| Cap paspor pertama |
Perjalanan pertama saya keluar negeri adalah ke Singapura. Sampai
saat ini, sudah 5 kali saya berkunjung ke negeri Singa ini. Dan tidak pernah
bosan, karena selalu ada sesuatu yang baru. Kesempatan pertama datang di tahun
2004. Saat itu saya mengikuti sebuah seminar di Batam. Meskipun tidak tahu
bagaimana dan dengan siapa saya akan berangkat
ke Singapura, saat itu saya sudah membekali diri dengan paspor. Pikir saya, kalau saya tidak ada teman jalan,
saya mau ikut one day tour saja dari Batam. Saat itu saya belum kenal istilah
backpacking ataupun milis2 yang membahas jalan mandiri. Untuk jalan2 sendiri,
terusterang saya tidak berani. Ternyata, untuk ikut one day tour ke Singapura
mahal sekali. Rata2 Rp 1,5 juta rupiah, tidak termasuk makan. Waah, sempat
bingung juga. Untunglah di acara seminar saya bertemu Atiek, teman kuliah yang
sekarang tinggal di Batam. Atiek yang sudah sering bolak balik ke Singapura,
bersedia mengantar saya berjalan2 di
Singapura. Kami lalu bertemu 2 orang teman lain, Omega dan Mbak Gendis yang
juga berminat bergabung.
| Orchard Rd |
Keesokan paginya, kami janjian bertemu di Pelabuhan Batam
Centre. Tiket menuju Singapura dengan menggunakan fast ferry hanya seharga SGD
21 return (dengan kurs saat itu kurang lebih Rp 126.000). Ditambah biaya fiskal
Rp 500.000, dengan hanya Rp 626.000 kami sudah bisa sampai di Singapura. Perjalanan
dengan ferry memakan waktu sekitar 75 menit. Wah rasanya luar biasa sekali
ketika akhirnya menginjakkan kaki ditanah Singapura. Dari pelabuhan Harbour
Front, kami langsung menuju kawasan belanja Orchard. Laiknya orang udik yang
baru mencicipi luar negeri, saya terkagum-kagum dengan semua yang ada di
Singapura. Kagum dengan sistem transportasinya, dengan tata kotanya yang
walaupun bertebaran mall dimana-mana tetapi tetap menyisakan banyak ruang hijau
kota, dengan disiplin penduduknya yang menyeberang jalan, menyetop kendaraan
umum atau membuang sampahpun ada aturannya. Kami keliling kota menggunakan
transportasi umum, dengan MRT, bus dan berjalan kaki. Selain Orchard, kami
mengunjungi China Town, Kampung Bugis
dan Clarke Quay. Aneh juga kenapa saat itu Atiek tidak mengajak kami ke
patung Merlion yang terkenal itu, dan saya juga tidak terpikir untuk memintanya
J. Kami berjalan2 sampai
menjelang malam, sampai kaki kaku dan pegal2. Sore itu juga kami kembali ke
Batam. Total jendral saya habis uang tidak sampai 1 juta rupiah termasuk dengan
makan dan shopping, bandingkan jika ikut dengan one day tour-nya biro
perjalanan! Karena belum puas, saya berharap bisa ke Singapura lagi
dikesempatan lain.
Kesempatan kedua datang di tahun 2006. Waktu itu saya kembali
mengikuti seminar di Batam. Kali ini saya lebih well prepared dan lebih pede
karena sudah punya pengalaman sebelumnya. Saya mengajak anak saya yang waktu itu
berusia 8 tahun, dan seorang teman kantor yang baru pertama kali keluar negeri.
Setelah seminar selesai, kami bertolak ke Singapura dengan menggunakan fast
ferry yang sama. Harga tiket sudah naik, SGD 16 one way. Kami menginap di
Meritus Mandarin Orchard selama 2 malam. Pada kunjungan kedua ini, selain shop
till drop di Orchard, kami juga mengunjungi
Sentosa Island. Anak saya adalah penggemar dunia bawah laut, jadi
Underwater World pastilah tidak terlewatkan. Walaupun hampir sama dengan Pantai
Ancol dan Sea World, anak saya tetap happy menikmati Sentosa Island. Hari
berikutnya kami berjalan2 ke Suntec City. Selain menonton pertunjukan air
mancur Fountain of Wealth, kami juga ikut tur singkat Duck tour, dengan
menggunakan mobil amphibi menyusuri kawasan City Hall dan Singapore River. Tur
yang menarik dan atraktif, terutama untuk anak2. Kali ini dari Singapura kami
kembali ke Jakarta via Changi. Airport supermodern yang kembali membuat saya
terkagum2 karena lebih mirip shopping mall J
Kali ketiga ke Singapura adalah akhir tahun 2009, saat
pergantian tahun. Kali ini saya berlibur ke Kuala Lumpur dan Singapura bersama
suami dan anak saya termasuk yang masih didalam perut. Ya, saat itu saya sedang
hamil 5 bulan anak ke 2. Saat itu, mencoba mencicipi daerah di luar Orchard,
kami menginap di Novotel Clarke Quay. Ternyata kawasan ini sangat menarik,
dengan cafe2 di pinggir Singapore River dan keramaian dunia malam. Apalagi saat
itu adalah saat pergantian tahun, ribuan orang tumplek blek disekitar Clarke
Quay. Yang membuat semakin happy, kamar kami yang terletak di lantai 9
menghadap langsung kearah Marina Bay, sehingga tepat pada saat countdown, kami
bisa menikmati pesta kembang api di Marina Bay cukup dari balkon kamar kami
saja. Selain itu keramaian di bawah kami juga menjadi hiburan sendiri.
Sebelumnya kami juga berjalan2 di sekitar Clarke Quay yang tengah menyiapkan
pesta tahun baru bertema circus, makan malam di salah satu restauran sea food
yang ternyata merupakan best singapore sea food restaurant (namanya lupa) dan
menyusuri Singapore River di malam hari dengan Singapore Cruise. Selain
menikmati acara pergantian tahun, kami juga mengunjungi wahana baru Singapore
Flyer, ferris wheel raksasa yang menyaingi London Eye sebagai ferris wheel
terbesar di dunia. Kami juga mengunjungi Singapore Science Centre dan Snow
City, Sentosa Island dan Underwater World nya, serta pusat perbelanjaan baru
Vivo City selain (teteup) berjalan2 di kawasan Orchard dan Kampung Bugis.
Tahun 2011 adalah kali keempat saya mengunjungi negeri Singa
ini, selain bersama suami dan anak laki2 saya, kali ini saya juga mengajak
bungsu saya yang akan berulang tahun ke-1. Awalnya kami berencana berlibur di
Australia, tapi batal karena persiapan terlalu mepet. Sebagai penglipur lara
kamipun pergi ke Singapura, kebetulan banyak tempat baru di Singapura yang
menarik untuk dikunjungi. Karena terkesan dengan kawasan Clarke Quay, kali ini
kami kembali menginap disini, di Swissotel, yang letaknya tepat ditepi sungai.
Sangat menyenangkan berjalan2 sembari mendorong stroller anak saya menikmati
pagi hari, atau udara sore di pinggir sungai. Pada liburan kali ini kami
mengunjungi Singapore Zoo, yang meski ditata dengan baik, menurut saya masih
lebih bagus Batu Secret Zoo di Batu, Malang. Selain itu kami juga pergi ke
Marina Bay Sands, pusat entertainment baru, terdiri dari hotel, shopping centre
dan casino yang berbentuk tiga gedung tinggi menyangga sebuah pelataran lebar
mirip perahu dipuncaknya. Kami mencoba naik sampai ke Sky Park yang terletak
dipelataran tersebut, saya pikir ada sebuah taman diatas mengingat harga
masuknya cukup mahal (SGD 25/orang), dengan sangat menyesal ternyata tempat itu
hanya sebuah pelataran tanpa ada apapun dan panasnya luar biasa...karena bukan
pengunjung hotel, kami tidak bisa masuk ke kolam renang spektakuler yang ada
disitu..
| minum susu di Sky Park Marina Bay Sands |
Kami juga kembali mengunjungi Suntec City, berencana untuk
ikut wisata duck tour. Tetapi karena datang sudah terlalu siang, antrian sudah
panjang mengular dan kemungkinan besar baru akan berangkat sore atau malam
harinya, maka kami membatalkan rencana tersebut dan harus puas dengan
berputar-putar di mall saja.
| Fountain Wealth |
Malam harinya kami berjalan-jalan di kawasan Orchard, makan
malam di sebuah restoran Indonesia di Lucky Plaza dan cuci mata di Wisma Atria,
Takashimaya dan Tangs. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 ketika kami akan
kembali ke hotel, dan baru kali inilah saya merasakan pengalaman tak enak
berkaitan dengan public transportation di Singapore. Karena sudah cukup larut,
kami memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taxi. Ternyata antrian di taxi
stand sudah sangat panjang. Dan entah mengapa, setiap taxi yang lewat enggan
berhenti, hanya 1-2 saja yang mau menaikkan penumpang. 2 jam lamanya kami
berdiri menunggu, hanya sedikit saja kami bergeser tempat di antrian. Anak
bungsu saya yang sudah mengantuk jadi rewel tak karuan. Akhirnya kami berjalan
kaki (cukup jauh) menuju stasiun MRT , untunglah kereta masih beroperasi. Wah
tahu begitu, lebih baik dari awal saja kami naik MRT. Mau nyaman malah
menderita. Hampir tengah malam baru kami tiba di hotel.
| Universal Studios |
Hari terakhir kami kembali mengunjungi Sentosa Island, kali
ini khusus untuk bermain di sebuah theme park yang baru dibuka, Universal
Studios Singapore. Tempat yang wahana permainannya terinspirasi dari film-film
produksi Universal Studios (Jurassic Park, Shrek, Madagascar, Battlestar
Galactica, Betty Boo, The Mummy dll) ini cukup menarik walaupun tidak terlalu
besar. Sayang si bungsu masih terlalu kecil sehingga tidak bisa menikmati
wahana-wahana tersebut.
| nonton di Shaw Theatre |
Kali terakhir saya ke Singapore adalah di bulan Mei 2012.
Sebetulnya ini adalah kunjungan yang tak direncanakan, lebih tepatnya, kami
bertiga (saya, suami dan anak sulung saya) terdampar disini. Karena pesawat
SQ Jakarta-Singapore yang kami naiki
delayed, maka kamipun ketinggalan pesawat SQ menuju Amsterdam. Akibatnya kami
terdampar di Singapore karena menunggu pesawat yang akan membawa kami ke
Amsterdam di hari berikutnya. Untunglah service yang diberikan pihak SQ cukup
memadai. Kami diinapkan di Changi Village Hotel, sebuah hotel berbintang empat
dikawasan dekat airport, juga ditanggung makan dan ongkos dari dan menuju
airport. Untuk membunuh waktu, lagi-lagi
kami keluyuran di kawasan Orchard. Keluar masuk mall, lalu menonton film di
Shaw Theatre.
Karena Singapore selalu menawarkan hal-hal yang baru,
kelihatannya kami akan kembali dan kembali lagi kesana. Apalagi jaraknya cukup
dekat dan banyaknya airlines yang menuju ke Singapore dengan harga yang sangat
bersaing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar