Selasa, 26 November 2013

SUMMER IN SEOUL: SHOP TILL YOU DROP (3)

Hari keempat di Seoul, pukul 7 pagi kami sudah siap di lobby hotel, bersama salah seorang teman suami saya. Hari ini kami akan mengikuti tur ke DMZ atau Demiliterized Zone, kawasan perbatasan Korea Selatan dengan Korea Utara. Harga tiket half day tour ke DMZ adalah 55.000 KRW/orang termasuk makan siang. Ada dua macam tur ke perbatasan negara ini, yaitu DMZ tour dan DMZ+Pamunjeon tour. DMZ hanya mengunjungi tempat-tempat umum di kawasan perbatasan, sedangkan tur kedua juga termasuk kunjungan ke Pamunjeon atau JSA (Joint Security Area), markas militer yang dipraksarsai UN, satu-satunya tempat dimana Korea Selatan dan Utara bisa berhubungan. Harga tur lebih mahal, sekitar 76.000 KRW/orang dan persyaratanpun lebih ketat, selain harus membawa paspor juga ada persyaratan dress code yang harus dipatuhi. Bahkan warga negara sipil Korea Selatan dilarang masuk ke tempat ini. Sebenarnya kami ingin juga ke Pamunjeon tetapi sayang sekali minggu itu tur ke Pamunjeon sudah fully booked.

pos penjagaan dan pagar berduri sepanjang sungai
            DMZ berjarak kurang lebih 50 km di utara kota Seoul, dan ditempuh selama kurang lebih 1 jam.  Disisi jalan mengalir sungai Imjin yang merupakan batas wilayah Korea Selatan dan Utara. Sungai ini dipagari kawat berduri dan setiap beberapa meter terdapat pos penjagaan. Sungai ini nampak sepi tanpa ada aktivitas, ternyata menurut tour guide kami, memang tidak boleh ada warga yang mendekat ke sungai tersebut. Jika ada yang nekat masuk sungai, akan langsung ditembak tanpa peringatan terlebih dulu. Seminggu setelah kami pulang dari Seoul saya membaca berita tentang seseorang yang berusaha menyeberangi sungai Imjin untuk masuk ke wilayah Korea Utara. Akhirnya orang tersebut mati ditembak oleh militer Korea Selatan yang menjaga kawasan tersebut.

Imjingak Park
            Perhentian pertama adalah Imjingak Park, tempat berkumpulnya orang-orang dari kedua Korea yang ingin saling bertemu. Karena perang, banyak keluarga yang terpisah tercerai berai. Selain sebuah taman dengan banyak monumen perang Korea, disini juga terdapat Bridge of Freedom yang melintasi sungai Imjin. Disini kami berganti bus khusus yang melayani tur ke DMZ.

Dorasan Station
jalur kenangan menuju  Pyongyang
            Selanjutnya kami berhenti di Dorasan Station, stasiun kereta yang terletak paling utara di Korea Selatan. Pada periode tahun 2007-2008 ada kereta dari Dorasan station menuju Pyong Yang di Korea Utara untuk membawa material industri. Saat ini, stasiun Dorasan hanya disinggahi kereta yang membawa turis dari Seoul. Di dalam stasiun yang sangat bersih ini ada toko souvenir yang menjual merchandise DMZ seperti t shirt, topi dan magnet.

Dorasan Observatory
            Dorasan Observatory adalah tempat perhentian selanjutnya dari tur ini. Dari tempat ini, jika cuaca sedang cerah, kita dapat mengamati (melalui teropong) kehidupan masyarakat Korea Utara yang tinggal di perbatasan. Kita juga dapat melihat patung-patung pemimpin Korea Utara Kim Il Sung yang merupakan bagian dari alat propaganda Korea Utara. Sayang sekali hari itu hujan sedang turun dan cuaca sedikit berkabut sehingga kami tidak dapat melihat dengan jelas.

DMZ
            Perhentian terakhir adalah highlight dari tur ini yaitu The 3rd Tunnel yang letaknya tak jauh dari Dorasan Observatory. The 3rd tunnel adalah sebuah terowongan yang digali oleh pihak Korea Utara yang maksudnya akan digunakan untuk infiltrasi saat perang. Terowongan ini ditemukan pada tahun 1978, merupakan terowongan ketiga dari empat terowongan yang berhasil ditemukan oleh pihak Korea Selatan. Namun demikian diyakini bahwa ada lebih dari 20 terowongan yang dibangun oleh Korea Utara. Panjang asli dari terowongan ini kurang lebih 1,7 km dengan tinggi dan lebar 2 meter. Untuk keperluan turisme, terowongan hanya dibuka sejauh hampir 400 meter, dan dipasangi tembok barikade. Di dalam terowongan yang menurun ke arah perut bumi ini kita tidak boleh mengambil foto. Lumayan melelahkan untuk menyusuri terowongan ini. Saat masuk saya harus mengontrol lutut karena jalan yang menurun curam, sedangkan saat keluar saya tersengal-sengal hampir kehabisan nafas karena harus jalan menanjak sejauh 400 meter.

The 3rd tunnel
pintu masuk the 3rd tunnel
            Hari sudah lewat tengah hari ketika minivan membawa kami kembali ke kota Seoul. Sebelum makan siang, kami dimampirkan dulu di sebuah tempat pengolahan ginseng. Seperti biasalah, kalau ikut tur pasti mampir di tempat-tempat seperti ini. Ketika di Thailand saya pernah dimampirkan di tempat pembuatan jewellery dan pengolahan madu. Makan siang menjadi penutup acara tur hari itu. Karena kami meminta tempat makan yang tidak menyajikan daging babi (selain kami bertiga ada dua orang Indonesia lain dan dua orang bule), kami dibawa ke sebuah depot makanan Korea dengan gambar sapi yang sangat besar dipintunya. Makanannya cukup lezat, berupa mie dengan kuah kaldu, daging sapi yang diiris tipis-tipis dengan sayuran dan jamur enoki. Namanya saya lupa, tapi ada unsur ‘tukul’ nya J Seperti biasa makanan ini dilengkapi kimchi.
mie lezat tapi tidak tahu namanya..
            Setelah berpisah dengan peserta tur lainnya, kami bertiga berjalan kaki menuju stasiun subway City Hall yang tak jauh dari depot. Ternyata Deoksugung  Palace terletak disebelah pintu masuk stasiun, dan saat itu kebetulan sudah dekat waktunya dengan upacara pergantian penjaga. Akhirnya kami masuk dulu ke istana ini. Tiket masuknya seharga 1000 KRW/orang. Istana Deoksugung diperuntukkan kepada permaisuri raja dan termasuk salah satu dari lima istana utama yang ada di kota Seoul. Taman-tamannya rapi dan indah dengan tanah seperti pasir putih menutupi jalan-jalan didalam halaman istana. Oh ya, istana-istana di Seoul dan Namsan hanok village tutup setiap hari selasa, sedangkan museum-museum tutup di hari senin.


Deoksugung Palace
   
Gedung bergaya barat di Deoksugung (art gallery)

    Hari kelima, adalah hari terakhir kami di Seoul. Karena suami saya hanya akan menghadiri seminar setengah hari, saya memutuskan untuk eksplor di sekitar hotel saja. Karena tidak membawa anak, tentu saja saya tidak masuk ke amusement park Lotte World (bisa-bisa saya mellow L). Jadi saya menjelajahi mall Lotte World yang terdiri dari 11 lantai (!) ini saja. Lotte World adalah mall kelas premium, dengan barang-barang branded yang harganya selangit. Tetapi di basement sedang ada sale, juga di beberapa lantai diatasnya. Walaupun berjanji tidak akan kalap, saya akhirnya tak berdaya ketika melihat pashmina lucu yang setelah diskon harganya masih 10.000 KRW. Selain itu sebuah hand bag merk Sisley berwarna kuning juga masuk ke kantong belanja saya.

Lantai 10 dan 11 adalah tempat Lotte duty free shop. Berbagai barang branded dijual dengan harga yang cukup miring. Tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah booth-booth kosmetik Korea. Segerombolan besar turis dari China menyerbu booth-booth tersebut dan memborong berbagai jenis barang seperti orang kalap. Saya lihat, kebanyakan dari mereka memborong masker wajah yang dikemas dalam plastik-plastik besar, mungkin isinya sekitar 10-20 pieces perbungkus. Sempat tergoda ingin membeli, tapi saya takut tidak cocok diwajah saya. Sejatinya saya memang tidak terlalu suka make up. Tetapi saya teringat tulisan Claudia Kaunang bahwa kosmetik adalah suvenir khas dari Korea, Jika bingung mau beli apa, belilah BB cream yang merupakan produk inovasi asli dari negeri ginseng ini. Akhirnya saya membeli beberapa buah BB cream, hand lotion dan lip balm dalam kemasan yang lucu-lucu sebagai oleh-oleh untuk keluarga.

Setelah gempor keliling mall, saya kembali masuk kamar menunggu suami pulang. Setelah makan siang (mie instant andalan masih ada J ) kami berangkat menuju tempat tujuan terakhir kami di Seoul, yaitu kawasan Gwanghwamun. Kami mengunjungi Gyeongbokgung Palace, istana utama tempat tinggal raja. Istana ini sangat luas dan dibelakang istana terdapat beberapa bangunan penting seperti Folklore Museum dan The Blue House, istana kepresidenan di masa sekarang. Sayang di beberapa tempat tamannya tampak kurang terawat. Terus terang sebenarnya saya kurang tertarik dengan istana-istana di negeri-negeri timur jauh ini, karena penampakannya sama saja. Tetapi karena menurut buku-buku panduan istana di Seoul itu adalah must visit place, maka saya luangkan waktu untuk mengunjunginya.

Gwanghwamun gate, Gyeongbokgung Palace
halaman dalam
Dari Gyeongbokgung Palace kami tinggal menyeberang jalan menuju Gwanghwamun Plaza. Ini adalah salah satu iconic place di Seoul, dengan patung King Seejong yang super besar ditengahnya. Selain itu ada pula patung besar Admiral Yi Sun Sin dari dinasti Joseon dikelilingi airmancur. Satu lagi tempat menarik di sekitar Gwanghwamun Plaza adalah Cheonggyecheon Stream, sebuah sungai kecil tempat duduk-duduk yang nyaman di tengah kebisingan kota. Sayang saya tidak mampir ke tempat itu karena kurang pasti dengan letaknya, tetapi setelah saya memperlihatkan foto-foto kepada salah seorang di komunitas Backpacker Dunia, saya baru ngeh bahwa salah satu monumen unik berwarna ungu yang saya foto di kawasan itu adalah bagian dari Cheonggyecheon Stream...

King Seejong
Admiral Yi Sun Shin di Gwanghwamun Plaza
ternyata disinilah letak Cheonggyecheon Stream

Keesokan harinya, pukul 5.30 kami sudah check out dan segera menuju Incheon Airport dengan menggunakan KAL airport limousine bus dari halte di depan hotel. Lalu lintas masih sangat lancar di pagi buta begini, sehingga kami tiba terlalu pagi di airport. Tetapi tidak apa, karena dengan demikian saya masih sempat berjalan-jalan berkeliling airport yang katanya terbaik di dunia ini, dan juga sempat mampir di duty free shop untuk belanja pernak pernik imut yang ngga penting J

Overall, Seoul adalah tempat yang menyenangkan, dan ada kemungkinan saya akan mengunjunginya lagi di lain kesempatan jika rejeki dan kesehatan masih memungkinkan. Tentunya dengan mengajak anak-anak dan mengunjungi tempat lain di luar kota Seoul seperti Seoraksan, Nami Island, Busan dan Jeju Island. Yang pasti, harus bawa banyak uang because Seoul is definitely a place to shop till you drop!

SUMMER IN SEOUL: SHOP TILL YOU DROP (2)

Hari berikutnya, suami saya ‘bolos’, tidak ikut simposium. Kami bermaksud berkeliling kota Seoul dengan menggunakan bus hop on hop off, Seoul City Circular Course. Harga tiketnya 10.000 KRW/hari dengan 26 titik pemberhentian. Tiket dibeli di tempat pemberhentian pertama yaitu di exit 6 Gwanghwamun station. Pertama, kami mengunjungi National Museum of Korea. Tiket masuknya free of charge alias gratis. Selama kurang lebih 1,5 jam kami habiskan disini untuk melihat sejarah kebudayaan Korea sejak masa prasejarah. Isinya kurang lebih sesuai dengan museum Gajah di Jakarta.

Seoul City Tour bus
National Museum of Korea
            Setelah puas, kami beranjak ke halte bus untuk menunggu bus berikutnya. Apadaya ternyata bus baru datang setelah satu jam menunggu, padahal menurut brosur bus lewat setiap 20-30 menit sekali. Padahal hujan sudah mulai turun.

            Tujuan berikutnya adalah Korea Memorial Museum. Seperti National Museum, tiket masuk tempat ini juga free of charge. Museum ini berisikan sejarah perang di Korea, sejak jaman kerajaan (dinasti Joseon), masa penjajahan Jepang sampai pada perang Korea Selatan dan Utara yang sampai saat ini belum juga menemui titik akhir. Berbagai peralatan perang dipamerkan disini, tentu saja sangat menarik untuk suami saya yang seorang prajurit TNI.

Korean War Memorial Museum
            Dari museum kami beranjak ke tujuan selanjutnya yaitu Namsan Seoul Tower yang terletak diatas bukit setinggi 500 m. Dari tempat pemberhentian bus, kami harus berjalan kaki kurang lebih 200 m dengan kondisi jalan menanjak. Cukup berat untuk yang punya bodi subur kayak saya. Tapi mau istirahat kok malu karena banyak orang-orang yang sudah lanjut usia tetap bersemangat berjalan, walaupun ada yang dengan bantuan tongkat.

Namsan Seoul  Tower
tree of locks
            Selain tower setinggi 236.7 m yang digunakan sebagai menara komunikasi dan observation deck, disini juga terdapat tree of locks alias pohon gembok yang dipenuhi gembok-gembok cinta. Konon apabila sepasang kekasih memasang gembok yang bertuliskan nama mereka, kisah cinta mereka akan abadi selamanya. Kira-kira samalah dengan jembatan gembok Pont des Arts di Paris.

            Selain itu disini juga terdapat Teddy Bear Museum. Karena cuaca gerimis dan berkabut, saya membatalkan untuk naik ke observation deck (percuma, apa yang mau dilihat dalam kondisi berkabut begitu) dan memilih masuk ke Teddy Bear Museum. Harga tiketnya 8000 KRW, lumayan mahal. Museum ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama berisi sejarah Teddy Bear dan juga diorama sejarah Korea masa lalu dengan boneka Teddy sebagai ganti patung-patungnya. Sedangkan bagian kedua berisi diorama tentang kebudayaan pop Korea masa kini yang sudah mendunia dengan K-pop nya. Dibagian ini ada Teddy Bear sebesar manusia yang berdandan ala Psy, penyanyi yang ngetop dengan Gangnam-style nya.

Teddy Bear Museum
Teddy Bear-Psy
            Keluar dari museum, saya disambut oleh merchandise shop yang memajang barang imut-imut dan lucu. Tak tahan, akhirnya saya pun menghamburkan uang untuk membeli sebuah teddy bear ukuran sedang untuk gadis kecil saya, plus magnet dan berbagai pernik imut-imut yang ngga penting :p

            Sembari menunggu datangnya bus (lagi-lagi lamaaa nunggunya), kami membeli roti dan minuman untuk makan siang di minimart depan halte. Apa boleh buat, jika sedang ngetrip di negara yang minoritas muslim, tidak banyak yang berani kami makan. Yang jelas kami menghindari makan daging dan ayam. Roti pun kami memilih roti manis untuk menghindari kontaminasi bahan tak halal sesedikit mungkin, ditambah berdoa dulu sebelum makan tentunya.

            Tujuan terakhir kami hari ini adalah Dongdaemun. Dongdaemun adalah salah satu shopping district terbesar di Seoul selain Namdaemun dan Myeongdong yang saya kunjungi hari kemarin. Di Dongdaemun terdapat 37 shopping malls. Bayangkan! 37 mall hanya di satu area! Rata-rata buka mulai pukul 10.30 pagi sampai pukul 05.00 pagi keesokan harinya. Hampir 24 jam! Luar biasa hasrat belanja orang Korea ini.Beberapa mall di Myeong-dong juga menerapkan jam buka toko yang sama. Berbagai barang bisa ditemukan di tempat ini, terutama barang-barang fashion, baik produksi Korea maupun China. Barang made in Korea lebih bagus mutunya dan tentunya harganya juga lebih mahal. Bagi pecinta fashion, siap-siaplah shop till you drop disini. Saking serunya berkeliling dan belanja (walaupun sudah gelap dan hari hujan) saya sampai lupa mengambil foto disini J

            Dari sekian banyak mall di Dongdaemun, yang paling populer untuk orang Indonesia adalah Doota (Doosan Tower), Migliore dan Hello Apm yang terletak bersebelahan. Bahkan di lantai 5 Doota Mall terdapat sebuah toko souvenir dimana seluruh pegawainya bisa berbahasa Indonesia dan bisa membayar dengan rupiah. Kualitas barang pun cukup baik dan barangnya lengkap dengan harga yang lumayan terjangkau. Khusus t shirt mereka menyediakan yang berkualitas sedang (harga 4000 KRW/buah) dan kualitas baik (harga 10.000 KRW/buah).

            Dengan banyaknya kawasan belanja (Namdaemun, Myeong-dong, Insa-dong, Itaewon, Dongdaemun juga tempat yang tidak sempat saya kunjungi seperti kawasan Gangnam dan Apgujeong) dan jam buka mall yang sangat fantastis, menurut saya rasanya Seoul sangat layak disebut sebagai kota belanja, mengalahkan Singapore, Bangkok atau HongKong.

            Waktu menunjukkan pukul 23.00 ketika kami beranjak meninggalkan Dongdaemun. Walaupun hujan turun cukup deras, suasana masih ramai layaknya di siang hari. Demikian pula suasanadi dalam subway masih penuh, dan banyak pula yang berdiri. Di hari selarut itu, masih banyak perempuan yang berjalan sendirian. Dengan santai mereka menggenggam smartphone merk Korea yang terkenal sambil mendengarkan musik, browsing internet atau nonton TV. Tak tampak kekhawatiran atau perasaan tak aman. Bayangkan kalau di Indonesia. Rasanya tak ada perempuan yang berani pulang sendirian hampir tengah malam sambil menggenggam barang mahal ditangan. Bisa-bisa dirampok orang atau malah nyawa melayang...hiyyy...

Senin, 25 November 2013

SUMMER IN SEOUL: SHOP TILL YOU DROP (1)

Bulan September 2013 yang lalu, saya berkesempatan menemani suami yang mengikuti kongres WFNS (World Federation of Neuro Surgeons) di Seoul South Korea. Karena keterbatasan dana ( J ) kami hanya berangkat berdua tanpa anak-anak.  Apalagi saat itu bukan masa libur sekolah.

            Karena baru mendaftar pada saat-saat terakhir, kami tidak bisa mendapatkan kamar di hotel-hotel sekitar venue (COEX) di kawasan Gangnam. Akhirnya kami memesan kamar di Lotte World Hotel di kawasan Jamsil yang letaknya tidak terlalu jauh dari Gangnam.  Lotte World Hotel adalah bagian dari semacam resort yang terdiri dari hotel, pusat perbelanjaan dan amusement park Lotte World.
Pengurusan visa pun tidak sempat kami lakukan sendiri di Jakarta, melainkan melalui travel agent di Malang. Biaya pengurusan visa Rp 495.000/orang dan selesai dalam waktu 1 minggu.

            Pesawat Garuda Indonesia yang membawa kami mendarat di Incheon Airport pada pukul 7 pagi, setelah terbang selama 7 jam dari Jakarta. Dari Incheon Airport kami naik KAL Airport Limousine Bus no 6705 yang berhenti tepat di depan Lotte World Hotel. Harga tiketnya KRW 16.000. Perjalanan menempuh waktu kurang lebih 1 jam, kondisi jalan sedikit padat.

WFNS  @ Coex
            Setelah menitipkan barang di concierge, mandi koboy dan ganti baju di toilet hotel, kami menuju COEX, venue kongres WFNS. Dari hotel kami berjalan ke arah Lotte department store yang terletak di sebelah hotel, lalu turun ke lantai basementnya yang berhubungan langsung dengan stasiun subway Jamsil. Dari Jamsil kami naik subway Line 2 (green) dan turun di stasiun Samseong, yang juga berhubungan langsung dengan basement COEX mall. Setelah melakukan registrasi, kami berkeliling di COEX mall untuk mencari tempat makan siang-tetapi akhirnya, karena ragu2 kami tidak jadi makan disitu. Kami kembali ke hotel untuk check in, makan siang dengan bekal mie instant yang kami bawa dari rumah, lalu beristirahat sejenak. Sore harinya kami bersiap untuk menghadiri welcome dinner di COEX.

            Keesokan harinya, karena suami saya akan menghabiskan waktu seharian penuh di venue kongres, sayapun berencana untuk exploring Seoul sendirian. Tujuan pertama saya adalah Insa-dong, pedestrian street yang menjual pernak pernik dan handicraft khas Korea. Dari Jamsil saya naik subway line 2 menuju stasiun Euljiro 3-ga, lalu berganti line 3 dan turun di  stasiun Anguk. Dari stasiun Anguk tinggal berjalan kaki kurang lebih 100 m, sampailah saya di kawasan Insa-dong.

mulut jalan Insa-dong, masih sepi
souvenir dan handicraft
Ssamsie-gil

            Jam baru saja menunjukkan pukul 10 pagi, jadi toko-toko pun belum semua buka. Jalan selebar kurang lebih 6 meter ini hanya diperuntukkan untuk pejalan kaki, jadi sangatlah menyenangkan berjalan santai disepanjang jalan ini sembari sekali-sekali berhenti untuk melihat-lihat berbagai handicraft dan souvenir khas negeri ginseng. Berbagai barang dengan kualitas yang cukup baik dijual disini, mulai dari kaos, gantungan kunci, magnet, dompet, sampai lukisan, kipas dan topeng kayu. Ada juga penjual manisan yang terbuat dari madu dan tepung jagung. Selain toko-toko kecil, ada sebuah mall kecil dan terbuka yang menjual berbagai barang unik produksi Korea, namanya Ssamsie-gil. Lebih dari 2 jam saya habiskan untuk melihat-lihat dan berbelanja disini. Tak puas-puasnya mata saya mengagumi berbagai pernik lucu made in Korea ini. Perut yang mulai lapar pun cukup diganjal dengan roti yang dibeli di Seven Eleven.

suasana Namdaemun Market
            Dari Insa-dong, saya beranjak menuju kawasan Namdaemun Market. Hari ini memang saya dedikasikan untuk shopping dan cuci mata, makanya tujuan hari ini adalah tempat-tempat untuk menghamburkan uang J Saya kembali ke stasiun Anguk dan naik subway ke Chungmuro untuk berganti ke line 4 dan turun di Hoehyeong Station. Keluar dari exit 5 saya langsung berhadapan dengan keramaian pasar. Jika Insa-dong adalah kawasan pasar seni yang berkelas, Namdaemun adalah pasar rakyat. Laiknya pasar, segala macam barang dijual disini, mulai dari sayuran, buah-buahan, pakaian, sepatu, aksesoris dan juga suvenir. Banyak buku panduan menyarankan untuk membeli oleh-oleh disini karena lebih murah dibanding Insa-dong, tetapi saya sendiri lebih suka berbelanja di Insa-dong, hargapun menurut saya tidak terlalu jauh berbeda. Disini saya lebih tertarik pada aksesoris yang lucu-lucu seperti bros, bando, kalung, gelang dan lain-lain. Saya memborong berbagai aksesoris bertema Princess dan Hello Kitty untuk gadis kecil saya dirumah.

            Puas mengelilingi Namdaemun, saya berjalan kaki menuju kawasan Myeong-dong. Sempat sedikit nyasar, tapi akhirnya saya bisa kembali ke jalan yang benar J Kawasan Myeong-dong adalah kawasan perbelanjaan menengah keatas, dengan berbagai mall dan department store mewah seperti Shinsegae, Lotte dan Migliore.

toko kosmetik di Myeong-dong
Selain itu, di sepanjang jalan-jalannya banyak bertebaran toko-toko kosmetik made in Korea seperti Etude, Tony Moly, Missha, Face Shop, Inisfree dan lain-lain. Korea memang terkenal dengan brand-brand kosmetiknya selain klinik-klinik operasi plastik untuk mengubah wajah. Nampaknya orang Korea memang kecanduan untuk mempermak wajah. Banyak orang Korea yang saya jumpai baik laki-laki atau perempuan memiliki kulit putih yang halus terawat, dengan hidung runcing sempurna, entahlah mana yang asli mana yang buatan! Mereka juga sangat modis, tetapi menurut saya pakaian mereka lebih wearable dibandingkan orang-orang China atau Hongkong yang pakaiannya lebih bling-bling, dengan potongan yang seringkali aneh. Saya perhatikan mereka juga lebih suka memakai sepatu bersol datar baik itu sepatu keds maupun flat shoes, termasuk karyawati kantorannya. Jarang yang memakai high heels, paling2 medium heels atau kitten heels. Oh ya kembali ke toko-toko kosmetik, jangan pernah menjadikan toko2 ini sebagai patokan jalan! Satu merk kosmetik saja bisa memiliki beberapa toko di satu kawasan, boleh dibilang ada di setiap gang, dijamin bingung kalau memakai toko kosmetik sebagai patokan jalan!

            Di kawasan Myeong-dong juga terdapat gedung theater, gereja bergaya gothic dan teater pertunjukan Cookin’ Nanta Show yang banyak dikunjungi wisatawan. Sangat menyenangkan duduk-duduk di depan gedung theater saat melepas lelah, sambil memperhatikan orang-orang Korea yang modis lalu lalang.
tourist information booth 
petugas siap membantu
            Sempat bingung untuk mencari jalan ke arah stasiun subway, saya akhirnya bertanya pada petugas tourist information. Oh ya, Seoul termasuk kota yang ramah untuk turis. Meskipun mereka menggunakan aksara Hangeul, untuk informasi di tempat-tempat umum selalu ada keterangan dalam bahasa Inggris. Booth-booth tourist information banyak dijumpai di tempat-tempat strategis, dengan petugas ramah dan bisa berbahasa Inggris dengan baik. Selain itu, di tempat-tempat yang ramai turis, petugas dari tourist information ini berjalan berkeliling sepasang-sepasang, siap membantu siapapun yang kebingungan. Mereka memakai pakaian dan topi berwarna merah sehingga mencolok dan mudah dikenali. Selain bertanya, kita juga bisa meminta peta kota, gratis dari mereka.

Hello Kitty Cafe Sinchon
iced caffee latte
            Hari sudah menjelang sore, tapi saya masih ingin mencari lokasi Hello Kitty Cafe. Meskipun bukan fans berat kucing lucu itu, tapi saya penasaran ingin mencoba makanan dan minuman di kafe tersebut yang katanya lucu-lucu dan berbentuk si Kitty. Dari berbagai informasi di internet saya membaca bahwa kafe tersebut bisa dicapai dari 2 stasiun subway line 2 yaitu Sinchon dan Hongik University yang memang letaknya berurutan. Dari Myeong-dong saya berjalan menuju stasiun Euljiro 1-ga (line 2) lalu turun di stasiun Sinchon. Mengikuti petunjuk, saya berjalan kurang lebih 500 m dan menemukan Hello Kitty Cafe di sebuah jalan kecil. Tapi saya sangsi karena eksteriornya berbeda dengan foto-foto yang saya lihat di internet. Penasaran, sayapun masuk. Ternyata kafenya kecil, walaupun interiornya serba Hello Kitty tapi berbeda dengan foto-foto yang saya lihat. Tetapi saya tetap duduk dan memesan segelas iced caffee latte. Rasanya tidak istimewa, terlalu creamy, tapi memang lucu dengan lukisan Hello Kitty difoamnya.
Hello Kitty Cafe Hongik University
tiramisu dan green tea latte
            Karena masih penasaran dengan kafe yang saya lihat di internet, saya kembali naik subway dan turun di Hongik University. Kali ini saya sempat kesasar dan berputar-putar selama hampir setengah jam (maklum saya tidak ahli membaca peta). Kawasan ini memang ramai, banyak dipenuhi anak-anak muda karena banyak toko-toko fashion indie. Setelah lagi-lagi bertanya pada petugas tourist information, akhirnya sampai juga saya di Hello Kitty Cafe yang gambarnya sering saya lihat di internet. Kafe ini lebih besar dari yang pertama, lebih ramai dan pernik-perniknya lebih banyak (sayang ngga ada fridge magnet). Interiornya serba Hello Kitty sampai ke toiletnya. Disini saya duduk agak lama untuk melepas lelah sambil menikmati tiramisu dan green tea latte.

toilet imut di Hello Kitty Cafe
interior serba pink dan Hello Kitty
            Kembali ke hotel, ternyata suami saya sudah tiba lebih dulu. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami kembali melangkahkan kaki untuk menikmati kota Seoul di waktu malam. Tujuan kami adalah Itaewon, yang dikenal sebagai international district nya Seoul. Selain tempat belanja, Itaewon dikenal sebagai tempat ekspatriat Seoul berkumpul, karena banyak restoran yang menawarkan berbagai makanan dari berbagai penjuru dunia. Satu-satunya mesjid di Seoul pun berlokasi disini, berikut berbagai restoran halal disekitar mesjid.

            Dari Jamsil kami naik subway sampai stasiun Sindang lalu berganti line 6 dan turun di Itaewon. Lokasi mesjid agak jauh masuk kedalam, dengan jalan yang menanjak. Di kanan-kiri jalan berjejer berbagai toko muslim, mulai dari restoran, bakery, supermarket bahkan sampai laundry. Sayang suami saya enggan diajak berjalan sampai ke mesjid karena hari memang sudah gelap dan kondisi jalan cukup sepi. Padahal hanya tinggal beberapa ratus meter saja..

Bibimbap di restoran Muree
            Kami masuk ke salah satu restoran kecil yang bernama Muree (tapi harganya ternyata tidak mureeh J) karena selain makanan India mereka juga menawarkan makanan Korea halal. Kesempatan baik untuk mencoba makanan khas Korea tanpa waswas. Saya memesan seporsi bibimbap (nasi rames ala Korea) seharga 8000 KRW. Ternyata rasanya cukup lezat dan sedikit spicy, ditemani dengan kimchi, acar Korea yang terbuat dari sawi yang difermentasi dan tofu.

            Setelah makan kami langsung kembali ke hotel karena hari sudah malam. Karena lelah, kami memilih menumpang taksi saja. Supir taksinya sangat ramah, walaupun tidak bisa berbahasa Inggris dia sangat ingin berkomunikasi dengan kami. Akhirnya kami mengobrol dengan bantuan translator di hp android miliknya J

TAHU TELOR TERMAHAL DI DUNIA

Hari keempat di Inggris, kerinduan akan makanan Indonesia terasa semakin kuat. Memang setiap hari kami makan nasi, yang dibeli di halal chinese food stall atau halal american fried chicken dekat hotel. Tapi membayangkan bakso atau nasi pecel sungguh membuat air liur nyaris jatuh.

American Fried Chicken halal di Leicester Square

            Di hari kedua saya menemukan sebuah ‘warung’ makanan Indonesia di pojokan lantai 2 sebuah supermarket Cina di Charing Cross Road.Suasana Indonesianya sangat menenangkan, pemilik dan tamunya orang Indonesia juga. Tapi sayang rasa makanannya kurang pas dilidah saya. Bakso dan mienya keras, dan kuahnya tidak panas. Harga perporsinya 4,5 pounds (Rp 67.500). Standar untuk ukuran London, tapi bikin kurus kantong orang Indonesia (apalagi kalau dibandingkan dengan bakso di tanah air yang harganya hanya Rp 5000-Rp 7000 saja).

            Di hari keempat, sepulang dari British Museum saya teringat sebuah restoran Indonesia yang saya temukan di internet saat saya browsing mencari restoran halal di London. Namanya Bali Bali dan letaknya di Shaftesbury Ave, tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap di kawasan West End. Kalau lihat di peta, letaknya juga cukup dekat dengan stasiun tube Tottenham Court Road, stasiun terdekat dari British Museum. Maka kamipun memutuskan untuk makan siang disana. “Sekali-sekali makan makanan yang layak, jangan ala backpacker terus”, kata suami saya.

            Setelah sedikit tersesat dan jalan kaki yang ternyata lumayan jauh, sampailah kami di Bali Bali. Restorannya tidak terlalu besar dengan suasana Indonesia yang terasa berkat pajangan kipas Bali, patung Roro Blonyo dan ukiran-ukiran dari berbagai daerah di Indonesia. Restoran sudah setengah penuh dan Cuma kami yang berwajah Melayu, lainnya adalah bule-bule.

Bali Bali @ Shaftesbury Ave

            Saat melihat daftar menu, saya agak tersedak melihat harganya. 3 pounds untuk seporsi nasi putih, 4 pounds untuk semangkuk kecil sup daging, 8 pounds untuk seporsi tahu telor. “Sudah jangan di kurs, nanti kamu ngga bisa makan”, kata suami saya sambil meringis. Akhirnya kami pesan nasi putih, nasi goreng, tahu telor, gado-gado, ayam goreng merah dan kerupuk. Total 75 pounds (Rp 1.125.000). Wow. “Tahu telor termahal di dunia”, komentar anak sulung saya J

sebelah kiri adalah tahu telor termahal didunia

            Untunglah rasanya cukup lezat dan mirip dengan di Indonesia. Porsinya pun ternyata cukup besar sehingga tidak bisa dihabiskan saat itu. Untungnya lagi, semua pelayan di restoran tersebut adalah orang Indonesia sehingga saya tidak malu-malu untuk minta mereka membungkuskan makanan sisa, termasuk nasi putih dan kerupuknya J Lumayan bisa untuk makan malam :)  

2N GOES TO UK: LIVERPOOL DAY 5 AND 6

Keesokan harinya, pukul 9 pagi kami sudah check out, dan dengan menggunakan underground kami menuju London Euston train station. Hari ini kami akan melanjutkan perjalanan menuju Liverpool dengan menggunakan kereta. Kami mendapatkan tiket return Virgin Trains first class secara online dengan harga 77 pounds perorang. Natassja yang berusia dibawah 4 tahun masih free of charge.

Virgin Trains, first class

            Perjalanan ke Liverpool memakan waktu hampir 2,5 jam. Sepanjang perjalanan pemandangan yang tampak adalah padang rumput luas, desa-desa khas Inggris yang cantik dan kota-kota kecil yang tenang. Kami tiba di Liverpool Limestreet Station setelah lewat tengah hari, dan setelah menikmati light meal sebagai makan siang di salah satu coffee shop di stasiun, kami menuju hotel dengan berjalan kaki.

Welcome to Liverpool
            Adagio, hotel yang kami tempati terletak di Fairclough Street, sangat strategis karena berada di jalan antara stasiun Limestreet dan Albert Docks, salah satu must to see place di Liverpool. Selain itu di depannya terdapat kompleks perbelanjaan Liverpool One, berupa pedestrian dengan banyak toko-toko berjejer dipinggirnya. Adagio merupakan hotel baru yang berbentuk apartemen dengan satu kamar tidur dan sofa bed di living room nya sehingga cukup memadai untuk kami. Karena hotel baru, kami mendapatkan harga promo yang cukup miring.

  Karena masih baru pula, peralatan dapurnya cukup lengkap, bersih dan kinclong. Dengan peralatan dapur yang cukup lengkap seperti itu, saya bisa memasak untuk mengirit biaya makan. Belanja di Tesco supermarket senilai 17 pounds sudah bisa mendapatkan beras, telur, ikan dan sayuran juga susu yang cukup untuk 2 hari! Kalau makan diluar, uang 17 pounds hanya cukup  untuk membeli 3 porsi nasi goreng. Untuk pengiritan makan, di sore hari saat toko-toko hampir tutup, banyak bakery yang banting harga menjual makanan mereka yang belum laku. Misalnya Gregg’s yang menjual donat seharga 1 pound per 5 potong atau danish 1 pound/potong, lumayan kan...

Albert Docks di sore hari
The Beatles Story

Setelah check in dan beristirahat sejenak, sore itu kami habiskan dengan jalan-jalan ke Albert Docks, menikmati udara laut dan berfoto di depan The Beatles Story, museum The Beatles yang sudah tutup. Kami bermaksud mengunjunginya keesokan harinya.

Udara yang sangat dingin membangunkan kami keesokan paginya. Saya lihat di acara berita, pagi itu suhu hanya 1 derajat Celcius. Wow! Kami menunggu agak siang untuk keluar hotel karena cuaca terlalu dingin untuk ukuran kami. Menjelang pukul 9, suhu udara naik menjadi 12 derajat Celcius, ‘cukup aman’ untuk jalan-jalan.

Anfield Stadium
inside the stadium

Tujuan utama kami hari ini adalah Anfield Stadium, markas klub sepakbola English Premier League, Liverpool FC. Sebagai Liverpudlian sejati, ini adalah saat yang dimimpikan oleh suami saya sejak lama. Sebetulnya pada awalnya suami saya berniat untuk menonton penampilan Steven Gerrard cs di Anfield, sayangnya terjadi kekeliruan. Menurut suami saya biasanya Liverpool FC selalu bertanding di kandangnya pada hari minggu, tapi ketika menyusun itinerary saya membaca di website resminya pertandingan Liverpool FC melawan Chelsea akan berlangsung hari sabtu. Jadi itinerary kami buat sampai hari minggu (sabtu nonton pertandingan, minggu pagi pulang). Apa daya setelah semua tiket fixed dan suami saya membuka kembali website Liverpool FC, tercantum bahwa pertandingannya dilangsungkan hari minggu! Merubah tanggal kepulangan tentu menambah biaya lagi, apalagi Nadhif anak sulung saya sudah membolos 3 hari untuk acara liburan ke Inggris ini. Walaupun kecewa, akhirnya suami saya dapat menerima dan menghibur diri, berarti saya harus kembali lagi kesini suatu saat, hanya untuk menonton pertandingan! J Jadi, hari itu kami hanya mengikuti mini stadium tour, masuk ke museum dan berbelanja di merchandise store nya.

Dream comes true

Semula saya membayangkan Anfield stadium sebesar Gelora Bung Karno di Senayan. Betapa herannya saya, ternyata stadion milik salah satu klub bergengsi di liga Inggris ini ternyata hanya kecil saja. Halamannya tidak terlalu luas, lapangan parkirnya pun secukupnya saja. Stadionnya hanya berkapasitas kurang lebih ... penonton. Bahkan stadion Gajayana di Malang kelihatannya lebih besar. Menurut suami saya, rata-rata markas klub sepak bola di Inggris memang seperti di Anfield ini.

Tapi jangan tanya kualitas lapangannya. Walaupun kecil, rumputnya sangat rapi dan dirawat secara khusus. Semua kursi penonton dalam kondisi baik, stadion bersih luar-dalam. Museumnya cukup menarik dan lengkap memuat sejarah klub ini, termasuk memajang semua piala yang pernah dimenangkan, profil para pemain legendaris dan juga jersey klub ini dari masa ke masa. Suami saya kegirangan seperti anak kecil yang bermain dengan mainan kesayangannya. Semua dilihat, semua difoto, dan menghabiskan waktu lama (dan uang :D ) di merchandise storenya. Hehehe, saya memaklumi saja, namanya juga cinta beraaat..

Ketika sudah puas berkeliling Anfield, hari sudah beranjak siang. Kami pulang dulu ke hotel untuk beristirahat sejenak dan makan siang. Setelah itu kami kembali menuju Albert Docks untuk mengunjungi Museum The Beatles. Sayang sekali ketika kami tiba disana antrian sudah panjang mengular sampai ke trotoar jalan. Akhirnya kami putuskan untuk tidak jadi masuk, karena takut Natassja bosan harus menunggu lama. Akhirnya kami menghabiskan sore di Liverpool One, kawasan perbelanjaan luas yang berupa pedestrian dengan berbagai macam toko dan restaurant.  Karena toko-toko disini tutup pada pukul 6 sore, maka kami tidak berlama-lama disini. Apalagi kami harus packing karena sudah harus pulang keesokan paginya.
Liverpool Limestreet Station, ready to leave UK
Virgin Trains

Keesokan paginya kami sudah check out pukul 7 pagi. Mendorong koper menuju Liverpool Limestreet Station, naik kereta pukul 8.20 kembali ke London. Dari London Euston Station, kami naik underground Northern Line ke Leicester Square, untuk berganti underground Picadilly Line ke Heathrow. Saat kami tiba di Heathrow, masih ada waktu 2,5 jam dari waktu keberangkatan pesawat, saya pikir cukup waktu untuk check in, pemeriksaan hand carry, imigrasi dan cuci mata di duty free store . Apa boleh buat, ternyata antrian pemeriksaan hand carry sangat panjang, dan saya juga kelupaan tidak mengeluarkan benda berbentuk cairan yang saya bawa (susu, obat-obatan) dari ransel saya. Akibatnya, ransel saya dibongkar dan diperiksa satu persatu isinya oleh petugas. Bahkan susu milik anak saya harus saya minum sedikit di depan petugas, sebagai bukti bahwa saya tidak membawa makanan beracun (hehehe..) Saya perhatikan memang semua penumpang yang membawa makanan harus membuka dan memakannya sedikit di depan petugas.

Semua pemeriksaan ini memakan waktu 1,5 jam akibatnya saya tidak sempat lagi melirik duty free store, padahal saya ingin sekali ke Harrods. Kami berjalan cepat untuk mencari gate keberangkatan. Setelah duduk dan rasa lelah hilang, barulah teringat bahwa kita tidak melalui loket imigrasi! Ternyata memang di Heathrow tidak ada pengecekan imigrasi di gerbang keberangkatan.  Aneh juga ya. Padahal saya perkirakan akan mengantri juga di loket imigrasi. Tidak tahu juga kenapa seperti itu. Untung juga sih, bayangkan kalau kami masih harus antri di loket imigrasi, bisa-bisa kami ketinggalan pesawat!

Tidak lama kemudian, panggilan untuk boarding terdengar. Pesawat Etihad London-Jakarta yang kami tumpangi ternyata cukup kosong sehingga masing-masing bisa tidur dengan selonjor. Sedangkan untuk Abu Dhabi-Jakarta pesawat penuh karena banyak rombongan pulang umroh.

Selesai sudah liburan kami di Inggris dengan meninggalkan kesan yang tak terlupakan. Apalagi kami ‘sukses’ membawa batita traveling jarak jauh, Alhamdulillah semua dalam keadaan sehat, bahkan Natassja pun hampir-hampir tak pernah rewel dan menikmati perjalanan. Sampai saat  ini dia masih ingat dan bisa bercerita tentang liburannya ke ‘Inggit’ (sebutan dia untuk Inggris). Seperti biasa, waktu liburan selalu terasa kurang dan ada keinginan untuk kembali lagi ke Inggris suatu saat nanti karena masih banyak tempat yang luput belum dikunjungi....