Kamis, 16 Mei 2013

EUROPE, LAND OF DREAM: YEAYY...!!!


Sudah sejak lama sekali saya memimpikan menginjakkan kaki di Eropa. Mungkin sejak kecil. Memang di tahun 2008 saya pernah berkunjung ke Istanbul, Turki yang letaknya di ujung Eropa, tapi kok belum afdol kalau sudah dibilang pernah ke Eropa ya. Makanya ketika suami saya mengajak untuk liburan di Eropa, wah, senangnya tidak kepalang. Janji ini diucapkan setahun sebelum keberangkatan, dan selama setahun itu pula saya rajin mengingatkan suami akan janjinya, karena tidak mau gagal seperti rencana berlibur di Australia sebelumnya.

PERSIAPAN: ITINERARY

Karena sudah berencana sejak setahun sebelumnya, maka kami punya sangat banyak waktu untuk melakukan persiapan. Seperti biasa, kami berangkat tanpa menggunakan tur dari agen perjalanan, jadi semua itinerary dan urusan dokumen kami siapkan sendiri.
Pertama, kami menentukan kapan berangkat, kemana saja kami akan pergi dan perkiraan biaya yang diperlukan. Kami memilih bulan Mei 2012, dengan perkiraan saat itu anak saya sudah selesai ujian (anak saya  duduk di kelas 9/ 3 SMP) tapi belum ada kesibukan untuk mendaftar ke SMA, dan saya ingin mengunjungi Keukenhof, taman bunga tulip yang terkenal itu. Kebetulan Keukenhof tahun 2012 dibuka pada 20 Maret-20 Mei.

Setelah mengobrol dengan suami dan anak, diputuskan rute yang akan diambil adalah Inggris (London dan Liverpool)-Belanda (Amsterdam)-Belgia (Antwerpen dan Brussels)- Perancis (Paris). Ini adalah hasil kompromi karena suami ingin menyaksikan tim sepakbola kesayangannya, Liverpool, saya ingin ke Keukenhof dan Paris, anak saya ingin ke Disneyland. Sementara di Belgia kami ingin mengunjungi sepupu yang sedang kuliah master di Antwerpen Universiteit.  Tetapi, setelah pengurusan visa schengen selesai dan akan mengurus visa UK, kami agak kerepotan karena selain dokumen yang diperlukan untuk mengurus visa UK itu sedemikian banyaknya (mungkin karena menjelang Olimpiade), lalu pengurusan visa harus di Jakarta dan tidak bisa diwakilkan sementara anak saya sudah mulai banyak tes dan ujian sehingga tidak bisa bolos, maka dengan berat hati kami menghapus Inggris dari itinerary kami. Kami menambahkan satu negara lagi dalam itinerary, dan dari tiga kandidat – Italia, Spanyol atau Swiss – suami saya memilih Swiss, karena ingin melihat salju (aduuh norak.com ya) 

TIKET PESAWAT DAN BOOKING HOTEL
Enam bulan sebelum keberangkatan, saya dan suami sudah mulai browsing mencari tiket pesawat murah, hotel dan tiket kereta api. Hotel kami booking melalui booking.com. Kami memilih hotel bintang 2-3 yang berlokasi dekat stasiun kereta api atau dekat dengan pusat kota, dengan pertimbangan supaya tidak repot pada saat baru datang dengan membawa koper2 besar. Karena mencari hotel yang letaknya strategis, maka harga yang kami bayarkan termasuk agak mahal menurut ukuran kantong kami. Tapi ternyata worthed  kok, karena kami puas dengan kondisi hotel dan servis yang diberikan.

Untuk tiket pesawat, harga yang ditawarkan pada bulan itu ternyata lumayan mahal juga, mungkin karena sudah hampir summer. Rata-rata dikisaran 1200 USD.  Untuk pengurusan visa, saya dibantu teman yang bekerja di biro travel untuk booking dulu, bisa dibayar atau dibatalkan setelah keputusan visa keluar. Akhirnya, kami memakai maskapai Singapore Airlines yang saat itu sedang promo, untuk  berangkat Jakarta – Amsterdam  dan pulang Zurich – Jakarta harganya 1000,20 USD dengan waktu tempuh yang termasuk paling singkat, total 15,5 jam.
Sedangkan untuk tiket kereta api,  kami hanya memesan untuk tujuan Brussels – Paris (dengan kereta Thalys) dan Paris – Basel  (dengan kereta TGV Lyria ). Itupun untuk pemesanan Thalys harus dibantu oleh sepupu saya di Belgia, karena pemesanan yang kami lakukan dari Indonesia gagal terus. Untuk tiket Thalys Brussels – Paris kelas 2 saya mendapat harga 69 Euro/orang dan TGV Lyria Paris – Basel kelas 2 63 CHF/orang.

VISA

Pengurusan visa Schengen dilakukan di konsulat Belanda di Surabaya. Sebelumnya, kita harus menelepon dulu untuk appointment wawancara. Anak usia  dibawah 18 tahun boleh tidak ikut serta jika berangkat bersama orang tuanya. Biaya pengurusan visa Rp 720.000/orang. Tidak seperti di Kedutaan Belanda di Jakarta yang selesai hanya dalam 1 hari kerja, di konsulat masih membutuhkan waktu kurang lebih 10 hari (6 hari kerja) karena berkas dikirim ke Jakarta dulu. Pertanyaannya standar dan dalam bahasa Indonesia. Yang ditanyakan antara lain tujuan keberangkatan, kemana saja, menginap dimana, moda transportasi antar kota/negara yang digunakan. Jika dokumen lengkap, proses wawancara tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 10-15 menit saja.
Oh ya, pengurusan visa Schengen membutuhkan asuransi perjalanan yang mencover seluruh negara Uni Eropa. Saya membeli asuransi AXA lewat Mas Agung Basuki (Travel Hemat.com). Karena berangkat satu keluarga, kami memilih jenis family-platinum, lebih murah daripada beli sendiri-sendiri. Preminya Rp 683.000 dengan pertanggungan sampai 100.000 Euro. Berlaku untuk 15 hari dari tanggal keberangkatan.

LAIN-LAIN

Persiapan lain adalah mengenai pakaian dan makanan. Kami berangkat saat spring atau musim semi, suhu rata2 di Eropa sudah agak naik, tapi masih cukup dingin untuk ukuran orang Indonesia (sekitar 15 derajat celcius).  Kami membawa sweater dan jaket yang agak tebal, apalagi kami berencana mengunjungi Mt. Titlis yang bersalju abadi. Payung tidak lupa dibawa, karena menurut panduan2 yang kami baca, saat musim semi justru banyak turun hujan. Jangan sampai acara jalan2 terhalang oleh hujan. Kelak jaket tebal sangat bermanfaat karena di Amsterdam dan Paris suhu tiba-tiba turun, ditambah hujan dan angin yang dinginnya sampai menusuk tulang.

Untuk menghemat pengeluaran dan meminimalisir kemungkinan makan makanan yang tidak halal, saya membawa panci elektrik serbaguna ukuran kecil, mie instant, saus tomat dan sambal sachet. Saya juga membawa kopi instant, gula, teh dan susu bubuk dalam kemasan sachet. Di kamar hotel2 tempat kami tinggal tidak disediakan cofee maker atau pemanas air.

Untuk keperluan komunikasi, demi harga murah saya menggunakan 2  provider telepon selular. Untuk Blackberry saya menggunakan operator 3 yang harga blackberry international roamingnya paling murah, Rp 33.000/hari sedangkan untuk telepon dan SMS saya memakai XL yang saat itu ada tarif promo telepon Rp 3500/menit dari luar negeri. Sedangkan untuk internet kami mengandalkan free wifi di hotel saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar