Matahari masih bersinar terang saat kereta berhenti di
stasiun Gare du Nord, Paris, walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Udara
juga cukup hangat sehingga kami tidak perlu memakai jaket. Wah, rasanya seperti
mimpi saya bisa berada di kota yang paling populer sedunia ini.
Kali ini, kami
memilih hotel yang tidak berdekatan dengan stasiun kereta, tapi hotel disekitar
kawasan Invalides, dekat dengan Menara Eiffel yang terkenal itu. Hotel La
Bourdonnais letaknya di avenue de la Bourdonnais, hanya 15 menit berjalan kaki
menuju Menara Eiffel. Sebetulnya ada stasiun metro yang dekat dengan hotel,
Ecole Militaire, tetapi karena segan mendorong dan mengangkat-angkat koper naik
turun stasiun metro yang letaknya dibawah tanah, kami memilih naik taksi. Perjalanan
memakan waktu 20 menit menembus keramaian lalu lintas Paris disore hari.
Sepanjang perjalanan menuju hotel saya sudah dibuat kagum dengan keindahan kota
ini. Ongkos taksi sekitar 20 Euro.
| Hotel La Bourdonnais, Paris |
Hotel La Bourdonnais tidak terlalu besar,
tampak cozy dengan desain klasiknya, sesuai dengan bangunannya. Triple room
yang kami pesan terletak di lantai 5, bertarif cukup mahal 223 Euro/malam. Ruangannya
besar, dengan 2 twin bed, kamar mandi luas dengan bathtube dan shower, dan
balkon. Yang membuat saya melonjak kegirangan adalah pemandangan dari balkon
yang bisa melihat langsung kearah Menara Eiffel, walaupun yang tampak hanya
setengah bagian atasnya...Waaw..harga yang mahal jadi sepadan dengan apa yang
didapat. So far, ini adalah hotel terbaik yang kami pesan selama perjalanan di
Eropa.
Sore itu kami hanya menikmati makan malam (mie instant :) ) sambil mengagumi
puncak Menara Eiffel yang bertabur cahaya lampu. Rencana berjalan menuju Eiffel
malam hari batal karena lelah. Toh kami masih punya 2 malam lagi disini.
| Eiffel ditengah kabut dan rintik hujan |
Sayang sekali, udara hangat dan cerah yang menyambut kami
saat tiba berubah drastis ketika kami bangun dikeesokan harinya. Hujan deras
mengguyur, angin bertiup agak kencang, udara dingin menusuk kulit memaksa kami
harus mengeluarkan bekal payung dan jaket tebal. Setelah sarapan, kami berjalan
kaki menuju Menara Eiffel melalui Ecole Militaire dan Champs de Mars (taman
diantara Ecole Militaire dan Menara Eiffel yang pohonnya ditata unik berbentuk
geometris (kerucut dan persegi).
| Champs de Mars |
| antri dibawah siraman gerimis |
Rencana melakukan perjalanan dengan public transport kami batalkan
karena hujan masih terus mengguyur.
Kami memilih menggunakan hop on hop off bus
yang banyak terdapat di Paris. Kebetulan bus Les Car Rouges sudah ngetem di
dekat tempat kami berdiri. Harga tiketnya 21 Euro/orang untuk 1 hari (mulai
pukul 8.45 sampai pukul 20.00) sedangkan jika mengambil 2 hari harganya 27
Euro. Kami memilih yang 2 hari sekalian. Les Car Rouges yang berupa bus tingkat
dengan atap terbuka berkeliling ke tempat2 touristik di Paris dan berhenti di 8
perhentian: Menara Eiffel, Champs de Mars, Musee de Louvre, Notre Dame, Musee
de Orsay, Opera, Champs Elysees dan Trocadero. Didalam bus juga tersedia audio guide dalam berbagai
bahasa. Karena hari hujan, semua penumpang memilih duduk di bawah.
| Les Car Rouges |
Bus berkeliling kota dengan kecepatan sedang. Disetiap
tempat2 menarik bus berhenti sebentar, memberi kesempatan para penumpang untuk
mengambil foto. Karena hujan tidak menampakkan tanda2 akan berhenti, suami saya
malas turun dari bus. Padahal di berbagai tempat banyak turis yang cuek dengan
hujan,semuanya berpayung atau memakai jas hujan. Akhirnya kami turun di Opera,
yang berdekatan dengan Galleries Lafayette, pusat perbelanjaan terkenal. Kami
menghabiskan waktu di tempat ini.
Ternyata hujan masih saja turun, kami kembali
naik bus dan turun di Champs de Mars untuk kembali ke hotel. Aduuuh, bete
banget rasanya ada di Paris dan banyak tempat yang harus dikunjungi, tapi suami
dan anak saya malah memilih tidur siang! Menurut suami saya, lebih baik
istirahat dulu ketimbang berhujan2, padahal saya ingin masuk ke Musee de
Louvre.
Suami saya dengan santainya bilang, masih ada hari esok. Akhirnya
sementara suami dan anak saya tidur di hotel, saya berjalan-jalan sendiri
sepanjang avenue de la Bourdonnais, keluar masuk toko2 suvenir yang banyak
terdapat disekitar Eiffel yang ternyata banyak dimiliki oleh warga keturunan
India. Setelah puas barulah saya kembali ke hotel, membangunkan suami dan anak
saya dan memaksa mereka untuk jalan-jalan lagi walaupun hujan masih turun.
| Rain at Paris |
| HRC Paris |
Tujuan kami adalah mencari Hard Rock Cafe
Paris yang terletak di Blvd Montmartre. Dari hotel kami berjalan kaki menuju
stasiun metro Ecole Militaire, naik metro line 8 turun di stasiun Richelieu
Drouot. Karena salah memilih pintu keluar kami sempat tersasar, tapi tak lama
kemudian kami menemukannya. Setelah berbelanja untuk melengkapi koleksi masing2
dan berfoto, kami kembali ke hotel dengan naik metro yang sama.
Alhamdulillah, esok harinya hujan sudah tidak turun, walaupun
masih sedikit mendung dan udara masih dingin. Hari ini cukup banyak tempat yang
ingin kami kunjungi, yaitu Musee de Louvre, Notre Dame, Arc de Triomphe dan
terakhir Disneyland. Waktu kunjungan ke Disneyland + La Valee factory outlet
yang sudah kami rencanakan untuk hari ini terpaksa dikurangi. Kami kembali naik
bus Les Car Rouges dari seberang Menara Eiffel. Tujuan pertama adalah Musee de
Louvre. Sayang beribu sayang, museum yang terkenal dengan koleksinya, lukisan
Monalisa karya Leonardo da Vinci ini ternyata tutup di hari selasa! Wah
menyesaal sekali kenapa kemarin ‘membuang-buang’ waktu yang berharga dengan
tidur siang! Akhirnya kami harus puas dengan mengambil foto di halaman museum
yang sangat luas, di depan piramida kacanya yang terkenal. Juga di depan Arc de
Triomphe du Carroussel yang menjadi pintu masuk Jardin de Tuilleries (Taman
Tuilleries) disebelah museum. Satu catatan penting, kita harus berhati2 karena
banyak penipu dan copet berkeliaran disini. Anak2 muda berwajah imigran yang
menyaru sebagai penyandang cacat bisu-tuli memaksa turis memberikan sumbangan,
juga pedagang2 suvenir asongan yang
kadang menipu dan memaksa pembeli.
Dari sini kami melanjutkan perjalanan menuju Notre Dame.
Gereja katolik bergaya gothic ini juga ramai menjadi jujugan para turis. Banyak
yang antri masuk untuk sekadar berdoa sejenak atau melihat interior di dalam
gereja. Plaza di depan gereja saat itu tengah ramai petugas kebersihan, setelah
sebelumnya dipakai untuk suatu kegiatan, sehingga terasa agak mengganggu. Jalan
disamping gereja juga dipenuhi deretan toko suvenir yang lagi2 dimiliki oleh
warga keturunan India.
| Notre Dame |
Dari Notre Dame perjalanan berlanjut menuju Arc de Triomphe,
monumen terkenal yang dibangun sebaai penghormatan kepada mereka yang gugur
saat revolusi Perancis, yang terletak diujung jalan yang sangat terkenal,
avenue Champs Elysees, jalan lebar yang kanan kirinya dipenuhi oleh toko2 dari
merek2 premium. Sebenarnya ingin juga berjalan kaki menyusuri Champs Elysees,
tetapi niat ini diurungkan karena ternyata jalannya panjang sekali, sementara
waktu kami terbatas. Akhirnya kami hanya
berfoto dan melihat Arc de Triomphe saja dari dekat. Antrian untuk naik ke
puncak Arc de Triomphe pun sangat panjang.
Dari stasiun Charles de Gaule Etoile yang terletak di dekat
Arc de Triomphe kami menaiki kereta RER A menuju stasiun Marnee le Valee,
tempat Disneyland Paris berada.
Perjalanan menempuh waktu cukup lama, hampir 1
jam lamanya. Terjadi kesalah pahaman disini. Saya bilang pada suami saya,
kelihatannya tiket kereta RER berbeda dengan tiket metro, dan harganya pun
lebih mahal. Tetapi di bagian informasi stasiun tidak tampak ada petugas,
sementara orang2 yang lalu lalang cukup sulit untuk ditanyai, terutama karena
mereka enggan diganggu atau tidak mau berbahasa Inggris. Akhirnya kami
menggunakan tiket metro untuk naik kereta RER. Sampai di stasiun Marnee La
Valee, tiket kami tidak bisa digunakan untuk keluar dari stasiun. Kamipun
didekati petugas yang menerangkan bahwa kami menggunakan tiket yang salah.
Dengan sangat terpaksa, kami merelakan uang 50 Euro melayang sebagai
denda..hiks hiks.. L
Ternyata, harga tiket RER A dari Disneyland menuju kota adalah 14 Euro, berbeda
jauh dengan harga tiket metro yang sekitar 1,2 Euro...terang saja akhirnya kami
didenda!
| Arc de Triomphe |
Karena hari sudah menjelang sore, rencana untuk mengunjungi
La Valee shopping outlet terpaksa dibatalkan (:'()
dan kunjungan ke Disneyland pun harus memilih salah satu taman saja: Walt
Disney Park atau Disneyland Park. Kami memilih Walt Disney Park karena wahananya
lebih ditujukan untuk anak2 besar dan remaja. Harga tiket untuk 1 taman adalah
61 Euro/orang, jika mengunjungi 2 taman harga tiketnya 83 Euro/orang. Selain
kedua taman tersebut ada pula Disney Village, dengan pertunjukan dan restauran
ala Disney. Cukup banyak pula wahana yang menarik di Walt Disney Studio,
diantaranya Playland dengan tema Toy Story, Cars, juga the Art of Animation, tempat
kita melihat bagaimana membuat kartun Disney, Stitch Live!, interaktif show bersama
Stitch yang kocak dan Cinemagique, yang berupa campuran potongan2 film dan
adegan drama live yang disambung2 menjadi sebuah cerita menarik.
Malam harinya
ditutup dengan Disney Parade, yaitu parade karakter2 kartun disney seperti dari
yang klasik seperti Donald dan Daissy Duck, Goofy, Mickey dan Minnie Mouse,
sampai ke tokoh2 baru seperti Aladin dan Putri Jasmine, Mulan, Pocahontas, Lilo
and Stitch, Remy, si tikus pandai masak dari film Ratatouille, Suley dan Mike
dari Monster Inc, Woody dan Buzz
Lightyear dari Toy Story dan lain2. Wow sangat meriah!
| Disney Parade |
Kami pulang bersamaan dengan tutupnya Walt Disney Studio.
Sayang sekali kami kekurangan waktu. 2 hari tidak cukup untuk menikmati Paris
yang indah dan menawarkan banyak sekali tempat yang harus dikunjungi. Lain
kali, saya harus kembali lagi kesini! *mudah2an doa saya dikabulkan Allah,
aamiin...*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar