Bulan
September 2013 yang lalu, saya berkesempatan menemani suami yang mengikuti
kongres WFNS (World Federation of Neuro Surgeons) di Seoul South Korea. Karena
keterbatasan dana ( J ) kami hanya berangkat berdua tanpa anak-anak. Apalagi saat itu bukan masa libur sekolah.
Karena baru mendaftar pada saat-saat
terakhir, kami tidak bisa mendapatkan kamar di hotel-hotel sekitar venue (COEX)
di kawasan Gangnam. Akhirnya kami memesan kamar di Lotte World Hotel di kawasan
Jamsil yang letaknya tidak terlalu jauh dari Gangnam. Lotte World Hotel adalah bagian dari semacam
resort yang terdiri dari hotel, pusat perbelanjaan dan amusement park Lotte
World.
Pengurusan
visa pun tidak sempat kami lakukan sendiri di Jakarta, melainkan melalui travel
agent di Malang. Biaya pengurusan visa Rp 495.000/orang dan selesai dalam waktu
1 minggu.
Pesawat Garuda Indonesia yang
membawa kami mendarat di Incheon Airport pada pukul 7 pagi, setelah terbang
selama 7 jam dari Jakarta. Dari Incheon Airport kami naik KAL Airport Limousine
Bus no 6705 yang berhenti tepat di depan Lotte World Hotel. Harga tiketnya KRW
16.000. Perjalanan menempuh waktu kurang lebih 1 jam, kondisi jalan sedikit
padat.
 |
| WFNS @ Coex |
Setelah menitipkan barang di
concierge, mandi koboy dan ganti baju di toilet hotel, kami menuju COEX, venue
kongres WFNS. Dari hotel kami berjalan ke arah Lotte department store yang
terletak di sebelah hotel, lalu turun ke lantai basementnya yang berhubungan
langsung dengan stasiun subway Jamsil. Dari Jamsil kami naik subway Line 2
(green) dan turun di stasiun Samseong, yang juga berhubungan langsung dengan
basement COEX mall. Setelah melakukan registrasi, kami berkeliling di COEX mall
untuk mencari tempat makan siang-tetapi akhirnya, karena ragu2 kami tidak jadi
makan disitu. Kami kembali ke hotel untuk check in, makan siang dengan bekal
mie instant yang kami bawa dari rumah, lalu beristirahat sejenak. Sore harinya
kami bersiap untuk menghadiri welcome dinner di COEX.
Keesokan harinya, karena suami saya
akan menghabiskan waktu seharian penuh di venue kongres, sayapun berencana
untuk exploring Seoul sendirian. Tujuan pertama saya adalah Insa-dong,
pedestrian street yang menjual pernak pernik dan handicraft khas Korea. Dari Jamsil
saya naik subway line 2 menuju stasiun Euljiro 3-ga, lalu berganti line 3 dan
turun di stasiun Anguk. Dari stasiun
Anguk tinggal berjalan kaki kurang lebih 100 m, sampailah saya di kawasan
Insa-dong.
 |
| mulut jalan Insa-dong, masih sepi |
 |
| souvenir dan handicraft |
 |
| Ssamsie-gil |
Jam baru saja menunjukkan pukul 10
pagi, jadi toko-toko pun belum semua buka. Jalan selebar kurang lebih 6 meter
ini hanya diperuntukkan untuk pejalan kaki, jadi sangatlah menyenangkan
berjalan santai disepanjang jalan ini sembari sekali-sekali berhenti untuk
melihat-lihat berbagai handicraft dan souvenir khas negeri ginseng. Berbagai
barang dengan kualitas yang cukup baik dijual disini, mulai dari kaos,
gantungan kunci, magnet, dompet, sampai lukisan, kipas dan topeng kayu. Ada
juga penjual manisan yang terbuat dari madu dan tepung jagung. Selain toko-toko
kecil, ada sebuah mall kecil dan terbuka yang menjual berbagai barang unik
produksi Korea, namanya Ssamsie-gil. Lebih dari 2 jam saya habiskan untuk
melihat-lihat dan berbelanja disini. Tak puas-puasnya mata saya mengagumi
berbagai pernik lucu made in Korea ini. Perut yang mulai lapar pun cukup
diganjal dengan roti yang dibeli di Seven Eleven.
 |
| suasana Namdaemun Market |
Dari Insa-dong, saya beranjak menuju
kawasan Namdaemun Market. Hari ini memang saya dedikasikan untuk shopping dan
cuci mata, makanya tujuan hari ini adalah tempat-tempat untuk menghamburkan
uang J Saya kembali ke stasiun Anguk dan
naik subway ke Chungmuro untuk berganti ke line 4 dan turun di Hoehyeong
Station. Keluar dari exit 5 saya langsung berhadapan dengan keramaian pasar.
Jika Insa-dong adalah kawasan pasar seni yang berkelas, Namdaemun adalah pasar
rakyat. Laiknya pasar, segala macam barang dijual disini, mulai dari sayuran,
buah-buahan, pakaian, sepatu, aksesoris dan juga suvenir. Banyak buku panduan
menyarankan untuk membeli oleh-oleh disini karena lebih murah dibanding
Insa-dong, tetapi saya sendiri lebih suka berbelanja di Insa-dong, hargapun
menurut saya tidak terlalu jauh berbeda. Disini saya lebih tertarik pada
aksesoris yang lucu-lucu seperti bros, bando, kalung, gelang dan lain-lain.
Saya memborong berbagai aksesoris bertema Princess dan Hello Kitty untuk gadis
kecil saya dirumah.
Puas mengelilingi Namdaemun, saya
berjalan kaki menuju kawasan Myeong-dong. Sempat sedikit nyasar, tapi akhirnya
saya bisa kembali ke jalan yang benar J Kawasan Myeong-dong adalah kawasan
perbelanjaan menengah keatas, dengan berbagai mall dan department store mewah
seperti Shinsegae, Lotte dan Migliore.
 |
| toko kosmetik di Myeong-dong |
Selain itu, di sepanjang jalan-jalannya banyak bertebaran toko-toko
kosmetik made in Korea seperti Etude, Tony Moly, Missha, Face Shop, Inisfree
dan lain-lain. Korea memang terkenal dengan brand-brand kosmetiknya selain
klinik-klinik operasi plastik untuk mengubah wajah. Nampaknya orang Korea
memang kecanduan untuk mempermak wajah. Banyak orang Korea yang saya jumpai
baik laki-laki atau perempuan memiliki kulit putih yang halus terawat, dengan
hidung runcing sempurna, entahlah mana yang asli mana yang buatan! Mereka juga
sangat modis, tetapi menurut saya pakaian mereka lebih wearable dibandingkan
orang-orang China atau Hongkong yang pakaiannya lebih bling-bling, dengan
potongan yang seringkali aneh. Saya perhatikan mereka juga lebih suka memakai
sepatu bersol datar baik itu sepatu keds maupun flat shoes, termasuk karyawati
kantorannya. Jarang yang memakai high heels, paling2 medium heels atau kitten
heels. Oh ya kembali ke toko-toko kosmetik, jangan pernah menjadikan toko2 ini
sebagai patokan jalan! Satu merk kosmetik saja bisa memiliki beberapa toko di
satu kawasan, boleh dibilang ada di setiap gang, dijamin bingung kalau memakai
toko kosmetik sebagai patokan jalan!
Di kawasan Myeong-dong juga terdapat
gedung theater, gereja bergaya gothic dan teater pertunjukan Cookin’ Nanta Show
yang banyak dikunjungi wisatawan. Sangat menyenangkan duduk-duduk di depan
gedung theater saat melepas lelah, sambil memperhatikan orang-orang Korea yang
modis lalu lalang.
 |
| tourist information booth |
 |
| petugas siap membantu |
Sempat bingung untuk mencari jalan
ke arah stasiun subway, saya akhirnya bertanya pada petugas tourist
information. Oh ya, Seoul termasuk kota yang ramah untuk turis. Meskipun mereka
menggunakan aksara Hangeul, untuk informasi di tempat-tempat umum selalu ada
keterangan dalam bahasa Inggris. Booth-booth tourist information banyak
dijumpai di tempat-tempat strategis, dengan petugas ramah dan bisa berbahasa
Inggris dengan baik. Selain itu, di tempat-tempat yang ramai turis, petugas
dari tourist information ini berjalan berkeliling sepasang-sepasang, siap
membantu siapapun yang kebingungan. Mereka memakai pakaian dan topi berwarna
merah sehingga mencolok dan mudah dikenali. Selain bertanya, kita juga bisa
meminta peta kota, gratis dari mereka.
 |
| Hello Kitty Cafe Sinchon |
 |
| iced caffee latte |
Hari sudah menjelang sore, tapi saya
masih ingin mencari lokasi Hello Kitty Cafe. Meskipun bukan fans berat kucing
lucu itu, tapi saya penasaran ingin mencoba makanan dan minuman di kafe tersebut
yang katanya lucu-lucu dan berbentuk si Kitty. Dari berbagai informasi di
internet saya membaca bahwa kafe tersebut bisa dicapai dari 2 stasiun subway
line 2 yaitu Sinchon dan Hongik University yang memang letaknya berurutan. Dari
Myeong-dong saya berjalan menuju stasiun Euljiro 1-ga (line 2) lalu turun di
stasiun Sinchon. Mengikuti petunjuk, saya berjalan kurang lebih 500 m dan
menemukan Hello Kitty Cafe di sebuah jalan kecil. Tapi saya sangsi karena
eksteriornya berbeda dengan foto-foto yang saya lihat di internet. Penasaran,
sayapun masuk. Ternyata kafenya kecil, walaupun interiornya serba Hello Kitty
tapi berbeda dengan foto-foto yang saya lihat. Tetapi saya tetap duduk dan
memesan segelas iced caffee latte. Rasanya tidak istimewa, terlalu creamy, tapi
memang lucu dengan lukisan Hello Kitty difoamnya.
 |
| Hello Kitty Cafe Hongik University |
 |
| tiramisu dan green tea latte |
Karena masih penasaran dengan kafe
yang saya lihat di internet, saya kembali naik subway dan turun di Hongik
University. Kali ini saya sempat kesasar dan berputar-putar selama hampir
setengah jam (maklum saya tidak ahli membaca peta). Kawasan ini memang ramai, banyak
dipenuhi anak-anak muda karena banyak toko-toko fashion indie. Setelah
lagi-lagi bertanya pada petugas tourist information, akhirnya sampai juga saya
di Hello Kitty Cafe yang gambarnya sering saya lihat di internet. Kafe ini
lebih besar dari yang pertama, lebih ramai dan pernik-perniknya lebih banyak
(sayang ngga ada fridge magnet). Interiornya serba Hello Kitty sampai ke
toiletnya. Disini saya duduk agak lama untuk melepas lelah sambil menikmati
tiramisu dan green tea latte.
 |
| toilet imut di Hello Kitty Cafe |
 |
| interior serba pink dan Hello Kitty |
Kembali ke hotel, ternyata suami
saya sudah tiba lebih dulu. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami kembali
melangkahkan kaki untuk menikmati kota Seoul di waktu malam. Tujuan kami adalah
Itaewon, yang dikenal sebagai international district nya Seoul. Selain tempat
belanja, Itaewon dikenal sebagai tempat ekspatriat Seoul berkumpul, karena
banyak restoran yang menawarkan berbagai makanan dari berbagai penjuru dunia.
Satu-satunya mesjid di Seoul pun berlokasi disini, berikut berbagai restoran
halal disekitar mesjid.
Dari Jamsil kami naik subway sampai
stasiun Sindang lalu berganti line 6 dan turun di Itaewon. Lokasi mesjid agak
jauh masuk kedalam, dengan jalan yang menanjak. Di kanan-kiri jalan berjejer
berbagai toko muslim, mulai dari restoran, bakery, supermarket bahkan sampai
laundry. Sayang suami saya enggan diajak berjalan sampai ke mesjid karena hari
memang sudah gelap dan kondisi jalan cukup sepi. Padahal hanya tinggal beberapa
ratus meter saja..
 |
| Bibimbap di restoran Muree |
Kami masuk ke salah satu restoran
kecil yang bernama Muree (tapi harganya ternyata tidak mureeh J) karena selain makanan India mereka
juga menawarkan makanan Korea halal. Kesempatan baik untuk mencoba makanan khas
Korea tanpa waswas. Saya memesan seporsi bibimbap (nasi rames ala Korea)
seharga 8000 KRW. Ternyata rasanya cukup lezat dan sedikit spicy, ditemani
dengan kimchi, acar Korea yang terbuat dari sawi yang difermentasi dan tofu.
Setelah makan kami langsung kembali
ke hotel karena hari sudah malam. Karena lelah, kami memilih menumpang taksi
saja. Supir taksinya sangat ramah, walaupun tidak bisa berbahasa Inggris dia
sangat ingin berkomunikasi dengan kami. Akhirnya kami mengobrol dengan bantuan
translator di hp android miliknya J