergi bersama, dan disusunlah rencana untuk berwisata murah di Bangkok 8 bulan lagi.
                Berbagai persiapan kembali dilakukan sebulan menjelang keberangkatan, antara lain dengan memesan kamar hotel melalui sebuah agen perjalanan dan menyusun itinerary. Sudah terbayang didalam benak betapa serunya berwisata dan berbelanja bersama teman-teman yang sudah sekian bulan lamanya tidak bertemu. Setiap chatting kami selalu membicarakan serunya acara kami di Bangkok nanti.
                Seminggu menjelang keberangkatan kami mulai cemas mendengar tentang bencana banjir yang melanda sebagian wilayah Thailand. Meskipun demikian, dari berita-berita yang kami baca dan lihat di internet banjir belum masuk ke wilayah Bangkok maupun Bandara Internasional Suvarnabhumi. Hal tersebut sedikit melegakan kami, apalagi agen perjalanan tempat kami memesan kamar hotel dan tur  tidak membatalkan rencana keberangkatan.
                Sayang seribu sayang, sehari menjelang keberangkatan, agen perjalanan kami menelepon dan mengabarkan bahwa rencana tur kami dibatalkan karena banjir telah masuk ke dalam kota Bangkok. Beberapa tempat wisatapun sudah ditutup karena sudah terkena ataupun terancam banjir. Meskipun  pihak perusahaan penerbangan tidak membatalkan penerbangan dan hotel yang rencananya kami tempati aman dari ancaman banjir, tentulah tidak nyaman apabila harus berjalan-jalan di kota yang situasinya masih terkena musibah. Kondisinya pasti tidak jauh berbeda dengan keadaan Jakarta ketika dilanda banjir besar tahun 2007 lalu.
                Pihak agen perjalanan menawarkan untuk mengalihkan tujuan wisata. Teman-teman saya yang sudah kebelet ingin jalan-jalanpun berkeinginan sama, dan tetap ingin berangkat di tanggal yang sama. Sempat bingung mau pergi kemana, terasa saat itu sulitnya buat kita yang berpaspor hijau, yang perlu visa untuk masuk ke  lebih dari 90 % negara di dunia ini.
Akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Hong Kong. Kebetulan saat itu tiket penerbangan ke Hong Kong untuk keesokan harinya masih tersedia. Sedikit masalah timbul ketika mencari penginapan. Semua hotel fully-booked, bisa dimaklumi karena kami memesan saat last minute.  Kalaupun ada, itu adalah suite room di hotel berbintang lima yang harganya jauh diluar jangkauan kami. Untunglah agen perjalanan kami memiliki nomor telepon beberapa orang Indonesia di Hong Kong yang dapat mencarikan apartemen sewaan. Menjelang tengah malam, kami baru mendapatkan kepastian adanya apartemen yang dapat disewa.
Maka berangkatlah kami keesokan harinya menuju tujuan yang tidak kami rencanakan sebelumnya, Hong Kong. Sebagai orang yang terbiasa menyusun rencana detail dalam setiap acara travelling, aneh rasanya untuk saya bepergian tanpa ada itinerary yang sudah tersusun. Untunglah ini adalah kunjungan saya yang ketiga ke Hong Kong sehingga saya sudah memiliki bayangan tentang kota ini, bahkan masih menyimpan buku traveling mengenai Hong Kong dan peta kotanya. Diatas pesawat yang membawa kami ke Hong Kong, kami baru berdiskusi menyusun itinerary liburan kami selama 3 hari di Hong Kong.
Kami mendarat di Hong Kong menjelang tengah malam. Sesuai petunjuk dari orang yang mencarikan apartemen, setelah semua proses imigrasi dan pengambilan bagasi selesai kami bergegas menuju terminal bus dan menunggu bus yang akan membawa kami ke kawasan Causeway Bay, tempat apartemen sewaan kami berada. Kami dijemput oleh Cecil, orang Indonesia yang mencarikan kami apartemen di halte bus Yee Woo Street, dan diantarkan ke apartemen yang berada di Kingston Street.
Sebagaimana umumnya apartemen biasa (bukan serviced apartment yang berfasilitas seperti hotel) di Hong Kong, apartemen sewaan kami memiliki kamar yang berukuran supermini (sekitar 3x3 m) dengan 2 bunk bed dan satu meja kecil tanpa lemari ataupun cermin. Tidak mengapa untuk kami, sepanjang apartemen tersebut (dan kamar mandinya) bersih dan rapi. 

Ngong Ping 360
Keesokan harinya, hari pertama kami di Hong Kong, pagi-pagi sekali kami berangkat menuju Ngong Ping, tempat berdirinya Giant Buddha Statue di Lantau Island. Kami menumpang MTR (subway) menuju stasiun Tung Chung dan dilanjutkan dengan menggunakan cable car selama 25 menit. Pemandangan dari cable car sangat mengagumkan. Melewati bukit dan danau, dari kejauhan nampak gedung-gedung pencakar langit dan bandar udara internasional Hong Kong.
Pemandangan di Ngong Ping juga indah. Udara sejuk karena berada di puncak bukit. Selain patung Giant Buddha juga ada pertunjukan Monkey Tale dan Walking With Buddha. Restauran dan toko suvenirpun berjajar rapi menyambut pengunjung. Tanpa terasa, tiba saatnya makan siang. Untunglah, di salah satu restauran yang ada, tampak ada yang memajang label  halal di jendelanya. Di restauran Ebenezeer yang menawarkan masakan Timur Tengah seperti Chicken Briyanni dan Fish Curry itulah kami makan siang. Rasanya pun lumayan lezat, cocok dengan lidah melayu kami.
Selesai makan siang, kami turun kembali ke kawasan Tung Chung dan menyempatkan diri berbelanja di Citygate Outlets, sebuah mall yang terdiri dari toko-toko branded dengan harga hanya 30-50 % dari harga normalnya. Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan dengan MTR  ke kawasan Garden Road untuk menuju The Peak Tower.
Emak Rempong di Disneyland HK
Sore dan hingga malam kami habiskan di The Peak Tower. Menumpang The Peak Tram, tram kayu tua buatan tahun 1881 yang berjalan mendaki dengan kemiringan kurang lebih 25 derajat, kami menuju The Peak Tower. Mengunjungi Madamme Tussauds Musseum, melihat Hong Kong dari ketinggian di Sky Terrace, dan berbelanja souvenir dan oleh-oleh khas Hong Kong, terutama magnet kulkas yang menjadi barang koleksi kami bertiga.
The Peak HK
Hari kedua, kami sepakat untuk melakukan one day trip ke Macau. Tidak satupun dari kami yang pernah ke Macau sebelumnya, jadi hanya bermodal informasi dari Cecil dan tourism map yang kami ambil di Macau Tourism Centre, kami pun siap menjelajah Macau.
Pagi-pagi sekali kami sudah mengantri di Hong Kong – Macau Ferry Terminal di Shun Tak Centre di kawasan Seung Wan. Perjalanan menggunakan turbojet ferry memakan waktu kurang lebih satu jam lamanya. Perjalanan cukup menyenangkan walaupun ombak sedikit keras, ferry nya pun bersih, ber AC dan cukup nyaman. Karena hari itu adalah hari sabtu, ferry tampak penuh oleh orang-orang Hong Kong yang nampaknya akan menghabiskan akhir minggu dengan berjudi di Macau. Dari sekian banyak penumpang, tampaknya hanya kami bertiga yang berkerudung, sehingga teman saya berkelakar bahwa kami adalah ustadzah kesasar..
Kwan Im Statue

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah salah satu landmark icon Macau, yaitu patung Dewi Kun Lam, atau Dewi Kwan Im. Karena hari masih pagi, suasana masih sepi sehingga kami cukup lama mengambil foto di patung tersebut dan taman didekatnya.
Selanjutnya kami menumpang taksi menuju kawasan Senado Square. Sebuah alun-alun dikawasan kota tua di Macau City, sebuah tourism spot yang sangat ramai dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua peninggalan bangsa Portugis. Di tempat ini banyak terdapat gereja, dan museum, selain tentu saja deretan toko-toko dan restauran. Bangunan yang terkenal di tempat ini antara lain gereja St. Dominic, Macau Museum dan tentu saja salah satu bangunan iconic Macau, reruntuhan gereja St. Paul. Bangunan ini adalah salah satu dari UNESCO World Heritage Site. Nampaknya tujuan semua turis di Senado Square ini adalah reruntuhan gereja St. Paul, gereja yang terbakar pada tahun  1835 dan hanya menyisakan dinding depan bangunan tersebut. Sampai saat ini, dinding tersebut masih dipertahankan dan ditopang dangan tiang-tiang baja dibelakangnya.
St Paul's Church
Selain mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah tersebut, kami juga berburu barang souvenir dan oleh-oleh khas Macau di tempat ini. Kami juga sempat mencicipi kue khas Portugis yang lezat, egg tart di Pastellaria Koi Kei, sebuah toko makanan yang terkenal di Macau. Selain egg tart, makanan khas Macau yang dijual di tempat ini adalah ginger candy dan sejenis dendeng yang terbuat dari daging babi dan daging sapi.
bersama gondolier
Setelah puas mengelilingi kawasan Senado Square, dengan menggunakan shuttle bus gratis kami mengunjungi salah satu casino yang sedang happening di Macau, yaitu The Venetian Resort.  The Venetian Resort adalah sebuah kompleks yang terdiri dari casino, hotel dan tempat berbelanja premium. Selain melihat dari jauh kesibukan sebuah casino (tentu saja kami tak berani masuk), kami juga naik gondola yang terdapat di shopping centre The Venetian. Layaknya gondola di Venesia Italia, gondolier (pengayuh gondola) di The Venetian Macau ini juga berparas ganteng dan cantik serta pandai menyanyi. Dengan tiket seharga 118 MOP (Macau Patacas, mata uang Macau) kita dapat menyusuri ‘grand canal’ yang melintasi shopping centre sembari mendengarkan suara merdu para gondolier.

Tanpa terasa, matahari sudah hampir condong ke barat. Kamipun bergegas kembali ke Macau Ferry Terminal untuk kembali ke Hong Kong. Sebetulnya, pemandangan malam hari di Macau luar biasa. Tertama karena permainan cahaya yang indah dari casino-casino yang bertebaran di kota ini. Mungkin seperti Las Vegas yang sering saya saksikan di film-film Amerika. Karena keterbatasan waktu, kami tidak dapat menikmatinya. Sebagai gantinya, setelah ferry merapat di Hong Kong, kami langsung menuju Avenue of Stars di kawasan Tsim Sha Shui, untuk menikmati Hong Kong city lights yang juga indah.
Hari terakhir liburan, kami hanya memiliki waktu setengah hari, karena pukul 14.00 kami sudah harus ada di bandara. Kami putuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Causeway Bay saja. Kebetulan hari itu adalah hari minggu, kamipun berjalan kaki menuju Victoria Park yang masih berada di kawasan Causeway Bay. Kami ingin merasakan suasana ‘Minggu Pagi di Victoria Park’, seperti judul film besutan sutradara Lola Amaria. Apalagi menurut cerita para pelayan restauran Indonesia di Sugar Street, hari minggu kawasan ini sangat ramai dipenuhi para Tenaga Kerja Indonesia, terutama yang wanita, yang menikmati hari libur mereka.
Victoria Park, masih sepi

Benar saja, di Kenwick Street dan Sugar Street yang menuju ke Victoria Park, sejak pagi sudah penuh dengan hilir mudik wajah-wajah melayu. Dandanan mereka bermacam-macam, mulai dari yang ‘biasa’ dengan bercelana jeans, T-Shirt ataupun yang berjilbab, sampai yang ‘ultra ajaib’ seperti potongan rambut yang aneh dan berwarna warni, hotpants super pendek dan stocking warna neon, riasan wajah gothic dengan tindikan banyak di hidung, telinga dan alis, yang tentunya tidak mungkin mereka kenakan di kampung halaman mereka. Satu kesamaan mereka, yaitu berbicara menggunakan bahasa Jawa berbagai dialek atau bahasa Indonesia yang masih medok Jawa.
Suasanapun menjadi seperti berada di Indonesia. Lagu-lagu yang diputar toko-toko disekitar kawasan inipun lagu Indonesia, seperti lagu-lagu dari Band Wali atau Band Ungu. Iklan-iklan di banner ataupun papan-papan yang dibawa berlalu lalang pun dalam bahasa Indonesia, umumnya iklan dari provider telepon selular.

Para TKI berkerumun di dekat supermarket Indonesia
Kamipun berbaur dengan mereka. Mengobrol dan bercerita tentang berbagai macam hal, terutama tentang pekerjaan dan hidup mereka sehari-hari di tanah perantauan. Kami bahkan dikira sebagai salah satu dari mereka, TKW pendatang baru di Hong Kong.Mungkin karena wajah melayu dan kerudung kami, beberapa kali kami dikira sebagai sesama TKW ketika bertemu dengan mereka di dalam MTR. Apalagi kami bukan orang-orang yang dressed-up atau bermake-up, dan kamipun kesana kemari dengan kendaraan umum, bukan dengan bus pengangkut rombongan turis.
Hari sudah beranjak siang, kamipun harus kembali ke apartemen untuk berkemas dan segera mengejar bus menuju bandara. Liburan kami selesai sudah. Ternyata, walaupun mendadak tanpa itinerary yang detail, kami bisa menikmati liburan yang menyenangkan dan memperoleh banyak pengalaman baru!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar