Sebagai penyuka travelling, browsing penerbangan murah atau
promo adalah salah satu kegiatan saya mengisi waktu luang. Oleh karena itu,
ketika 9 bulan yang lalu saya menemukan bahwa salah satu low cost airline
menyelenggarakan promo tiket murah pulang pergi ke Bangkok, dengan penuh
semangat saya mengabarkannya kepada teman-teman yang juga memiliki hobi yang
sama. Terkumpullah 3 orang yang akan pergi bersama, dan disusunlah rencana untuk
berwisata murah di Bangkok 8 bulan lagi.
Berbagai persiapan kembali
dilakukan sebulan menjelang keberangkatan, antara lain dengan memesan kamar
hotel melalui sebuah agen perjalanan dan menyusun itinerary. Sudah terbayang
didalam benak betapa serunya berwisata dan berbelanja bersama teman-teman yang
sudah sekian bulan lamanya tidak bertemu. Setiap chatting kami selalu
membicarakan serunya acara kami di Bangkok nanti.
Seminggu menjelang keberangkatan
kami mulai cemas mendengar tentang bencana banjir yang melanda sebagian wilayah
Thailand. Meskipun demikian, dari berita-berita yang kami baca dan lihat di
internet banjir belum masuk ke wilayah Bangkok maupun Bandara Internasional
Suvarnabhumi. Hal tersebut sedikit melegakan kami, apalagi agen perjalanan tempat
kami memesan kamar hotel dan tur tidak
membatalkan rencana keberangkatan.
Sayang seribu sayang, sehari
menjelang keberangkatan, agen perjalanan kami menelepon dan mengabarkan bahwa
rencana tur kami dibatalkan karena banjir telah masuk ke dalam kota Bangkok.
Beberapa tempat wisatapun sudah ditutup karena sudah terkena ataupun terancam
banjir. Meskipun pihak perusahaan
penerbangan tidak membatalkan penerbangan dan hotel yang rencananya kami
tempati aman dari ancaman banjir, tentulah tidak nyaman apabila harus
berjalan-jalan di kota yang situasinya masih terkena musibah. Kondisinya pasti
tidak jauh berbeda dengan keadaan Jakarta ketika dilanda banjir besar tahun
2007 lalu.
Pihak agen perjalanan menawarkan
untuk mengalihkan tujuan wisata. Teman-teman saya yang sudah kebelet ingin
jalan-jalanpun berkeinginan sama, dan tetap ingin berangkat di tanggal yang
sama. Sempat bingung mau pergi kemana, terasa saat itu sulitnya buat kita yang
berpaspor hijau, yang perlu visa untuk masuk ke
lebih dari 90 % negara di dunia ini.
Akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Hong Kong. Kebetulan
saat itu tiket penerbangan ke Hong Kong untuk keesokan harinya masih tersedia.
Sedikit masalah timbul ketika mencari penginapan. Semua hotel fully-booked,
bisa dimaklumi karena kami memesan saat last minute. Kalaupun ada, itu adalah suite room di hotel
berbintang lima yang harganya jauh diluar jangkauan kami. Untunglah agen
perjalanan kami memiliki nomor telepon beberapa orang Indonesia di Hong Kong
yang dapat mencarikan apartemen sewaan. Menjelang tengah malam, kami baru
mendapatkan kepastian adanya apartemen yang dapat disewa.
Maka berangkatlah kami keesokan harinya menuju tujuan yang
tidak kami rencanakan sebelumnya, Hong Kong. Sebagai orang yang terbiasa
menyusun rencana detail dalam setiap acara travelling, aneh rasanya untuk saya
bepergian tanpa ada itinerary yang sudah tersusun. Untunglah ini adalah
kunjungan saya yang ketiga ke Hong Kong sehingga saya sudah memiliki bayangan
tentang kota ini, bahkan masih menyimpan buku traveling mengenai Hong Kong dan
peta kotanya. Diatas pesawat yang membawa kami ke Hong Kong, kami baru
berdiskusi menyusun itinerary liburan kami selama 3 hari di Hong Kong.
Kami mendarat di Hong Kong menjelang tengah malam. Sesuai
petunjuk dari orang yang mencarikan apartemen, setelah semua proses imigrasi
dan pengambilan bagasi selesai kami bergegas menuju terminal bus dan menunggu
bus yang akan membawa kami ke kawasan Causeway Bay, tempat apartemen sewaan
kami berada. Kami dijemput oleh Cecil, orang Indonesia yang mencarikan kami
apartemen di halte bus Yee Woo Street, dan diantarkan ke apartemen yang berada
di Kingston Street.
Sebagaimana umumnya apartemen biasa (bukan serviced
apartment yang berfasilitas seperti hotel) di Hong Kong, apartemen sewaan kami
memiliki kamar yang berukuran supermini (sekitar 3x3 m) dengan 2 bunk bed dan
satu meja kecil tanpa lemari ataupun cermin. Tidak mengapa untuk kami,
sepanjang apartemen tersebut (dan kamar mandinya) bersih dan rapi.
| Ngong Ping 360 |
Keesokan harinya, hari pertama kami di Hong Kong, pagi-pagi
sekali kami berangkat menuju Ngong Ping, tempat berdirinya Giant Buddha Statue
di Lantau Island. Kami menumpang MTR (subway) menuju stasiun Tung Chung dan
dilanjutkan dengan menggunakan cable car selama 25 menit. Pemandangan dari
cable car sangat mengagumkan. Melewati bukit dan danau, dari kejauhan nampak
gedung-gedung pencakar langit dan bandar udara internasional Hong Kong.
Pemandangan di Ngong Ping juga indah. Udara sejuk karena
berada di puncak bukit. Selain patung Giant Buddha juga ada pertunjukan Monkey
Tale dan Walking With Buddha. Restauran dan toko suvenirpun berjajar rapi
menyambut pengunjung. Tanpa terasa, tiba saatnya makan siang. Untunglah, di
salah satu restauran yang ada, tampak ada yang memajang label halal di jendelanya. Di restauran Ebenezeer
yang menawarkan masakan Timur Tengah seperti Chicken Briyanni dan Fish Curry
itulah kami makan siang. Rasanya pun lumayan lezat, cocok dengan lidah melayu
kami.
Selesai makan siang, kami turun kembali ke kawasan Tung
Chung dan menyempatkan diri berbelanja di Citygate Outlets, sebuah mall yang
terdiri dari toko-toko branded dengan harga hanya 30-50 % dari harga normalnya.
Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan dengan MTR ke kawasan Garden Road untuk menuju The Peak
Tower.
| Emak Rempong di Disneyland HK |
Sore dan hingga malam kami habiskan di The Peak Tower.
Menumpang The Peak Tram, tram kayu tua buatan tahun 1881 yang berjalan mendaki
dengan kemiringan kurang lebih 25 derajat, kami menuju The Peak Tower.
Mengunjungi Madamme Tussauds Musseum, melihat Hong Kong dari ketinggian di Sky
Terrace, dan berbelanja souvenir dan oleh-oleh khas Hong Kong, terutama magnet
kulkas yang menjadi barang koleksi kami bertiga.
| The Peak HK |
Hari kedua, kami sepakat untuk melakukan one day trip ke
Macau. Tidak satupun dari kami yang pernah ke Macau sebelumnya, jadi hanya
bermodal informasi dari Cecil dan tourism map yang kami ambil di Macau Tourism
Centre, kami pun siap menjelajah Macau.
Pagi-pagi sekali kami sudah mengantri di Hong Kong – Macau
Ferry Terminal di Shun Tak Centre di kawasan Seung Wan. Perjalanan menggunakan
turbojet ferry memakan waktu kurang lebih satu jam lamanya. Perjalanan cukup
menyenangkan walaupun ombak sedikit keras, ferry nya pun bersih, ber AC dan
cukup nyaman. Karena hari itu adalah hari sabtu, ferry tampak penuh oleh orang-orang
Hong Kong yang nampaknya akan menghabiskan akhir minggu dengan berjudi di
Macau. Dari sekian banyak penumpang, tampaknya hanya kami bertiga yang
berkerudung, sehingga teman saya berkelakar bahwa kami adalah ustadzah
kesasar..
| Kwan Im Statue |
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah salah satu
landmark icon Macau, yaitu patung Dewi Kun Lam, atau Dewi Kwan Im. Karena hari
masih pagi, suasana masih sepi sehingga kami cukup lama mengambil foto di
patung tersebut dan taman didekatnya.
Selanjutnya kami menumpang taksi menuju kawasan Senado
Square. Sebuah alun-alun dikawasan kota tua di Macau City, sebuah tourism spot
yang sangat ramai dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua peninggalan bangsa
Portugis. Di tempat ini banyak terdapat gereja, dan museum, selain tentu saja deretan
toko-toko dan restauran. Bangunan yang terkenal di tempat ini antara lain
gereja St. Dominic, Macau Museum dan tentu saja salah satu bangunan iconic
Macau, reruntuhan gereja St. Paul. Bangunan ini adalah salah satu dari UNESCO
World Heritage Site. Nampaknya tujuan semua turis di Senado Square ini adalah
reruntuhan gereja St. Paul, gereja yang terbakar pada tahun 1835 dan hanya menyisakan dinding depan
bangunan tersebut. Sampai saat ini, dinding tersebut masih dipertahankan dan
ditopang dangan tiang-tiang baja dibelakangnya.
| St Paul's Church |
Selain mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah tersebut,
kami juga berburu barang souvenir dan oleh-oleh khas Macau di tempat ini. Kami
juga sempat mencicipi kue khas Portugis yang lezat, egg tart di Pastellaria Koi
Kei, sebuah toko makanan yang terkenal di Macau. Selain egg tart, makanan khas
Macau yang dijual di tempat ini adalah ginger candy dan sejenis dendeng yang
terbuat dari daging babi dan daging sapi.
| bersama gondolier |
Setelah puas mengelilingi kawasan Senado Square, dengan
menggunakan shuttle bus gratis kami mengunjungi salah satu casino yang sedang
happening di Macau, yaitu The Venetian Resort.
The Venetian Resort adalah sebuah kompleks yang terdiri dari casino,
hotel dan tempat berbelanja premium. Selain melihat dari jauh kesibukan sebuah
casino (tentu saja kami tak berani masuk), kami juga naik gondola yang terdapat
di shopping centre The Venetian. Layaknya gondola di Venesia Italia, gondolier
(pengayuh gondola) di The Venetian Macau ini juga berparas ganteng dan cantik
serta pandai menyanyi. Dengan tiket seharga 118 MOP (Macau Patacas, mata uang
Macau) kita dapat menyusuri ‘grand canal’ yang melintasi shopping centre
sembari mendengarkan suara merdu para gondolier.
Tanpa terasa, matahari sudah hampir condong ke barat.
Kamipun bergegas kembali ke Macau Ferry Terminal untuk kembali ke Hong Kong.
Sebetulnya, pemandangan malam hari di Macau luar biasa. Tertama karena
permainan cahaya yang indah dari casino-casino yang bertebaran di kota ini.
Mungkin seperti Las Vegas yang sering saya saksikan di film-film Amerika.
Karena keterbatasan waktu, kami tidak dapat menikmatinya. Sebagai gantinya,
setelah ferry merapat di Hong Kong, kami langsung menuju Avenue of Stars di
kawasan Tsim Sha Shui, untuk menikmati Hong Kong city lights yang juga indah.
Hari terakhir liburan, kami hanya memiliki waktu setengah
hari, karena pukul 14.00 kami sudah harus ada di bandara. Kami putuskan untuk
berjalan-jalan di sekitar Causeway Bay saja. Kebetulan hari itu adalah hari
minggu, kamipun berjalan kaki menuju Victoria Park yang masih berada di kawasan
Causeway Bay. Kami ingin merasakan suasana ‘Minggu Pagi di Victoria Park’,
seperti judul film besutan sutradara Lola Amaria. Apalagi menurut cerita para
pelayan restauran Indonesia di Sugar Street, hari minggu kawasan ini sangat
ramai dipenuhi para Tenaga Kerja Indonesia, terutama yang wanita, yang
menikmati hari libur mereka.
| Victoria Park, masih sepi |
Benar saja, di Kenwick Street dan Sugar Street yang menuju
ke Victoria Park, sejak pagi sudah penuh dengan hilir mudik wajah-wajah melayu.
Dandanan mereka bermacam-macam, mulai dari yang ‘biasa’ dengan bercelana jeans,
T-Shirt ataupun yang berjilbab, sampai yang ‘ultra ajaib’ seperti potongan
rambut yang aneh dan berwarna warni, hotpants super pendek dan stocking warna
neon, riasan wajah gothic dengan tindikan banyak di hidung, telinga dan alis,
yang tentunya tidak mungkin mereka kenakan di kampung halaman mereka. Satu
kesamaan mereka, yaitu berbicara menggunakan bahasa Jawa berbagai dialek atau
bahasa Indonesia yang masih medok Jawa.
Suasanapun menjadi seperti berada di Indonesia. Lagu-lagu
yang diputar toko-toko disekitar kawasan inipun lagu Indonesia, seperti
lagu-lagu dari Band Wali atau Band Ungu. Iklan-iklan di banner ataupun
papan-papan yang dibawa berlalu lalang pun dalam bahasa Indonesia, umumnya
iklan dari provider telepon selular.
| Para TKI berkerumun di dekat supermarket Indonesia |
Kamipun berbaur dengan mereka. Mengobrol dan bercerita
tentang berbagai macam hal, terutama tentang pekerjaan dan hidup mereka
sehari-hari di tanah perantauan. Kami bahkan dikira sebagai salah satu dari
mereka, TKW pendatang baru di Hong Kong.Mungkin karena wajah melayu dan
kerudung kami, beberapa kali kami dikira sebagai sesama TKW ketika bertemu
dengan mereka di dalam MTR. Apalagi kami bukan orang-orang yang dressed-up atau
bermake-up, dan kamipun kesana kemari dengan kendaraan umum, bukan dengan bus
pengangkut rombongan turis.
Hari sudah beranjak siang, kamipun harus kembali ke
apartemen untuk berkemas dan segera mengejar bus menuju bandara. Liburan kami
selesai sudah. Ternyata, walaupun mendadak tanpa itinerary yang detail, kami
bisa menikmati liburan yang menyenangkan dan memperoleh banyak pengalaman baru!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar