Sudah sejak lama sekali saya memimpikan menginjakkan kaki di
Eropa. Mungkin sejak kecil. Memang di tahun 2008 saya pernah berkunjung ke
Istanbul, Turki yang letaknya di ujung Eropa, tapi kok belum afdol kalau sudah
dibilang pernah ke Eropa ya. Makanya ketika suami saya mengajak untuk liburan
di Eropa, wah, senangnya tidak kepalang. Janji ini diucapkan setahun sebelum
keberangkatan, dan selama setahun itu pula saya rajin mengingatkan suami akan
janjinya, karena tidak mau gagal seperti rencana berlibur di Australia
sebelumnya.
PERSIAPAN: ITINERARY
Karena sudah berencana sejak setahun sebelumnya, maka kami
punya sangat banyak waktu untuk melakukan persiapan. Seperti biasa, kami
berangkat tanpa menggunakan tur dari agen perjalanan, jadi semua itinerary dan
urusan dokumen kami siapkan sendiri.
Pertama, kami menentukan kapan berangkat, kemana saja kami
akan pergi dan perkiraan biaya yang diperlukan. Kami memilih bulan Mei 2012,
dengan perkiraan saat itu anak saya sudah selesai ujian (anak saya duduk di kelas 9/ 3 SMP) tapi belum ada
kesibukan untuk mendaftar ke SMA, dan saya ingin mengunjungi Keukenhof, taman
bunga tulip yang terkenal itu. Kebetulan Keukenhof tahun 2012 dibuka pada 20
Maret-20 Mei.
Setelah mengobrol dengan suami dan anak, diputuskan rute yang
akan diambil adalah Inggris (London dan Liverpool)-Belanda (Amsterdam)-Belgia
(Antwerpen dan Brussels)- Perancis (Paris). Ini adalah hasil kompromi karena
suami ingin menyaksikan tim sepakbola kesayangannya, Liverpool, saya ingin ke
Keukenhof dan Paris, anak saya ingin ke Disneyland. Sementara di Belgia kami
ingin mengunjungi sepupu yang sedang kuliah master di Antwerpen Universiteit. Tetapi, setelah pengurusan visa schengen
selesai dan akan mengurus visa UK, kami agak kerepotan karena selain dokumen
yang diperlukan untuk mengurus visa UK itu sedemikian banyaknya (mungkin karena
menjelang Olimpiade), lalu pengurusan visa harus di Jakarta dan tidak bisa
diwakilkan sementara anak saya sudah mulai banyak tes dan ujian sehingga tidak
bisa bolos, maka dengan berat hati kami menghapus Inggris dari itinerary kami.
Kami menambahkan satu negara lagi dalam itinerary, dan dari tiga kandidat –
Italia, Spanyol atau Swiss – suami saya memilih Swiss, karena ingin melihat
salju (aduuh norak.com ya)
TIKET PESAWAT DAN BOOKING HOTEL
Enam bulan sebelum keberangkatan, saya dan suami sudah mulai
browsing mencari tiket pesawat murah, hotel dan tiket kereta api. Hotel kami
booking melalui booking.com. Kami memilih hotel bintang 2-3 yang berlokasi
dekat stasiun kereta api atau dekat dengan pusat kota, dengan pertimbangan
supaya tidak repot pada saat baru datang dengan membawa koper2 besar. Karena
mencari hotel yang letaknya strategis, maka harga yang kami bayarkan termasuk
agak mahal menurut ukuran kantong kami. Tapi ternyata worthed kok, karena kami puas dengan kondisi hotel dan
servis yang diberikan.
Untuk tiket pesawat, harga yang ditawarkan pada bulan itu
ternyata lumayan mahal juga, mungkin karena sudah hampir summer. Rata-rata
dikisaran 1200 USD. Untuk pengurusan
visa, saya dibantu teman yang bekerja di biro travel untuk booking dulu, bisa
dibayar atau dibatalkan setelah keputusan visa keluar. Akhirnya, kami memakai
maskapai Singapore Airlines yang saat itu sedang promo, untuk berangkat Jakarta – Amsterdam dan pulang Zurich – Jakarta harganya 1000,20
USD dengan waktu tempuh yang termasuk paling singkat, total 15,5 jam.
Sedangkan untuk tiket kereta api, kami hanya memesan untuk tujuan Brussels –
Paris (dengan kereta Thalys) dan Paris – Basel
(dengan kereta TGV Lyria ). Itupun untuk pemesanan Thalys harus dibantu
oleh sepupu saya di Belgia, karena pemesanan yang kami lakukan dari Indonesia
gagal terus. Untuk tiket Thalys Brussels – Paris kelas 2 saya mendapat harga 69
Euro/orang dan TGV Lyria Paris – Basel kelas 2 63 CHF/orang.
VISA
Pengurusan visa Schengen dilakukan di konsulat Belanda di
Surabaya. Sebelumnya, kita harus menelepon dulu untuk appointment wawancara.
Anak usia dibawah 18 tahun boleh tidak
ikut serta jika berangkat bersama orang tuanya. Biaya pengurusan visa Rp
720.000/orang. Tidak seperti di Kedutaan Belanda di Jakarta yang selesai hanya
dalam 1 hari kerja, di konsulat masih membutuhkan waktu kurang lebih 10 hari (6
hari kerja) karena berkas dikirim ke Jakarta dulu. Pertanyaannya standar dan
dalam bahasa Indonesia. Yang ditanyakan antara lain tujuan keberangkatan,
kemana saja, menginap dimana, moda transportasi antar kota/negara yang
digunakan. Jika dokumen lengkap, proses wawancara tidak memakan waktu lama,
hanya sekitar 10-15 menit saja.
Oh ya, pengurusan visa Schengen membutuhkan asuransi
perjalanan yang mencover seluruh negara Uni Eropa. Saya membeli asuransi AXA
lewat Mas Agung Basuki (Travel Hemat.com). Karena berangkat satu keluarga, kami
memilih jenis family-platinum, lebih murah daripada beli sendiri-sendiri.
Preminya Rp 683.000 dengan pertanggungan sampai 100.000 Euro. Berlaku untuk 15
hari dari tanggal keberangkatan.
LAIN-LAIN
Persiapan lain adalah mengenai pakaian dan makanan. Kami
berangkat saat spring atau musim semi, suhu rata2 di Eropa sudah agak naik,
tapi masih cukup dingin untuk ukuran orang Indonesia (sekitar 15 derajat
celcius). Kami membawa sweater dan jaket
yang agak tebal, apalagi kami berencana mengunjungi Mt. Titlis yang bersalju
abadi. Payung tidak lupa dibawa, karena menurut panduan2 yang kami baca, saat
musim semi justru banyak turun hujan. Jangan sampai acara jalan2 terhalang oleh
hujan. Kelak jaket tebal sangat bermanfaat karena di Amsterdam dan Paris suhu
tiba-tiba turun, ditambah hujan dan angin yang dinginnya sampai menusuk tulang.
Untuk menghemat pengeluaran dan meminimalisir kemungkinan
makan makanan yang tidak halal, saya membawa panci elektrik serbaguna ukuran
kecil, mie instant, saus tomat dan sambal sachet. Saya juga membawa kopi
instant, gula, teh dan susu bubuk dalam kemasan sachet. Di kamar hotel2 tempat
kami tinggal tidak disediakan cofee maker atau pemanas air.
Untuk keperluan komunikasi, demi harga murah saya menggunakan
2 provider telepon selular. Untuk
Blackberry saya menggunakan operator 3 yang harga blackberry international
roamingnya paling murah, Rp 33.000/hari sedangkan untuk telepon dan SMS saya
memakai XL yang saat itu ada tarif promo telepon Rp 3500/menit dari luar
negeri. Sedangkan untuk internet kami mengandalkan free wifi di hotel saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar