Akhirnya, tgl 17 Mei
pukul 07.00 kami mendarat juga di Schiphol Airport, Amsterdam. Setelah melewati
pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi, kami menuju ke stasiun kereta
Schipol. Inilah salah satu kehebatan di negara maju, dimana airport-stasiun
kereta-terminal bis berada di satu tempat, memudahkan kita pergi kemana saja
dengan transportasi publik dengan harga terjangkau *memimpikan suatu saat akan
terwujud di Indonesia,paling tidak di Bandara Soekarno Hatta*
 |
| didalam kereta |
Dengan menggunakan kereta, kami menuju stasiun Amsterdam
Centraal. Tiket seharga 4,3 Euro one way. Keretanya meskipun tidak mewah,
tetapi bersih, dan yang paling penting, tepat waktu. Penumpangpun tertib. Dari
Amsterdam Centraal, kami hanya perlu berjalan kaki menuju Hotel Ibis Amsterdam
Centre yang letaknya disebelah stasiun.
Karena kami tidak membatalkan pesanan hari pertama, maka kami
langsung bisa check in meskipun masih pagi. Triple room di Hotel Ibis Amsterdam
Centre bertarif 190 Euro/malam, meskipun bersih dan nyaman, tetapi ukurannya
sangat sempit. Hanya ada 3 single bed, 1 lemari kecil dan TV layar datar yg
menempel di dinding, plus kamar mandi dengan shower yang juga mini. Hanya tersisa sedikit ruang lapang
untuk menaruh koper, itupun harus diletakkan berdiri, tidak bisa ditidurkan.
Yang unik, kamar kami ternyata terletak tepat diatas rel kereta, tetapi kedap
suara sehingga suara riuh stasiun atau kereta yang lewat tidak sampai masuk
kedalam kamar. Setelah mandi, sarapan (mulai mengeluarkan bekal mie instant,
karena kami tidak breakfast di hotel) kamipun siap untuk berkelana.
Tujuan pertama kami adalah Keukenhof, taman bunga tulip yang
menjadi impian saya sejak lama. Dari Amsterdam Centraal, kami kembali naik
kereta menuju Schipol. Di Schipol, kami membeli tiket combo (tiket bis return +
tiket masuk taman) seharga 21 Euro/orang. Bis no 858 membawa kami menuju Lisse,
desa kecil tempat Keukenhof berada.
Perjalanan tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 20 menit
saja. Bis pun banyak tersedia sementara antrian penumpang tidak terlalu
panjang. Menurut beberapa panduan yang kami baca, pada saat peak time
(pertengahan-akhir April, saat full bloom untuk tulip2 tersebut) antrian
penumpang bisa sangat panjang dan memakan waktu lama.
 |
| Keukenhof entrance |
Bis berhenti tepat dimuka pintu masuk Keukenhof. Di pintu
masuk, di dalam pot2 yang berukuran besar, sudah tampak bunga tulip yang indah
dan berwarna warni. Setelah di dalam taman, keindahan segera tampak di depan
mata. Taman yang tertata rapi, bunga yang beraneka warna diselingi dengan
hamparan rumput hijau, sungguh memanjakan indra penglihatan. Keindahannya sulit
dilukiskan dengan kata2. This is a piece of heaven on earth.
Bunga tulip ditata
dengan gradasi warna yang menarik. Merah, kuning, pink, peach, oranye, biru,
putih, ungu, bahkan hitam. Subhanallah.. Sayangnya, di bulan Mei banyak pohon
tulip yang sudah tidak berbunga
menyisakan ‘ruang kosong’ tanpa warna, kecuali warna hijau daunnya. Sebaiknya,
berkunjung ke Keukenhof ini memang di pertengahan-akhir April, saat full bloom,
dimana semua bunga sedang mekar sempurna. Jika saat saya berkunjung saja masih
begitu indahnya, tak terbayang keindahan saat full bloom...pasti sangat luar
biasa. Tak puas-puasnya saya mengambil gambar, juga berfoto dengan bunga2 yang
indah itu. Sayang waktu kami terbatas, sementara taman ini begitu luasnya.
Awalnya kami ingin menikmati taman ini seharian, tapi karena waktu kami sudah
terbuang satu hari di Singapura, terpaksa kami hanya menghabiskan waktu 4-5 jam
saja disini, supaya kami bisa sempat berjalan2 lagi di Amsterdam. Setelah
berfoto di dekat windmill dan mencicipi holland waffel with slagroom yang
maknyus, kami pun harus pulang.
 |
| Keukenhof |
 |
| Keukenhof |
 |
| colourful |
 |
| Lily |
Satu pengalaman kami rasakan di Schiphol ketika pulang dari
Keukenhof. Karena anak saya lapar dan bingung mau makan dimana, kamipun masuk
ke counter Burger King. Lalu kami dihampiri oleh seorang pegawai Burger King
yang ternyata seorang muslim dari Turki, yang menyampaikan bahwa Burger King di
Belanda tidak/belum halal. Akhirnya kami hanya membeli french fries, sementara
2 gelas soft drink yang juga kami pesan digratiskan oleh Muhammed, si pegawai
tersebut, katanya ‘hadiah untuk sesama muslim’. Alhamdulillah... :D
 |
| Dam Square |
 |
| Kanal di dekat Leidsestraat |
 |
| HRC Amsterdam |
Sesampai kembali di Amsterdam, kami memutuskan untuk walking
tour sekitar Damsquare. Dari Amsterdam Centraal kami menyebrang menuju Damrak,
menyusuri Damrak sambil mengagumi bangunan2 tua yang masih terawat baik, rumah2
khas Belanda disepanjang jalan. Tak berapa lama, kamipun sampai di Damsquare.
Setelah mengambil foto, tadinya kami ingin masuk Madame Tussauds museum, tapi
ternyata sudah tutup karena sudah terlalu sore. Ingin juga melihat kawasan Red
Light District, tapi tidak memungkinkan karena ada anak saya yang baru berusia
14 tahun. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari Hard Rock Cafe Amsterdam yang
terletak di kawasan Max Euwenplein di Stadhouderskade. Saya ingin mencari
fridge magnet HRC untuk melengkapi koleksi saya, sementara suami saya ingin membeli
T shirtnya. Kami berjalan melewati jalan
Rokin dan Leidsestraat yang ramai dan dipenuhi toko-toko yang menarik. Jalannya
lumayan panjang, kira2 2 km, menyebrangi kanal2 yang cantik dan sempat pula
berfoto di kanal tersebut. Sempat berhenti di Leidseplein menonton pertunjukan
tari hip hop, akhirnya ketemu juga Hard Rock Cafe Amsterdam.
Dari HRC kami
berjalan kembali ke Leidseplein untuk makan di warung kebab yang kami
 |
| Kip Sate |
temui
sebelumnya. Ada menu unik disini, namanya Kip Sate, alias sate ayam. Ya, rupanya
bumbu sate terkenal juga di Amsterdam. Hanya saja, ayam yg ditusuk2 seperti
sate itu adalah ayam filet yg digoreng seperti nugget, lalu diberi bumbu sate
dan dimakan dengan kentang goreng dan salad. Harganya 11 Euro sudah dengan minuman (soft drink atau
air mineral), rasanya lumayan dengan porsi yang sangat besar. Dari Leidseplein,
karena anak saya sudah kelelahan, kamipun naik trem menuju Amsterdam Centraal.
Tiket untuk 1 jam penggunaan seharga 2,7 Euro, bisa naik trem no 1,2 atau 5.
Sebetulnya, jika kita banyak menggunakan kendaraan umum di Amsterdam bisa
menggunakan OV Chipkaart yang memiliki masa berlaku 1 hari, 3 hari, dst. Harga
OV chipkaart 1 hari 7,5 Euro. Dengan OV chipkaart ini bebas naik berbagai
kendaraan umum seperti bis, trem, subway atau waterbus dalam kota sesuai masa
berlaku kartu. Karena kami hanya sekali2 saja naik kendaraan umum dalam kota,
maka kami hanya membeli tiket sekali jalan saja. Meskipun hari masih terang
(matahari tenggelam pukul 21.30) kami memutuskan untuk pulang ke hotel dan
beristirahat.
 |
| Amsterdam Centraal |
Hari kedua, pukul 7.30 kami sudah berjalan menuju Amsterdam
Centraal bus terminal yang terletak dibelakang stasiun kereta. Udara pagi ini
luar biasa dingin karena angin bertiup agak kencang. Tujuan kami hari ini
adalah Volendam, desa nelayan di utara Amsterdam. Dengan menggunakan bus arriva
waterland dengan tiket seharga 9 Euro/orang return, kami berangkat. Perjalanan
menggunakan bus memakan waktu kurang lebih 45 menit. Sepanjang jalan didominasi
pemandangan perumahan warga Belanda dengan dinding bata, jendela lebar dan atap
yang bentuknya khas, setelah keluar dari kota Amsterdam sesekali tampak rumah
pertanian ditengah padang rumput dengan sapi2 ‘frisian flag’ (seperti gambar di
kotak susu )
dan kuda , juga terlihat windmollen (kincir angin) ciri khas negara ini.
 |
| Volendam |
 |
| hot chocolate penangkal dingin |
Kami turun di depan Volendam Museum, lalu berjalan kearah
pelabuhan tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan. Karena masih terlalu pagi,
kawasan ini masih sepi. Toko-toko masih tutup dan di pedestrianpun belum tampak
turis lalu lalang. Angin bertiup sangat kencang, membawa hawa dingin yang
sangat menusuk tulang. Kami berjalan-jalan mengelilingi desa, melihat rumah2
cantik dan pemandangan laut. Semakin siang, Haven, pusat aktivitas turisme
semakin ramai. Selain berbelanja suvenir, kami juga berfoto dengan memakai
pakaian tradisional Belanda di studio foto langganan orang Indonesia, Zwarthoed
Studio. Biaya berfoto tergantung jumlah dan ukuran foto yang dicetak. Selain itu kami mampir untuk
menikmati
 |
| Gebakken Lekkerbek |
seafood brunch di salah satu cafe. Segelas besar hot chocolate sangat
pas untuk menghangatkan badan. Dilanjutkan dengan gebakken vismix (seafood
platter) porsi super besar berisi fillet ikan, udang dan kerang yang digoreng
plus french fries dan gebakken lekkerbek (fish and chips) masing2 seharga 15
Euro. Mahal, tapi worthed dengan porsi jumbo dan rasa yang lezat. Kami
membatalkan rencana mengunjungi Marken dengan ferry karena takut terlalu sore,
lalu kembali ke Amsterdam dengan bus.
 |
| kapal nelayan |
 |
| meneer dan meuvrouw |
 |
| rumah-rumah ditepi laut |
 |
| kawasan Haven |
Hari sudah mulai sore, sesampai di Amsterdam kami masuk ke
salah satu penyedia jasa canal cruise yang banyak terdapat di depan Amsterdam
Centraal. Love Canal Cruise, dengan harga tiket 14 Euro/orang, mengelilingi
main canal di Amsterdam selama kurang lebih 75 menit. Dinahkodai oleh seorang
pria yang kocak dan bisa bercakap dalam beberapa bahasa, kami melewati canal2
yang cantik, banyak houseboat yang tertambat dipinggirannya, serta beberapa
bangunan yang unik dan bersejarah seperti Muntorren, Anne Frank House, rumah terkecil di Belanda, dan lain2. Setelah
mendarat kembali di Amsterdam Centraal, kami menaiki trem menuju Museumplein. Disini
kami hanya berfoto saja di depan Rijks Museum, dan Van Gogh Museum karena
antrian masuk ke museum2 tersebut masih mengular. Kamipun menghabiskan waktu
duduk2 santai di Museumplein, sembari berfoto di depan tulisan I Amsterdam yang
sore itu juga dipenuhi turis2 yang bermaksud sama dengan kami.
 |
| Rijksmuseum |
 |
| Canal ride |
 |
| I amsterdam |
 |
| Museumplein |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar